Kisah Agis Tasya Putri, Bocah 10 Tahun di Tangerang yang Viral Jual Lukisan untuk Beli Beras

Bocah 10 Tahun Disiksa Di Tangerang Dituduh Curi Uang Rp700 Ribu 3 Pelaku Ditangkap Polisi 1
Bocah 10 Tahun Disiksa Di Tangerang Dituduh Curi Uang Rp700 Ribu 3 Pelaku Ditangkap Polisi 1

Kisah Agis Tasya Putri, Bocah 10 Tahun yang Menjadi Inspirasi dengan Karya Lukisan

Agis Tasya Putri, seorang bocah berusia 10 tahun asal Ciledug, Kota Tangerang, Banten, kini menjadi sorotan publik. Video yang diunggah di media sosial memperlihatkan dirinya menggambar dengan tekun dan menjajarkan hasil karyanya untuk dijual di pinggir jalan. Kegiatan ini dilakukannya demi membantu keluarganya yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Lukisan yang dibuatnya sendiri menggunakan tangan mungilnya, dijual demi bisa membeli beras. Meski masih anak-anak, Agis menunjukkan keberanian dan tanggung jawab yang luar biasa. Ia tidak hanya menyukai seni, tetapi juga memiliki kemampuan menggambar secara otodidak tanpa pernah mengikuti kursus atau belajar dari orang lain.

Agis tinggal di sebuah lapak sederhana di kawasan Ciledug, Kota Tangerang. Tempat tinggalnya hanya terdiri dari satu ruangan sempit yang disekat menjadi dua bagian. Sekat itu membagi ruang untuk tempat tidur dan ruang tamu seadanya. Di dinding lapak yang terbuat dari triplek, terpajang sejumlah gambar karyanya yang belum terjual. Lembar-lembar kertas bergambar rumah, pantai, dan pepohonan tertata rapi menghiasi ruang sederhana itu.

Di lantai, krayon dan buku gambar berserakan. Di dalamnya terdapat karya-karya Agis, ada yang sudah selesai diwarnai, ada pula yang masih berupa sketsa menunggu sentuhan warna berikutnya. Keberaniannya dalam menjual karyanya sendiri tanpa didampingi orang tua membuat banyak orang terkesan.

Agis mengaku sudah menyukai kegiatan menggambar sejak usia empat tahun. Gambar pertamanya masih ia ingat betul, yaitu menggambar rumah. Alasannya ternyata sederhana, “Karena pas udah gede pengen punya rumah.” Berbeda dari anak seusianya, Agis belajar menggambar secara otodidak. Ia tidak pernah mengikuti kursus ataupun belajar dari orang lain.

Ketika ditanya apakah ia meniru atau melihat contoh dari orang lain, Agis menjawab tegas. “Enggak pernah,” ucap Agis. Inspirasi gambarnya datang begitu saja. Bahkan, untuk menyelesaikan satu gambar, ia hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit.

Keberanian Agis tak hanya terlihat dari kreativitasnya, tetapi juga dari kemandiriannya. Ia berjualan sendiri di kawasan Puri Kartika, Ciledug memajang hasil gambarnya tanpa ditemani orang tua. “Enggak, aku sendiri nyari,” tuturnya. Ia mulai berjualan sejak pagi. Jika sore, ia membuka lapak sekitar pukul tiga hingga setengah enam. Gambar kecil ia jual seharga Rp5.000, sementara yang lebih besar Rp10.000. Untuk lukisan di kanvas, harganya bisa mencapai Rp20.000.

Awalnya, Agis hanya membawa gambar-gambarnya dan memajangnya begitu saja. “Pertamanya sih bawa-bawa doang, terus dipajang-pajangin, aku kepikiran mau jual,” ujarnya. Ide berjualan itu murni dari dirinya sendiri. Tak jarang, ada pembeli yang memesan gambar sesuai keinginan mereka. Ia pernah diminta menggambar pantai hingga berbagai bentuk lainnya.

Meski masih kecil, Agis sudah memahami arti tanggung jawab. Uang hasil penjualannya tak ia habiskan sendiri. “Buat beli beras,” katanya pelan. Sebagian besar ia serahkan kepada sang ibu. Namun, ia tetap menyisihkan sedikit untuk tabungan pribadi. “Nabung juga,” ujarnya. Biasanya, sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 ia simpan.

Di balik kesederhanaannya, Agis menyimpan mimpi besar. Ia ingin menjadi pelukis dan suatu hari pergi ke Makkah bersama orang tua dan kakaknya. “Kalau udah sukses, pengen ke Makkah, ajak orang tua sama kakak,” pungkasnya.


Pos terkait