Ketenangan di Pusat Kota Amman Jelang Serangan AS-Israel ke Iran

Aa1xj0fi 2
Aa1xj0fi 2

Posisi Strategis Yordania dalam Konflik Timur Tengah

Yordania sering kali menjadi wilayah yang terlibat dalam konflik antara Iran dan Israel. Jet tempur hingga sistem rudal pertahanan udara sering kali bergerak untuk menangkal pesawat nir awak atau drone bunuh diri serta rudal balistik Iran yang melaju cepat menuju wilayah pendudukan Israel. Wilayah Yordania memang berada di tengah kawasan yang rawan konflik, dengan batas yang mengelilingi negara-negara yang memiliki sejarah perang panjang.

Di sebelah utara, Yordania berbatasan dengan Suriah yang telah terlibat dalam konflik sejak Revolusi Arab pada 2011. Di barat, Yordania berbatasan dengan wilayah Palestina yang diduduki Israel, sedangkan di timur terdapat Irak dan di selatan berbatasan dengan Arab Saudi. Hampir semua negara yang berbatasan langsung dengan Yordania memiliki sejarah perang yang rumit dan berdarah-darah, menjadikan posisi Yordania cukup pelik.

Yordania dikenal sebagai ‘sekutu’ dekat AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Pada tahun 2025, saat konflik antara Iran dan Israel meletus, militer Yordania aktif dalam mencegat rudal-rudal Iran yang menuju wilayah Palestina yang diduduki Israel. Hal ini juga terjadi dalam konflik terbaru ketika AS dan Israel melakukan serangan ke Iran, yang menyebabkan kematian Ayatollah Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan menembakkan rudal dan drone ke Israel, dan militer Yordania ikut mengintercept rudal tersebut yang melewati wilayah udaranya.

Meski terancam serangan balasan dari Iran, suasana Ibu Kota Yordania, Amman, relatif terkendali hingga sehari sebelum perang pecah. Raja Abdullah II sempat menjamu Presiden Prabowo Subianto yang berkunjung ke Yordania pada tanggal 25 Februari 2026.

Suasana Tenang Kota Amman

Udara pagi di Kota Amman pada akhir Februari masih terasa dingin menggigit, dengan suhu belasan derajat Celsius pada siang hari dan turun mendekati satu digit ketika malam tiba. Di tengah hawa yang menusuk tulang itu, denyut kehidupan berjalan lebih lambat—lebih khusyuk.

Jalanan ibu kota Kerajaan Yordania Hasyimiah tampak lengang pada pagi hari. Aktivitas perkantoran dan sekolah umumnya baru dimulai sekitar pukul 09.00 Waktu Setempat (WS). Kompleks sekolah dan kantor yang saling berdekatan membuat kawasan tertentu mendadak hidup bersamaan. Anak-anak tampak berlarian sambil tertawa, memecah sunyi pagi yang masih diselimuti embusan angin dingin dari perbukitan Amman.

Ramadan di kota ini bukan sekadar peristiwa spiritual, melainkan ritme sosial yang mengubah pola aktivitas publik. Pada siang hari, hampir tak terlihat warga makan atau minum di ruang terbuka. Kepatuhan terhadap norma kolektif begitu terasa. Bahkan, berdasarkan ketentuan yang berlaku, mereka yang kedapatan makan atau minum di ruang publik tanpa alasan yang dibenarkan dapat dikenai denda sekitar 15 dinar Yordania atau sanksi hukum lainnya. Aturan itu menjadi refleksi kuatnya penghormatan sosial terhadap bulan suci.

Namun, ketegasan tersebut berjalan beriringan dengan toleransi. Warga non-Muslim tetap dapat beraktivitas seperti biasa di ruang privat. Restoran tertentu melayani mereka secara tertutup. Kehidupan berlangsung dalam keseimbangan antara penghormatan dan kebersamaan.

Suasana Hangat Menjelang Maghrib

Memasuki sore hari, lanskap Amman berubah. Lalu lintas mulai padat menjelang waktu berbuka puasa. Pusat kota dan kawasan permukiman dipenuhi kendaraan yang bergegas pulang. Aroma roti hangat, nasi mandi, dan sup lentil menyeruak dari dapur-dapur rumah dan gerai makanan.

Di banyak sudut kota, warga berbagi kurma dan air mineral kepada pengendara atau pejalan kaki yang masih berada di jalan saat azan maghrib berkumandang. Tradisi berbagi itu menjadi pemandangan lazim—sebuah ekspresi solidaritas yang menguat pada bulan suci.

Masjid-masjid pun penuh saat salat tarawih. Jamaah meluber hingga ke pelataran. Lampu-lampu hias Ramadan menghiasi jalan utama dan pusat perbelanjaan. Keluarga-keluarga berjalan santai selepas ibadah malam, anak-anak kembali bermain, dan kedai kopi tradisional dipadati warga yang bercengkerama hingga larut.

Sekitar 95% penduduk Yordania merupakan Muslim Sunni. Dengan lebih dari 2,4 juta pengungsi Palestina yang tinggal di negara ini—termasuk di 13 kamp pengungsian—Ramadan memiliki makna sosial yang lebih dalam. Ia bukan hanya bulan ibadah, melainkan juga momentum mempererat solidaritas, terutama dalam konteks isu Palestina yang secara geografis dan historis begitu dekat dengan Yordania.

Hangatnya Diplomasi di Bulan Suci

Suasana damai Ramadan di Amman juga menjadi latar bagi pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan Raja Abdullah II bin Al-Hussein di Istana Basman pada 25 Februari 2026. Dalam sambutannya, Raja Abdullah II menyapa dengan hangat, “Ramadan Mubarak, saudaraku tersayang. Dan saya senang Anda kembali ke negara Anda ini lagi,” ucapnya kepada Prabowo.

Pilihan kata tersebut menegaskan kedekatan personal yang telah terjalin sejak keduanya sama-sama menempuh pendidikan militer di Fort Benning, Amerika Serikat, pada era 1980–1990-an. Prabowo pun menyebut Amman sebagai rumah kedua, menandai relasi yang melampaui protokol diplomatik.

Pertemuan tersebut membahas situasi Gaza, Tepi Barat, dan komitmen terhadap solusi dua negara. “Indonesia berkomitmen untuk melakukan apa pun yang kami bisa demi solusi yang langgeng,” ujar Prabowo dalam pertemuan bilateral itu.

Kehangatan Ramadan terasa menyatu dengan percakapan mengenai perdamaian. Diplomasi berlangsung dalam suasana yang humanis—di tengah kota yang menjalani ibadah dengan khusyuk.

Sehari Menjelang Eskalasi

Potret damai itu menjadi kontras ketika sehari berselang, kawasan Timur Tengah kembali diguncang eskalasi menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Ketegangan geopolitik yang meningkat memicu kekhawatiran terhadap stabilitas regional.

Namun pada hari-hari sebelumnya, Amman menunjukkan wajah berbeda: kota yang hidup dalam disiplin spiritual, solidaritas sosial, dan kehangatan persaudaraan. Dari pagi yang dingin dengan anak-anak sekolah berlarian, hingga malam yang hangat oleh doa dan kebersamaan, Ramadan di Amman merekam ironi kawasan—di satu sisi sarat harapan damai, di sisi lain dibayangi gejolak.

Di bawah cahaya lampu dan gema doa tarawih, kehidupan tetap berjalan. Warga berbagi makanan menjelang azan, masjid-masjid penuh oleh jamaah, dan kota tua di perbukitan itu mengajarkan satu hal: bahkan di tengah ketidakpastian geopolitik, tradisi, iman, dan solidaritas sosial tetap menjadi jangkar ketenangan.

Pos terkait