Khofifah Kecewa pada Tyas, Alumnus LPDP yang Khianati Negeri

Aa1xo8db 2
Aa1xo8db 2

Kekhawatiran Gubernur Jawa Timur atas Polemik Beasiswa

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan kekecewaannya terhadap polemik yang muncul terkait penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Ia menegaskan bahwa dana beasiswa berasal dari rakyat, sehingga para penerima memiliki kewajiban moral untuk kembali mengabdi kepada Indonesia.

Khofifah mengingatkan bahwa pelajar hari ini adalah generasi emas 2045 yang akan menentukan arah kepemimpinan bangsa. Isu seputar penerima beasiswa negara kembali mengemuka dan memantik perdebatan luas. Di tengah polemik tersebut, Khofifah secara terbuka menyampaikan rasa kecewanya.

Ia menilai ada persoalan moral yang lebih dalam dari sekadar status pendidikan atau kewarganegaraan, yakni soal tanggung jawab kepada bangsa yang telah membiayai masa depan generasi mudanya. Nada kekecewaan itu disampaikan Khofifah saat berdiri di hadapan ratusan siswa dan guru se-Banyuwangi, dalam kunjungan kerjanya ke SMA Negeri 2 Taruna Bhayangkara Banyuwangi, sebuah sekolah di bawah binaan kepolisian.

Di ruang pendidikan yang sarat nilai disiplin dan pengabdian itulah, Khofifah mengajak para pelajar merenungi makna nasionalisme dan kesetiaan kepada negara.

Sindiran Keras di Depan Siswa dan Guru

Dalam suasana dialog yang serius, Khofifah menyinggung pernyataan salah satu penerima beasiswa LPDP yang belakangan menjadi sorotan publik. Dengan nada tegas, ia mengingatkan bahwa ucapan tersebut telah melukai rasa keadilan banyak pihak.

“Dia tega. Dia bilang cukup saya WNI, anakku jangan,” kata Khofifah mengingatkan. Ungkapan singkat itu, menurut Khofifah, mencerminkan krisis kesadaran kebangsaan.

Di hadapan para calon pemimpin masa depan, ia ingin pesan tersebut menjadi pelajaran tentang pentingnya etika, tanggung jawab, dan rasa memiliki terhadap negeri sendiri.

Dana Rakyat dan Tanggung Jawab Moral

Lebih jauh, Khofifah menegaskan bahwa beasiswa LPDP bukanlah sekadar fasilitas pendidikan, melainkan amanah negara yang bersumber dari rakyat. Karena itu, setiap penerima memiliki kewajiban moral yang melekat bukan hanya untuk meraih gelar, tetapi juga untuk kembali memberi kontribusi nyata bagi Indonesia.

Ia menekankan bahwa belajar dengan sungguh-sungguh, berprestasi, dan mengabdi setelah lulus merupakan bagian tak terpisahkan dari nilai beasiswa negara. Dalam konteks itulah, Khofifah mengajak para taruna dan taruni untuk memaknai cinta tanah air secara lebih konkret: melalui dedikasi, kerja keras, dan kesediaan berbakti.

Pesan untuk Generasi Emas 2045

Di hadapan para siswa berseragam, Khofifah mengingatkan bahwa mereka bukan sekadar pelajar hari ini, melainkan wajah Indonesia di masa depan. Ia menyebut mereka sebagai generasi penentu arah bangsa menuju satu abad kemerdekaan.

“Mereka adalah generasi emas 2045. Guru dan pengasuh harus siapkan mereka menjadi pemimpin emas yang akan mengisi etalase kepemimpinan,” tuturnya. Pesan itu menjadi penegasan bahwa peran pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi juga menyentuh pembentukan karakter, integritas, dan kepemimpinan.

Peresmian Fasilitas dan Komitmen Pendidikan Holistik

Dalam kunjungan yang sama, Khofifah juga meresmikan sejumlah sarana dan prasarana baru di SMAN 2 Taruna Bhayangkara Banyuwangi atau Smadatara. Peresmian ini merupakan bagian dari program rehabilitasi dan revitalisasi di 28 sekolah SMA, SMK, serta SLB negeri dan swasta yang dijalankan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Fasilitas yang diresmikan mencakup tempat ibadah umat Hindu, gereja, griya belajar, area gym, barbershop, hingga berbagai sarana penunjang lain yang dirancang untuk mendukung pengembangan siswa secara menyeluruh.

“Fasilitas ini diharapkan mampu memperkuat proses pembelajaran secara holistik yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik tetapi juga spiritual, fisik dan ketrampilan hidup,” ujar Gubernur.

Smadatara dan Misi Menyiapkan Penerus Bangsa

Menurut Khofifah, Smadatara memiliki posisi strategis sebagai pusat pembentukan kepribadian dan pendidikan karakter. Sekolah ini dinilai tidak hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi juga menyiapkan generasi yang berintegritas dan siap mengabdi.

“Smadatara adalah tempat menyiapkan penerus bangsa, generasi emas yang akan menjadi corong bangsa di masa depan,” tandasnya. Pernyataan tersebut menutup kunjungan kerja Khofifah dengan pesan yang jelas: pendidikan, beasiswa, dan fasilitas negara harus bermuara pada satu tujuan utama membangun manusia Indonesia yang berkarakter, setia pada bangsanya, dan siap memikul tanggung jawab sejarah.

Pos terkait