Kisah Batu Shalat dan Sumur Wudhu Imam Bonjol di Pineleng

Aa1ximh9
Aa1ximh9

Sejarah dan Keunikan Tempat Ziarah Imam Bonjol di Minahasa

Di Desa Lotta, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, terdapat beberapa peninggalan sejarah yang memiliki makna penting bagi masyarakat setempat. Salah satu yang paling menarik adalah batu tempat Shalat Imam Bonjol serta Sumur Air Wuduh yang berada di dekat lokasi makam tokoh besar tersebut.

Batu tempat shalat ini terletak tidak jauh dari makam Imam Bonjol, tepatnya di tepi sungai. Untuk mencapai lokasi tersebut, pengunjung harus melewati tangga yang mengarah ke kiri dari makam. Batu tersebut berada dalam sebuah mushola kecil yang menghadap langsung ke sungai. Di dalam mushola, terdapat tiga ruangan, dengan batu peninggalan Imam Bonjol berada di ruangan paling kiri.

Batu yang ada di sana terdiri dari dua bagian: satu batu kecil dan satu batu besar. Batu kecil memiliki lekukan yang pas untuk posisi dahi dan lutut saat sujud. Sementara itu, batu besar digunakan sebagai tempat duduk atau untuk berdiri selama shalat. Lokasi ini memberikan kesan syahdu dan tenang, dengan pemandangan alam yang indah sekitarnya, termasuk pepohonan dan aliran air sungai yang deras.

Tidak jauh dari batu tempat shalat, terdapat sumur kecil yang dulunya digunakan oleh Imam Bonjol untuk mengambil air wudhu. Sumur ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa tempat ini pernah menjadi pusat aktivitas spiritual tokoh besar tersebut.

Wisata Religi di Sulawesi Utara

Sulawesi Utara (Sulut) memiliki berbagai objek wisata religi yang menarik minat para pengunjung. Salah satunya adalah Makam Tuanku Imam Bonjol yang terletak di Desa Lotta, Kecamatan Pineleng. Makam ini berjarak sekitar 8 kilometer dari pusat kota Manado dan 11 kilometer dari Bandar Udara Sam Ratulangi.

Selama bulan Ramadan, makam ini ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Pengunjung domestik berasal dari berbagai daerah seperti Palembang, Malang, Cibubur, Jakarta Timur, Tangerang, Kediri, Solo, Cirebon, hingga Jogja. Selain itu, turis asing dari Eropa dan Tiongkok juga sering datang untuk melihat dan memperingati perjuangan Imam Bonjol.

Saat Tribun Manado berkunjung ke sana pada Kamis (26/2/2026), suasana makam masih terasa tenang dan damai. Bunga-bunga bermekaran di taman kompleks makam, sementara tangga menuju area utama dikelilingi oleh rumput hijau yang rapi dan menyerupai permadani alam.

Ciri Khas dan Nuansa Islami

Bangunan makam ini memiliki ciri khas yang unik, yaitu bentuk menyerupai Rumah Gadang, rumah adat Minangkabau. Bendera merah putih berkibar di depan makam, dan di dalamnya, pengunjung diwajibkan melepas alas kaki untuk menjaga kesucian ruangan. Di dekat pintu masuk, terdapat meja yang menyediakan buku surat Yasin dan buku absen.

Di dalam makam, terdapat nisan yang sederhana namun khidmat, lengkap dengan tali pengaman di sekelilingnya. Nuansa Islami di tempat ini berpadu erat dengan semangat nasionalisme. Pada dinding makam, terdapat relief yang menggambarkan perjuangan Tuanku Imam Bonjol. Ia digambarkan dengan gagah mengenakan sorban, menaiki kuda putih, sembari mengangkat pedang di tangan kanannya.

Pengalaman Para Pengunjung

Enny, seorang pengunjung yang ditemui Tribun Manado, mengaku datang ke sini untuk ziarah. Ia mengatakan bahwa ia sering mengunjungi makam ini dalam setahun. “Ini yang pertama tahun ini,” katanya.

Salah satu pihak keluarga yang tinggal di sekitar makam menyatakan bahwa jumlah pengunjung meningkat jelang bulan Ramadhan. “Kala itu tamu datang sangat banyak dan tiap hari,” ujarnya. Tamu yang datang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan ada yang dari Eropa dan Tiongkok.

Pos terkait