Ibadah Senin Kampus UKAW Kupang: Meneladani Kerendahan Hati dalam Pelayanan
Ibadah Senin Kampus Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang yang berlangsung di Bahtera Artha Wacana, Senin (2/3/2026), menjadi momen penting bagi seluruh civitas akademika. Ibadah ini dipimpin oleh Pdt. Dr. Bobby Nalle, yang memberikan khotbah dengan fokus pada pentingnya kerendahan hati sebagai dasar dari sinergi dan pelayanan.
Dalam khotbahnya, Pdt. Nalle mengajak seluruh peserta ibadah untuk membangun karakter rendah hati sebagai fondasi kehidupan bersama, baik di lingkungan gereja maupun kampus. Ia merujuk pada ayat Filipi 2:4, “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Menurutnya, kerendahan hati merupakan wujud nyata dari kasih Kristus yang harus dihidupi setiap orang percaya.
Belajar dari Pendekatan Positif
Pdt. Nalle juga membahas gagasan Appreciative Inquiry yang diperkenalkan oleh David O. Reiner dari Case Western University pada 1986. Pendekatan ini berbeda dari pola problem solving yang biasanya berfokus pada masalah. Sebaliknya, Appreciative Inquiry mengajak kita untuk melihat potensi positif, sekecil apa pun, lalu mengembangkannya menjadi kekuatan bersama.
Ia menjelaskan empat tahap dalam pendekatan tersebut, yaitu:
* Discovery (menemukan potensi)
* Dream (mengimpikan pengembangan)
* Design (merancang langkah)
* Destiny/Deliver (mewujudkan hasil)
Menurutnya, pendekatan ini sejalan dengan cara Rasul Paulus membangun jemaat, yang menekankan nilai-nilai positif daripada fokus pada masalah.
Perspektif Paulus dalam Surat Filipi
Pdt. Nalle menekankan bahwa Rasul Paulus, ketika menulis Surat Filipi dari dalam penjara, tidak terjebak pada persoalan yang dihadapinya. Sebaliknya, Paulus menyoroti nilai-nilai positif yang ada dalam jemaat. Ia mencontohkan Filipi 1:12–18, di mana Paulus menyatakan bahwa pemenjaraannya justru membawa kemajuan bagi Injil. Bahkan dalam konflik antara Euodia dan Sintikhe, Paulus tetap mendorong kasih dan kesatuan, bukan memperbesar perbedaan.
“Paulus melihat benih kasih yang masih ada dan mengembangkannya. Ia mengapresiasi nilai yang mungkin kecil, tetapi berdampak besar,” jelasnya.
Kerendahan Hati Melawan Budaya Status
Lebih lanjut, Pdt. Nalle memaparkan latar belakang jemaat Filipi yang hidup dalam budaya Romawi dengan struktur sosial dan budaya kehormatan yang kuat. Dalam sistem tersebut, status sosial sangat menentukan nilai seseorang. Namun, Paulus justru mengangkat kerendahan hati sebagai nilai utama, dengan menunjuk pada teladan Kristus yang “mengosongkan diri” (kenosis).
Kerendahan hati, tegasnya, bukan kelemahan atau kekalahan, melainkan kemenangan besar yang menghadirkan keselamatan dan kehidupan bersama. “Kerendahan hati bukan sekadar norma moral umum, tetapi partisipasi dalam sikap Kristus. Kita rendah hati karena meneladani Kristus,” katanya.
Relevansi bagi Gereja dan Kampus
Di tengah Minggu Sengsara, Pdt. Nalle mengajak gereja dan seluruh civitas akademika UKAW untuk merefleksikan diri: apakah komunitas sudah sungguh membangun budaya rendah hati, atau justru terjebak dalam budaya status dan strata sosial. Menurutnya, kerendahan hati menjadi fondasi sinergi dan kemajuan bersama. Sikap ini membuka ruang untuk mendengar, menghargai, dan bekerja sama demi kebaikan bersama.
“Rendah hati tidak memerlukan modal besar. Ia dimulai dari kasih yang rela turun demi orang lain,” ujarnya. Ia menutup khotbah dengan ajakan agar seluruh warga kampus mengapresiasi setiap potensi yang ada, sekalipun kecil, dan mengembangkannya bagi kemuliaan Tuhan serta kemajuan bersama.
Ibadah Senin Kampus tersebut dihadiri pimpinan universitas, dosen, pegawai, dan mahasiswa UKAW dalam suasana khidmat dan reflektif.





