Kinerja Keuangan ASII dan UNTR pada Akhir 2025
Pada akhir tahun 2025, kinerja keuangan PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) mengalami tekanan dari berbagai sektor industri. Tekanan ini terutama berasal dari industri batubara dan otomotif yang memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan dan laba bersih kedua perusahaan.
Pendapatan ASII turun sebesar 1,54% year on year (yoy) menjadi Rp 323,39 triliun pada 2025. Laba bersih ASII juga terkoreksi sebesar 3,33% yoy menjadi Rp 32,76 triliun. Pendapatan dari berbagai segmen bisnis ASII mencakup:
- Segmen otomotif dan mobilitas: Rp 125,65 triliun
- Jasa keuangan: Rp 33,44 triliun
- Alat berat pertambangan, konstruksi, dan energi: Rp 131,3 triliun
- Agribisnis: Rp 28,65 triliun
- Infrastruktur: Rp 3,16 triliun
- Teknologi informasi: Rp 2,99 triliun
- Properti: Rp 1,13 triliun
Total pendapatan dari tujuh segmen tersebut dikurangi jumlah eliminasi sebesar Rp 2,95 triliun.
Presiden Direktur ASII, Djony Bunarto Tjondro, menyatakan bahwa penurunan laba Grup Astra pada 2025 disebabkan oleh harga batubara yang lebih rendah dan melemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup Astra tetap resilien berkat dukungan kontribusi positif dari bisnis-bisnis lainnya.
Sementara itu, pendapatan bersih UNTR menyusut 2% yoy menjadi Rp 131,3 triliun pada akhir 2025. Penurunan terjadi di beberapa segmen seperti:
- Segmen kontraktor penambangan: turun 7% yoy menjadi Rp 54,1 triliun
- Segmen mesin konstruksi: turun 2% yoy menjadi Rp 36,6 triliun
- Segmen pertambangan batubara termal dan metalurgi: turun 7% yoy menjadi Rp 24,2 triliun
Namun, pendapatan dari segmen pertambangan emas dan mineral lainnya tumbuh 41% yoy menjadi Rp 14 triliun. Hingga akhir 2025, laba bersih UNTR turun 24% yoy menjadi Rp 14,8 triliun. Hal ini disebabkan oleh penurunan kontribusi dari segmen kontraktor penambangan yang terkendala curah hujan tinggi dan segmen pertambangan batubara termal dan metalurgi karena harga jual batubara yang lebih rendah, walau sebagian dapat diimbangi oleh penguatan harga emas.
Prospek Kinerja di Tahun 2026
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, mengatakan bahwa pelemahan kinerja keuangan Grup Astra lebih didominasi oleh normalisasi harga batubara. Di segmen otomotif, ASII masih bisa meraih kenaikan pangsa pasar kendati terjadi penurunan volume penjualan yang sejalan dengan perlambatan pasar kendaraan roda empat nasional.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menilai bahwa fundamental Grup Astra masih tergolong defensif berkat diversifikasi bisnisnya. Khusus ASII, pelemahan pendapatan dan laba bersih tahunan mencerminkan siklus normalisasi ekonomi dan harga batubara. Namun, perbaikan margin pada kuartal IV-2025 memberi sinyal adanya efisiensi dan bauran bisnis yang lebih sehat.
Memasuki 2026, Wafi menilai prospek ASII dan UNTR tergolong kuat dan keduanya punya peluang memulihkan kinerja kendati pertumbuhannya akan cenderung moderat. Penurunan suku bunga acuan bakal menjadi angin segar yang memulihkan daya beli masyarakat dan meringankan cicilan leasing kendaraan bermotor dari ASII.
Dari situ, segmen jasa keuangan dapat kembali menjadi tulang punggung laba bagi ASII, disusul oleh segmen otomotif. Untuk UNTR, penopang laba utamanya akan mulai geser ke segmen tambang emas dan mineral.
Strategi Diversifikasi dan Ekspansi
Baik ASII maupun UNTR harus segera melanjutkan strategi diversifikasi bisnis dan mengupayakan peningkatan pangsa pasar. ASII harus mempercepat penetrasi kendaraan listrik di berbagai rentang harga untuk membendung kompetitor merek China sembari terus mematangkan investasi di sektor non-otomotif seperti layanan kesehatan, jalan tol, dan keuangan digital.
Untuk UNTR, transisi menjauhi batubara harus dilakukan demi menjaga valuasi jangka panjang. Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe, menambahkan bahwa kinerja ASII dan UNTR berpeluang meningkat pada 2026 selama pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil dan suku bunga acuan kembali turun.
Kedua emiten ini juga diyakini akan kembali aktif melakukan ekspansi anorganik melalui akuisisi perusahaan lain sebagai upaya diversifikasi bisnis. Strategi ini sangat mungkin dilakukan, karena Grup Astra punya arus kas kuat yang membuatnya leluasa masuk ke bisnis baru.
Kiswoyo memperkirakan harga saham ASII dapat bergerak ke kisaran Rp 8.000–Rp 8.500 per saham pada 2026, sedangkan UNTR dapat bergerak ke arah Rp 35.000–Rp 40.000 per saham. Sementara itu, Wafi menyebut saham ASII dan UNTR dapat dilirik oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 7.000 per saham dan Rp 28.000 per saham.
Di lain pihak, Khaer menganggap saham ASII masih menarik bagi investor yang mencari kombinasi stabilitas, eksposur siklikal, dan income play, meskipun akselerasi pertumbuhan jangka pendek kemungkinan masih bergantung pada pemulihan daya beli domestik dan tren harga komoditas beberapa waktu mendatang.





