JAKARTA – Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo berbagi pengalaman berharga dari bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di wilayah Sumatra beberapa waktu lalu. Ia mengungkapkan bahwa meskipun PLN adalah perusahaan besar yang dimiliki negara, perusahaan tersebut ternyata tidak mampu menghadapi kondisi darurat seperti ini.
Dalam pidatonya pada acara ‘PLN Journalist Award 2025’ di Jakarta, Kamis (26/2/2026), Darmawan menjelaskan bahwa saat bencana tsunami melanda Aceh pada 2004, hanya delapan titik jaringan listrik yang rusak. Namun, dalam kejadian banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara pada November 2025, lebih dari 400 titik jaringan PLN mengalami kerusakan.
“Banyak titik kerusakan tidak bisa dijangkau lewat darat,” ujar Darmawan dalam acara yang diselenggarakan di Kantor Pusat PLN, kawasan Blok M, Jakarta Selatan.
Darmo, panggilan akrab Darmawan, menyampaikan bahwa PLN berusaha memperbaiki jaringan listrik secepat mungkin. Namun, upaya ini sangat sulit dilakukan karena berbagai kendala. Misalnya, PLN harus memindahkan genset seberat 50 ton ke wilayah pedalaman Aceh, tetapi akses melalui jalur darat masih terputus.
“Lebar sungai yang awalnya 80 meter, berubah menjadi satu kilometer,” tambahnya.
Pihak PLN sempat mempertimbangkan opsi menggunakan helikopter untuk membawa alat berat. Namun, kemampuan angkat helikopter hanya 2 ton, sehingga tidak cukup untuk mengangkat genset berat tersebut.
Akibatnya, aliran listrik di wilayah terdampak bencana tidak bisa segera pulih. “Pertama kali saya merasakan kedigdayaan PLN Persero kalah oleh kekuatan alam,” ujarnya.
Menurut Darmawan, PLN sempat mendapat kritik keras karena tidak dapat segera memulihkan aliran listrik ke daerah bencana. Awalnya, PLN mengklaim bahwa jaringan listrik di Aceh sudah pulih di atas 90 persen, namun data itu jauh berbeda dengan kondisi di lapangan.
Perusahaan setrum itu pun dihujat banyak pihak. Akhirnya, Darmawan meminta maaf dan merevisi informasi awal tentang tingkat pemulihan listrik di wilayah bencana. Permintaan maaf ini berhasil mengurangi sentimen negatif terhadap PLN.
“Sebelum minta maaf, sentimen negatifnya mencapai 80 persen. Setelah minta maaf, menjadi 8-10 persen,” kata Darmawan.
Lulusan B.Sc. dan M.Sc. dari Texas A&M University itu juga mengaku merasakan suatu keajaiban setelah meminta maaf. Menurutnya, upaya PLN memperbaiki jaringan listrik tiba-tiba menjadi lebih mudah, bahkan masyarakat serta TNI dan Polri di lokasi bencana bersama-sama membantu perusahaan pelat merah tersebut.
“Ada mukjizat setelah minta maaf,” katanya sambil menunjukkan air mata.
Darmawan juga menceritakan bagaimana PLN membangun tower listrik di tengah sungai yang lebarnya bertambah akibat banjir. Di tengah sungai tersebut ada gundukan tanah, tetapi PLN harus menggunakan derek jangkung untuk membangun tower. Sebelumnya, mereka harus mengebor tanah hingga 1,5 meter agar struktur crane kuat.
“Ternyata tanah cukup kuat untuk struktur crane. Jadi, pendirian tower dan pemilihan listrik bisa segera dilakukan,” ujarnya.
Selain itu, ada kisah lain yang membuat Darmo terharu, yaitu penanaman 900 tiang pancang PLN yang hanya membutuhkan waktu 2,5 hari. Ia menyebut hal ini mustahil tercapai dalam waktu singkat tanpa bantuan masyarakat.
“Saya sampai terharu dan terenyuh,” imbuhnya.
Dari pengalaman ini, Darmawan mengambil pelajaran penting, yakni pentingnya menyampaikan informasi secara jujur dan transparan.
“Best communication is to tell the truth (komunikasi terbaik adalah dengan mengatakan yang sebenarnya). Menyampaikan apa adanya, lesson learned (pengetahuan mendalam dari pengalaman) yang sangat mahal,” ucapnya.





