Kesalahan Serius SPPG Pantai Batung HST Kalsel Dihentikan Sementara, Viral di Media Sosial

Editormyu 17 1
Editormyu 17 1

Penutupan Sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Pantai Batung

Penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pantai Batung, Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) menjadi perhatian masyarakat setelah viralnya berita mengenai menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga tidak layak konsumsi. Keputusan ini diambil oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai langkah untuk memastikan keamanan pangan dan menjaga kesehatan para penerima manfaat.

Keputusan tersebut tertuang dalam surat bernomor 605/D.TWS/02/2026 tanggal 26 Februari 2026. Dalam surat tersebut, BGN menyatakan bahwa penghentian operasional dilakukan berdasarkan laporan pengaduan dari Koordinator Regional dan Kepala SPPG, hasil investigasi singkat di lapangan, serta pertimbangan pimpinan terkait dugaan Kejadian Menonjol (KM).

Ditemukan di lapangan, makanan MBG yang didistribusikan memiliki kondisi yang tidak layak dikonsumsi, seperti buah jeruk yang benyek dan kentang yang berlendir. Temuan ini telah menjadi pemberitaan viral di media sosial. Sebagai respons atas hal tersebut, BGN menegaskan bahwa penghentian sementara dilakukan untuk kepentingan evaluasi dan pembenahan standar keamanan pangan.

Operasional SPPG yang terdampak baru dapat kembali berjalan setelah dinyatakan memenuhi ketentuan yang berlaku dan mendapat persetujuan dari pihak berwenang. Surat edaran yang menjadi dasar penghentian ini merujuk pada Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2025 tanggal 29 September 2025 tentang Percepatan Pengelolaan Keamanan Pangan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.

SPPG yang dihentikan ini merupakan satu dari 12 unit dapur SPPG yang telah beroperasi selama kurang lebih 11 bulan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Selama ini, unit-unit dapur tersebut melayani penyaluran program MBG bagi para penerima manfaat di sejumlah wilayah.

Terkait beredarnya surat tersebut, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG HST, Sadilah, saat dikonfirmasi, membenarkan adanya penghentian operasional SPPG Pantai Batung. “Monitor. Benar itu Om,” ujarnya singkat.

Tips Aman Mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG)

Untuk meminimalkan risiko keracunan akibat makanan tidak layak, berikut beberapa tips aman dalam mengonsumsi MBG:

  • Lihat, Cium, Sentuh, Cicip: Metode ini membantu memastikan makanan layak dikonsumsi.
  • Periksa Kondisi Fisik (Uji Organoleptik): Pastikan makanan segar, tidak berubah warna, dan tidak berjamur.
  • Cium Aroma: Pastikan aroma khas bahan makanan asli dan tidak menyengat atau asam.
  • Sentuh Tekstur: Hindari makanan yang teksturnya licin atau berair karena menandakan adanya mikroba.
  • Pengecekan Waktu: Pastikan makanan dikonsumsi maksimal 6 jam setelah dimasak.
  • Pemisahan Kemasan (Food Tray): Lauk panas harus dipisah dari sayur/buah dingin agar tidak cepat basi.
  • Kebersihan Diri: Cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah menyantap makanan.
  • Cicipi Sedikit: Sebelum dimakan seluruhnya, cicipi sedikit untuk memastikan rasa tidak aneh atau pahit.

Jika menemukan makanan yang sudah berlendir, berbau tidak sedap, atau rasanya tidak layak, segera laporkan ke tim pengawas pangan sekolah dan jangan dikonsumsi.

Penyebab Keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG)

Keracunan makanan pada program Santap Makan Bergizi Gratis (MBG) umumnya disebabkan oleh kontaminasi bakteri (seperti Salmonella, E. coli, Bacillus cereus) akibat higienitas buruk, pengolahan makanan terlalu dini (basi), suhu penyimpanan yang tidak tepat (zona bahaya 4°C-60°C), serta distribusi yang terlalu lama.

Selain itu, faktor pendukung lainnya adalah bahan baku tidak segar, penggunaan wadah tidak standar, hingga kurangnya pengawasan dan sertifikasi dapur.

Berikut adalah penyebab keracunan MBG secara lebih terperinci:

  • Proses Masak dan Penyimpanan (Higienitas): Makanan sering dimasak terlalu dini dan dibungkus saat masih panas, menciptakan uap air yang mempercepat pertumbuhan bakteri.
  • Pengemasan ulang tanpa pemanasan ulang: Memicu risiko basi.
  • Waktu Distribusi: Jarak waktu yang terlalu lama antara makanan dimasak hingga dikonsumsi (seringkali lebih dari 4 jam) memungkinkan kuman berkembang biak.
  • Kualitas Bahan Baku: Penggunaan bahan baku yang kurang segar (seperti ayam/sayur yang sudah tidak layak) atau bahan baku yang dibeli terlalu lama sebelum diolah (misal H-4) meningkatkan risiko kontaminasi.
  • Kurangnya Pengawasan (Dapur): Banyak dapur (SPPG) yang belum tersertifikasi laik higiene sanitasi, mengakibatkan standar kebersihan tidak terjaga.
  • Kontaminasi Wadah: Penggunaan wadah makanan yang tidak sesuai (food grade) atau kurang bersih bisa melepaskan logam berat saat bereaksi dengan panas atau asam makanan.

Upaya pencegahan memerlukan standar ketat mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga penyajian langsung (hangat) untuk memastikan keamanan makanan bagi siswa.

Pos terkait