Teror yang Menghiasi Kehidupan Ketua BEM UGM
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, dan keluarganya terus menghadapi serangkaian ancaman dan teror. Kejadian ini tidak hanya memengaruhi dirinya sendiri, tetapi juga orangtuanya serta rekan-rekannya di kampus. Namun, Tiyo tidak lagi merasa takut dengan ancaman-ancaman tersebut. Baginya, hal ini adalah bagian dari risiko yang harus dihadapi ketika berani menyampaikan kritik terhadap penguasa.
Dalam wawancara dengan Pemimpin Redaksi Tribun Jateng Ibnu Taufik Juwariyanto, Tiyo menjelaskan secara rinci semua rangkaian teror yang ia dan keluarganya alami. Ia mengatakan bahwa ancaman-ancaman ini datang setelah ia lantang menyampaikan kritik terhadap pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto.
Jenis-Jenis Teror yang Diterima
Beberapa waktu lalu, ibunya menerima tiga jenis teror melalui pesan teks di ponselnya. Pertama, ada pesan dari nomor tak dikenal yang menyebutkan bahwa sebuah organisasi masyarakat (ormas) di Yogyakarta akan melaporkan Tiyo ke Polda DI Yogyakarta karena dituduh menggelapkan dana Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK).
Kedua, ada pesan lain yang menyebutkan bahwa seorang dosen UGM merasa kecewa atas perilaku Tiyo yang diduga terlibat dalam penggelapan dana KIPK. Namun, bagi Tiyo, semua tuduhan ini tidak memiliki dasar yang jelas dan hanya digunakan sebagai alat untuk melemahkan semangatnya.
Teror ketiga yang diterima oleh ibunya mengatakan bahwa pihak kepolisian siap mengusut kasus Tiyo secara tuntas. Meski demikian, Tiyo tidak memperhatikan hal ini. Ia percaya bahwa semua teror yang datang adalah upaya untuk membungkam suaranya dan menghentikan kritik-kritiknya terhadap pemeruitah.
Tanggapan Ibu Tiyo
Awalnya, ibu Tiyo merasa takut dan khawatir atas ancaman-ancaman yang diterimanya. Namun, perlahan-lahan Tiyo menjelaskan kepada ibunya bahwa semua informasi negatif yang ia terima adalah bagian dari teror yang sengaja dibuat untuk melemahkan dan membungkamnya. Setelah mendengar penjelasan tersebut, ibu Tiyo akhirnya memahami maksudnya dan sekarang merasa aman.
Teror yang Menimpa Pengurus BEM UGM
Tidak hanya Tiyo dan keluarganya, sekitar 30 hingga 40 orang pengurus BEM UGM juga pernah menerima teror serupa sebelumnya. Mereka memahami bahwa ancaman-ancaman ini adalah dampak dari sikap politik BEM UGM yang tidak sejalan dengan pemerintah.
Salah satu kritik yang paling menonjol dari BEM UGM adalah terkait program MBG (Makan Bergizi Gratis). Tiyo menyebutnya sebagai “Maling Berkedok Gizi” karena menurutnya program ini tidak sesuai dengan tujuannya. Ia menjelaskan bahwa MBG justru memberi dampak negatif terhadap pendidikan, bukan membantu meningkatkan kualitasnya.
Tujuan Kritik yang Dilontarkan
Tiyo menegaskan bahwa semua kritik yang ia sampaikan tidak dilakukan karena benci terhadap negeri ini. Sebaliknya, ia ingin negeri ini berkembang lebih baik. Kritik-kritik yang ia lontarkan, bersama aktivis dan akademisi lainnya, diibaratkan sebagai obat bagi republik yang sakit.
Ia menyayangkan jika pemerintah tidak mau mendengarkan kritik yang disampaikan berdasarkan data dan fakta lapangan. Menurutnya, para aktivis dan akademisi yang mengkritisi MBG bertujuan untuk memberi “obat” bagi republik ini, seperti dokter yang memberi pengobatan pada pasien.





