Ketika Hati Nurani Menjadi Petunjuk

Aa1xea83
Aa1xea83

Peran dan Fungsi Jasmani, Akal, dan Hati dalam Kehidupan Manusia

Manusia sering dianggap sebagai makhluk unik karena memiliki tiga unsur utama: jasmani beserta pancaindra, akal, dan hati (unsur rohani). Ketiga unsur ini membedakan manusia dari makhluk lainnya. Dengan modal tersebut, manusia tidak hanya dinilai sebagai puncak ciptaan, tetapi juga dijadikan sebagai “khalifah” di muka bumi oleh Sang Maha Pencipta.

Kata “khalīfah” secara bahasa berarti pengganti, wakil, atau penerus. Secara hakiki, kata ini merujuk pada manusia yang diutus untuk memakmurkan bumi, menegakkan keadilan, serta menjaga alam dari kerusakan. Namun, menjadi khalifah bukanlah satu-satunya tujuan penciptaan manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Dengan demikian, ketika manusia menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi, ia sejatinya mengintegrasikan nilai-nilai Ketuhanan melalui ibadah yang dilakoninya. Inilah sebabnya manusia dianggap sebagai puncak daripada ciptaan Tuhan, suatu peran yang tak dimiliki makhluk lainnya.

Unsur-unsur Manusia

Jika jasmani merupakan unsur yang nyata atau terlihat, akal dan hati justru bersifat rohaniah. Akal dan hati bukan berupa bongkah daging, tetapi merupakan potensi kemampuan berfikir dan merasa. Di antara ketiga unsur tersebut, hati boleh dikata merupakan inti dari eksistensi seseorang.

Agar ketiga unsur tersebut dapat berfungsi dengan baik, tentulah diperlukan maintenance (perawatan). Caranya pun berbeda-beda. Jika potensi berupa jasmani, maka perlu asupan makanan bergizi, istirahat, olahraga, dan kebersihan. Begitu pula dengan akal dan hati, yang perlu dioptimalkan dan disucikan agar fitrahnya terjaga.

Dalam dunia filsafat pendidikan Islam, terdapat beberapa disiplin ilmu terkait ketiga unsur manusia ini, seperti ilmu fikih, filsafat Islam (terutama ilmu mantiq/logika), serta tasawwuf. Ilmu fikih berkaitan dengan urusan jasmaniah, seperti bab thaharah yang membahas tentang bersuci. Filsafat atau ilmu mantiq berkaitan dengan olahfikir atau akal, sedangkan tasawwuf bersinggungan dengan masalah olahrasa atau batin (hati).

Peran Jasmani, Akal, dan Hati

Dalam menjalankan perannya, jasmani, akal, dan hati saling kait-mengait. Jasmani dan panca indera bertindak atas dasar logika akal dan niat hati. Begitu pula akal, yang sering merujuk pada kehendak hati dalam berfikir. Sementara hati, sebagai pusat rujukan bagi jasmani dan akal, bukan sekadar penentu di ruang pusat komando, melainkan wajah bagi diri manusia itu sendiri.

Karenanya, agar hati dapat memberi keselamatan bagi diri manusia maupun alam semesta, hati harus mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian, orang tersebut akan menjadi pribadi yang utuh: sebagai khalîfah di muka bumi sekaligus sebagai ‘abid (beribadah kepada Tuhannya).

Ibarat barang elektronik yang digunakan terus-menerus namun tak pernah mendapatkan maintenance, hati dan diri manusia pun akan mengalami gangguan atau kerusakan. Itulah sebabnya masih ada saja manusia yang menjadi “srigala” bagi sesama manusia, karena hati yang jarang atau bahkan tidak pernah mendekatkan diri kepada Penciptanya.

Seluk-beluk Hati

Sebagai inti, tidak ada sesuatu yang lebih bernilai dari diri seseorang selain dari bercahayanya hati. Jika hati dirawat dengan konsisten mengingat Allah (dzikrullāh), cahayanya akan terpantul dalam perilaku akhlak mulia. Perumpamaan hati digambarkan laksana sebuah istana yang terletak dalam rongga dada Bani Adam, yang merupakan miniaturnya alam semesta yang maha luas.

Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah Ta’ala berfirman: “Telah Kubuat dalam rongga Bani Adam sebuah Istana, dalam Istana itu ada Shadr, dan dalam Shadr ada Qolbu, dalam Qolbu ada Fu’ād, dalam Fu’ād ada Shāghāf, dan dalam Shāghāf ada Lubb, dan dalam Lubb ada Sirr, dan dalam Sirr ada Aku”.

Gambaran seluk-beluk hati dapat diilustrasikan sebagai berikut:
* Di luar istana disebut Shadr (dada, tempatnya cahaya al-Islam).
* Di dalam Shadr ada Qolbu (hati, tempatnya cahaya al-Iman).
* Di dalam Qolbu ada Fu’ād (hati-lebih-dalam, tempatnya cahaya al-ma’rifat).
* Di dalam Fu’ād ada Shāghāf (cahaya cinta manusia kepada sesama makhluk).
* Di dalam Shāghāf ada Lubb (inti-hati-terdalam, tempatnya cahaya al-Tauhid).
* Di dalam Lubb terdapat suatu tempat paling rahasia yang disebut dengan Sirr.
* Di sinilah sesungguhnya tersembunyi rahasia daripada Allah Ta’āla.

Syaikh Nuruddin Ar-Raniri menjelaskan bahwa Nabi pernah ditanya oleh seorang sahabat: “Allah itu dimana? Di bumi atau di langit?” Maka jawab Nabi s.a.w: “Dalam hati hambaNya yang mu’min”. Dengan demikian, hati nurani (Arab: Nūr, cahaya) merupakan salah satu ikhtiar melihat Tuhan dari jarak dekat.

Semakin seseorang kembali kepada hati nuraninya, semakin terang lentera Kebenaran itu terihat. Istafthi qalbak, mintalah fatwa pada hatimu, kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan hati dan keburukan adalah sesuatu yang menggelisahkan hati. Wallāhu a’lam.

Pos terkait