Ketua Toyota: Perang Timur Tengah Berpotensi Picu Krisis Semikonduktor

Aa1xlzcn 1
Aa1xlzcn 1



JAKARTA – Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, mengingatkan adanya risiko krisis pasokan cip semikonduktor akibat konflik antara Iran dengan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS). Ia menilai bahwa dampak dari konflik di kawasan Timur Tengah ini bisa menjadi lebih kompleks dalam jangka panjang jika eskalasi terus berlangsung dan melibatkan negara besar seperti China dan Rusia.

“Secara jangka panjang, jika konflik meluas dan melibatkan China dan Rusia, akan berdampak pada rantai pasok global, terutama bahan baku kritis yang sangat dibutuhkan oleh industri semikonduktor,” ujarnya.

Bob menekankan bahwa jika skenario tersebut terjadi, potensi gangguan tidak hanya terjadi pada aktivitas perdagangan di tingkat regional. Konflik yang semakin luas juga berisiko mengganggu rantai pasok global. Situasi ini berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap berbagai sektor manufaktur dunia yang sangat bergantung pada komponen elektronik dan teknologi semikonduktor.

“Bukan hanya semikonduktor saja, itu salah satu contoh. Jika konflik meluas, bukan hanya otomotif, tetapi industri lain juga akan terkena dampaknya,” jelas Bob.

Sebagai pengingat, Indonesia pernah terdampak krisis semikonduktor, terutama selama periode 2021–2023. Meski demikian, Indonesia tidak mengalami krisis produksi cip domestik, melainkan terkena dampak dari kelangkaan global karena industri dalam negeri sangat bergantung pada impor komponen tersebut.

Pada masa itu, pandemi Covid-19 menyebabkan permintaan perangkat elektronik seperti laptop, smartphone, dan server meningkat tajam. Akibatnya, produksi cip lebih diprioritaskan ke sektor tersebut, sedangkan industri otomotif kalah prioritas. Hal ini menyebabkan produksi mobil melambat, pasokan mobil baru terbatas, dan inden kendaraan lebih lama.

Di sisi lain, TMMIN juga memperhatikan sejumlah dampak jangka pendek yang berpotensi muncul akibat perang di Timur Tengah, mulai dari kenaikan harga energi hingga gangguan jalur perdagangan internasional.

Selama tahun 2025, Toyota telah mengekspor kendaraan secara utuh (CBU) sebanyak 298.457 unit. Meskipun demikian, di tengah ketegangan geopolitik saat ini, Toyota memasang target ekspor moderat di angka 300.000 unit pada tahun 2026.

Akibatnya, TMMIN berharap pemerintah Indonesia dapat mengambil langkah dan kebijakan yang tepat dalam mengantisipasi berbagai potensi dampak yang mungkin muncul akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

“Pemerintah perlu menjaga ketahanan energi, mengendalikan belanja, serta mencari sumber penggerak ekonomi baru yang lebih independen agar perekonomian nasional tidak terlalu bergantung pada dinamika global,” pungkas Bob.

Pos terkait