Ketegangan Iran-AS-Israel dorong volatilitas pasar Asia dan IHSG

Aa1vegcd 1
Aa1vegcd 1



JAKARTA – Pada Senin (2/3/2026) pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan yang sejalan dengan pelemahan bursa di kawasan Asia. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. IHSG dibuka melemah sebesar 23,95 poin atau 0,29 persen ke posisi 8.211,31. Sementara itu, indeks LQ45, yang terdiri dari 45 saham unggulan, turun sebesar 2,99 poin atau 0,36 persen menjadi 834,90.

Menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, para pelaku pasar disarankan untuk mengurangi posisi portofolio sementara waktu dan lebih banyak bersikap wait and see. Hal ini dilakukan karena risiko geopolitik menjadi faktor utama dalam pergerakan pasar pada minggu ini.

Liza menilai bahwa sektor energi dan logam mulia menjadi sektor defensif utama, sedangkan ekuitas global dan aset berisiko menghadapi volatilitas tinggi. Ia menyoroti beberapa faktor penting yang harus diperhatikan investor, seperti durasi konflik, tingkat eskalasi, stabilitas Selat Hormuz, serta arah harga minyak yang diperkirakan akan berada di atas 90-100 dolar AS per barrel.

Dari sudut pandang historis, Liza menyebutkan bahwa pasar Indonesia, yang bersifat commodity-driven, sejatinya diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas secara global. Hal ini mirip dengan situasi pada Perang Rusia dan Ukraina tahun 2022, di mana kenaikan harga komoditas memberikan dampak positif bagi pasar Indonesia.

Di kawasan Asia, bursa negara-negara tersebut mengalami pelemahan. Bahkan, Bursa Kuwait sempat menghentikan perdagangan sementara, sementara Uni Emirat Arab (UEA) menutup pasar sahamnya pada Senin dan Selasa sebagai respons terhadap serangan Iran.

Di Eropa, Uni Eropa menyerukan maximum restraint, perlindungan warga sipil, serta penghormatan terhadap hukum internasional. Meskipun demikian, terdapat perbedaan pandangan di dalam blok tersebut, dan pengaruh Eropa terhadap konflik dinilai terbatas.

Pelaku pasar juga menantikan rilis data ekonomi dalam negeri, yaitu inflasi periode Februari 2026 dan neraca perdagangan periode Januari 2026. Data ini diperkirakan akan menunjukkan surplus yang meningkat ke angka 2,76 miliar, serta pertumbuhan impor dan ekspor yang terlihat.

Di kawasan AS, Wall Street mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat (27/02). Beberapa indeks seperti Dow Jones turun 1,05 persen ke level 48.977,92, S&P 500 terkoreksi 0,43 persen ke 6.878,88, dan Nasdaq melemah 0,92 persen ke 22.668,21.

Sementara itu, bursa saham regional Asia pagi ini juga mengalami penurunan. Contohnya, indeks Nikkei turun 908,90 poin atau 1,54 persen ke 57.941,39, indeks Shanghai melemah 19,35 poin atau 0,47 persen ke 4.143,52, indeks Hang Seng turun 698,67 poin atau 2,62 persen ke 25.931,85, indeks Kuala Lumpur melemah 15,02 poin atau 0,87 persen ke 1.701,59, dan indeks Strait Times turun 101,54 poin atau 2,03 persen ke 4893,52.

Pos terkait