Ketidakpastian Penerbangan Umrah Akibat Konflik AS-Iran Mengkhawatirkan Jemaah Samarinda

97456590 041078281 1
97456590 041078281 1

Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah Memicu Kekacauan Penerbangan dan Kekhawatiran Jemaah Umrah

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah akibat serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran telah mengganggu ribuan penerbangan, memicu kekhawatiran bagi jemaah umrah, termasuk warga Samarinda yang berpotensi tertunda. Peristiwa ini juga menimbulkan ketidakpastian dalam perjalanan dan pengelolaan ibadah umrah.

Warga Samarinda Khawatir Terkait Jadwal Keberangkatan Umrah

Salah satu warga Samarinda, Nuraini Dau, yang telah memiliki jadwal keberangkatan umrah setelah Lebaran, mengakui bahwa hingga saat ini belum ada kepastian final terkait keberangkatannya. Ia memilih untuk menunggu informasi lebih lanjut dari biro perjalanan yang menaunginya.

“Saya berjadwal berangkat umrah Insya Allah habis lebaran. Memang dapat jadwal setelah lebaran. Insya Allah kalau tidak ada perubahan tanggal 25,” ujarnya pada Tribun Kaltim, Minggu (1/3/2026).

Nuraini mengatakan bahwa situasi ini membutuhkan persiapan mental, termasuk kemungkinan terburuk jika situasi keamanan semakin memburuk. Ia juga menyatakan akan menyerahkan sepenuhnya pada kebijakan maskapai dan travel terkait pengembalian dana.

“Misalnya batal tapi ada pengembalian 100 persen. Dan barangkali betul-betul memang gak bisa itu dikembalikan 100 persen,” ucapnya.

Di balik ketidakpastian tersebut, ia tetap berharap keberangkatannya tidak terdampak konflik. “Berharapnya gak ditunda. Takut juga kalau sampai perang. Tapi saya liat tergantung dimana transitnya. Saya soalnya mantau terus info-info itu,” pungkasnya.

Pemerintah Imbau Penundaan Keberangkatan Umrah

Pemerintah mengimbau jemaah untuk menunda keberangkatan umrah hingga kondisi kembali kondusif usai serangan yang dilakukan AS-Israel ke Iran pada Sabtu (28/1/2026). Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan, imbauan itu disampaikan sebagai upaya memastikan keamanan seluruh warga negara Indonesia.

“Mempertimbangkan kondisi Timur Tengah yang tidak menentu dan eskalasinya semakin tinggi, kami mengimbau jemaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya,” kata Dahnil dalam keterangan tertulis, Minggu (1/3/2026).

Pemerintah juga meminta seluruh jemaah yang saat ini berada di Arab Saudi beserta keluarga di Tanah Air agar tetap tenang dan tidak panik. Kementerian Haji dan Umrah RI bersama Kementerian Luar Negeri RI terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi, maskapai penerbangan, serta Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) guna memastikan jemaah yang mengalami penundaan kepulangan dapat tertangani dengan baik.

“Kami terus berkoordinasi dengan pihak Arab Saudi, maskapai, dan PPIU agar jemaah yang tertunda kepulangannya dapat ditampung di hotel maupun tempat-tempat lain yang aman dan layak,” kata Dahnil.

Ribuan Penerbangan Di Seluruh Timur Tengah Dibatalkan

Ribuan penerbangan di seluruh Timur Tengah dan kawasan Teluk dibatalkan pada Sabtu (28/2/2026) dan Minggu (1/3/2026), setelah sejumlah negara menutup wilayah udaranya menyusul serangan AS dan Israel terhadap Iran. Mengutip EuroNews, Bahrain, Iran, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) termasuk di antara negara-negara yang mengumumkan penutupan sebagian wilayah udara mereka.

Kondisi tersebut menyebabkan penangguhan, pembatalan, serta pengalihan penerbangan, sehingga puluhan ribu penumpang terlantar di berbagai belahan dunia. Konflik ini juga memicu penutupan bandara-bandara utama di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha, serta pembatalan lebih dari 1.800 penerbangan oleh maskapai-maskapai besar di Timur Tengah, menurut perusahaan analisis penerbangan Cirium.

Dari sekitar 4.218 penerbangan yang dijadwalkan mendarat di negara-negara Timur Tengah pada Sabtu, sebanyak 966 penerbangan atau sekitar 22,9 persen dibatalkan. Untuk Minggu, sebanyak 716 dari 4.329 penerbangan yang dijadwalkan menuju Timur Tengah telah dibatalkan.

Kenaikan Harga Minyak Berpotensi Memicu Kenaikan BBM di Indonesia

Eskalasi perang Iran dan Israel berpotensi mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia yang sebelumnya berada di kisaran 67 dollar AS per barel kini telah menembus level 80 dollar AS per barel. Jika konflik meluas dan Selat Hormuz sampai ditutup, harga minyak bahkan berpotensi melesat hingga 100 dollar AS per barel.

Dampaknya, Indonesia sebagai negara pengimpor bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah besar harus bersiap menghadapi tekanan fiskal serta potensi kenaikan harga BBM. Pengamat energi dan ekonom Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, mengatakan lonjakan harga minyak sudah terlihat sejak serangan pertama dalam konflik di Timur Tengah.

Bila eskalasi perang semakin luas, situasi berpotensi makin memburuk. “Yang jelas serangan pertama itu sudah menaikkan harga minyak. Kalau eskalasi perang meluas, itu pasti akan memicu kenaikan lebih tinggi lagi, bahkan bisa mendekati 100 dollar AS per barel,” ujar Fahmy saat dihubungi Kompas.com, Minggu (1/3).




Pos terkait