Keterbatasan Tenaga Terampil Jadi Penghalang Cirebon Bertransformasi ke Teknologi

Aa1wqhzz
Aa1wqhzz

Keterbatasan SDM Menjadi Tantangan Utama Kabupaten Cirebon

Kabupaten Cirebon saat ini menghadapi tantangan besar dalam proses transformasi ekonomi. Salah satu hambatan utama adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang terampil. Hal ini menjadi penghalang bagi daerah untuk beralih dari sektor industri padat karya berupah rendah ke industri bernilai tambah tinggi.

Bupati Cirebon, Imron Rosyadi, menekankan bahwa peningkatan kualitas tenaga kerja menjadi prioritas mendesak jika daerah ingin menarik investasi skala besar yang berbasis teknologi dan padat modal. Menurutnya, struktur industri di Cirebon masih didominasi oleh sektor seperti garmen, furnitur, dan kerajinan rotan. Meskipun sektor-sektor ini mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal, mereka relatif rentan terhadap gejolak pasar dan tekanan global.

“Jika kita ingin naik kelas, maka SDM harus disiapkan. Investor yang membawa teknologi dan modal besar tentu membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus, bukan hanya tenaga kerja umum,” ujar Imron, Sabtu (21/2/2026).

Dampak Ketergantungan pada Industri Padat Karya

Imron mengakui bahwa industri padat karya telah membantu menekan angka pengangguran dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Namun, ketergantungan berlebihan pada sektor tersebut berisiko menghambat transformasi ekonomi daerah. Industri padat karya cenderung memiliki margin keuntungan yang tipis dan sensitif terhadap fluktuasi permintaan. Ketika pasar melemah, gelombang pengurangan tenaga kerja sering kali tak terhindarkan, sehingga membuat stabilitas ekonomi daerah menjadi rapuh.

“Padat karya penting, tetapi kita tidak boleh berhenti di situ. Kita harus mulai mendorong industri yang berbasis teknologi dan inovasi,” katanya.

Persiapan Tenaga Kerja untuk Industri Modern

Menurut Bupati, sejumlah calon investor yang melakukan penjajakan di Cirebon umumnya menanyakan kesiapan tenaga kerja lokal, khususnya untuk posisi teknisi, operator mesin modern, hingga tenaga ahli di bidang manufaktur. Imron menyoroti fakta bahwa sebagian besar tenaga kerja di Kabupaten Cirebon masih didominasi lulusan pendidikan menengah. Untuk memenuhi kebutuhan industri modern, dibutuhkan kompetensi tambahan seperti penguasaan mesin otomatis, literasi digital, hingga pemahaman sistem produksi berbasis teknologi.

Pemerintah daerah, kata Imron, telah berupaya memperkuat sinergi dengan sekolah kejuruan dan balai latihan kerja. Kurikulum vokasi diarahkan agar selaras dengan kebutuhan industri yang berkembang. Ia juga menekankan pentingnya membangun mentalitas kerja yang adaptif terhadap perubahan teknologi.

Sinergi Antara Pendidikan dan Industri

Imron menyebut, transformasi ekonomi tidak bisa dilepaskan dari dukungan infrastruktur dan kepastian regulasi. Pemerintah Kabupaten Cirebon berkomitmen memperbaiki tata kelola perizinan serta menyiapkan kawasan industri yang lebih terintegrasi. Dia berharap, dengan perbaikan kualitas SDM dan infrastruktur, Cirebon dapat menarik investasi yang tidak hanya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi lebih tinggi bagi daerah.

“Kita ingin investasi yang berkelanjutan, yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar menciptakan pekerjaan berupah rendah,” tegasnya.

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Imron optimistis, dengan strategi peningkatan kualitas tenaga kerja yang konsisten, Cirebon berpeluang keluar dari ketergantungan pada industri murah. Namun, dia mengingatkan, proses tersebut membutuhkan waktu, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen jangka panjang. “Transformasi ekonomi tidak instan, tapi kalau kita tidak mulai dari sekarang, kita akan terus tertinggal,” pungkasnya.

Pos terkait