Kehidupan Seorang Bocah Berbakat di Tengah Keterbatasan
Agis Tasya Putri, seorang bocah berusia 10 tahun asal Ciledug, Kota Tangerang, menjadi sorotan publik setelah video yang diunggah di Instagram menampilkan dirinya sedang menggambar dan menjajarkan hasil karyanya untuk dijual di pinggir jalan. Keberaniannya dalam menjual karya seni sendiri membuat banyak orang terkesan dengan ketekunan dan kreativitasnya.
Agis tinggal di sebuah lapak sederhana yang hanya terdiri dari satu ruangan sempit yang dibagi menjadi dua bagian. Salah satu bagian digunakan sebagai tempat tidur, sementara bagian lainnya digunakan sebagai ruang tamu seadanya. Meskipun hidup dalam keterbatasan, Agis tetap tampak ceria seperti anak-anak seusianya. Ia sering bermain sepeda dan bercanda bersama teman-temannya di depan rumah.
Di dinding lapak yang terbuat dari triplek, terpajang beberapa gambar karyanya yang belum terjual. Lembaran kertas bergambar rumah, pantai, dan pepohonan tertata rapi, menghiasi ruang sederhana itu. Sementara di lantai, krayon dan buku gambar berserakan. Di dalamnya terdapat karya-karya Agis, ada yang sudah selesai diwarnai, ada pula yang masih berupa sketsa menunggu sentuhan warna berikutnya.
Di balik gambar-gambar itu, berdirilah Agis, bocah yang berani menjual hasil karyanya sendiri demi membantu orang tua. Ia mengaku telah menyukai kegiatan menggambar sejak usia empat tahun. “Dari 4 tahun,” ujarnya. Gambar pertamanya masih ia ingat betul, yaitu menggambar rumah. Alasannya sederhana: “Karena pas udah gede pengen punya rumah.”
Berbeda dari anak seusianya, Agis belajar menggambar secara otodidak. Ia tidak pernah mengikuti kursus atau belajar dari orang lain. Ketika ditanya apakah ia meniru atau melihat contoh dari orang lain, Agis menjawab tegas. “Enggak pernah.” Inspirasi gambarnya datang begitu saja. Bahkan, untuk menyelesaikan satu gambar, ia hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit.
Keberanian Agis tidak hanya terlihat dari kreativitasnya, tetapi juga dari kemandiriannya. Ia berjualan sendiri di kawasan Puri Kartika, Ciledug, memajang hasil gambarnya tanpa ditemani orang tua. “Enggak, aku sendiri nyari,” tuturnya. Ia mulai berjualan sejak pagi. Jika sore, ia membuka lapak sekitar pukul tiga hingga setengah enam. Gambar kecil dijual seharga Rp5.000, sementara yang lebih besar Rp10.000. Untuk lukisan di kanvas, harganya bisa mencapai Rp20.000.
Awalnya, Agis hanya membawa gambar-gambarnya dan memajangnya begitu saja. “Pertamanya sih bawa-bawa doang, terus dipajang-pajangin, aku kepikiran mau jual,” ujarnya. Ide berjualan itu murni dari dirinya sendiri. Tak jarang, ada pembeli yang memesan gambar sesuai keinginan mereka. Ia pernah diminta menggambar pantai hingga berbagai bentuk lainnya.
Meski masih kecil, Agis sudah memahami arti tanggung jawab. Uang hasil penjualannya tidak ia habiskan sendiri. “Buat beli beras,” katanya pelan. Sebagian besar ia serahkan kepada sang ibu. Namun, ia tetap menyisihkan sedikit untuk tabungan pribadi. “Nabung juga,” ujarnya. Biasanya, sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 ia simpan.
Di balik kesederhanaannya, Agis menyimpan mimpi besar. Ia ingin menjadi pelukis dan suatu hari pergi ke Makkah bersama orang tua dan kakaknya. “Kalau udah sukses, pengen ke Makkah, ajak orang tua sama kakak,” pungkasnya.





