Kisah Haji Muhammad Ikhsan Wahab, Ketua MUI Sikka: Agama Harus Beraksi, Bukan Hanya Dalil

Pemahaman yang Utuh tentang Agama

Bagi sebagian orang, agama sering kali dipahami hanya sebagai hafalan ayat dan dalil. Namun bagi Ketua Majelus Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), pemahaman semacam itu belum sepenuhnya utuh. Ia meyakini bahwa nilai keberagamaan justru teruji dalam praktik nyata di tengah masyarakat yang beragam.

Ketua MUI Kabupaten Sikka, Haji Muhammad Ikhsan Wahab, menegaskan bahwa agama tidak boleh berhenti pada teks. Menurutnya, esensi agama ditemukan dalam apa yang ia sebut sebagai “teks kehidupan”, yakni praktik kemanusiaan sehari-hari yang memberi manfaat nyata bagi sesama. Pandangan ini tak lepas dari pengaruh sang ayah, almarhum H. Abdul Rasyid Wahab atau yang akrab disapa Abah Rasyid.

Di Maumere, Kabupaten Sikka, Abah Rasyid dikenal sebagai tokoh Muslim yang konsisten merawat toleransi di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Warisan dialog dan toleransi ini menjadi dasar dari pemahaman Ikhsan tentang agama.

Warisan Dialog dan Toleransi

Ikhsan mengenang bahwa nilai toleransi yang ia pahami bukan sekadar wacana, melainkan tradisi hidup yang tumbuh dari kebiasaan berdialog di meja makan keluarganya. Di ruang sederhana itu, berbagai persoalan sosial dibahas secara terbuka.

“Beliau (Abah Rasyid) bukan hanya orang tua, tapi sahabat diskusi yang asyik. Persoalan kemanusiaan dan problem masyarakat luas dituangkan dalam dialog di ruang makan. Dari sana kami mendapatkan nilai tentang keakraban sesama manusia dan bagaimana mencari jalan keluar bagi beban masyarakat,” ujar Ikhsan saat ditemui di Masjid Darussalam Waioti, Maumere, Rabu (18/2/2026).

Abah Rasyid dikenal luas sebagai simbol toleransi dan “penjaga perdamaian” di Sikka. Pada 2018, ia menerima MAARIF Award, penghargaan yang diberikan kepada tokoh-tokoh yang konsisten memperjuangkan keadilan sosial, kemanusiaan, dan kemajemukan di Indonesia. Ia wafat pada 4 Oktober 2023 di Maumere.

Bagi Ikhsan, sosok ayahnya adalah kompas moral yang membentuk keyakinannya bahwa agama harus hadir sebagai solusi, bukan sumber persoalan.

Melampaui Teks Buku

Ikhsan mengakui bahwa latar belakang pendidikannya di lingkungan pesantren serta studi hukum Islam di Jakarta sempat membentuk cara pandang yang tekstual, yakni menekankan pemahaman literal terhadap kitab-kitab agama. Namun sepulang ke Maumere, intensitas interaksinya dengan sang ayah mengubah perspektif tersebut.

Ia menyadari bahwa ada dimensi keberagamaan yang lebih luas daripada sekadar literatur keagamaan. Pengalaman mendampingi ayahnya dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), wadah dialog lintas agama untuk menjaga harmoni sosial, hingga ke pelosok Pulau Palue mempertegas pandangannya.

Di sana, ia melihat agama dipraktikkan secara pragmatis dalam arti positif: ajaran yang diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang membantu masyarakat. “Kalau beragama itu merusak atau menghancurkan, itu bukan agama. Agama harus memberikan makna dan mengurangi beban kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Gagasan Kapal Kemanusiaan

Salah satu gagasan yang kini terus ia kawal adalah “Kapal Kemanusiaan”. Inisiatif tersebut lahir dari keprihatinan terhadap warga pulau yang kesulitan mengakses layanan kesehatan saat cuaca buruk menghambat transportasi laut. Kapal itu dirancang sebagai sarana transportasi darurat yang dapat membantu siapa pun tanpa memandang latar belakang agama.

Bagi Ikhsan, inisiatif tersebut mencerminkan nilai dasar agama: menghadirkan keselamatan dan kemaslahatan bagi manusia. Melalui pendekatan itu, ia ingin memastikan bahwa keberagamaan di Sikka tidak berhenti pada simbol, melainkan menjadi energi sosial yang memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.

Akar Sejarah dan Budaya Kawin-Mawin

Ketua MUI Sikka dua periode ini menjelaskan bahwa kerukunan di “Bumi Nian Tana” Sikka memiliki akar historis yang kuat. Ia mencontohkan sejarah keluarganya sendiri di Geliting, di mana asimilasi budaya melalui pernikahan beda agama sudah lazim terjadi sejak zaman nenek moyang.

“Nenek saya memiliki saudara yang menikah dengan Raja Thomas. Budaya kawin-mawin ini sudah terjadi sejak lama. Kita berasal dari satu nenek moyang yang sama, jadi buat apa saling menjatuhkan?” kata Ikhsan.

Semangat inklusivitas ini juga ia terapkan dalam dunia pendidikan sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Maumere. Ikhsan mengampu mata kuliah Agama Multikultural, sebuah ruang di mana mahasiswa Muslim, Katolik, dan Protestan duduk bersama memotret persoalan kemanusiaan.

“Pendidikan agama tidak boleh hanya berhenti pada aspek kognitif atau menghafal dalil, tetapi harus menyentuh aspek afektif dan psikomotorik,” jelas Ikhsan. Mahasiswa diajak merefleksikan tradisi lokal, seperti sistem barter antara warga pantai (Muslim) dan warga gunung (Katolik), sebagai modal sosial untuk membangun peradaban.

Membakar Ego di Bulan Ramadhan

Menjelang bulan suci Ramadhan, Ikhsan membawa pesan mendalam bagi umat Muslim di Sikka. Ia memaknai Ramadhan dari akar kata Ramado yang berarti “membakar”. “Maksudnya adalah membakar ego kita, membakar ketidakjujuran, dan hal-hal buruk dalam diri. Sehingga yang muncul ke permukaan adalah nilai kebaikan bagi sesama,” jelasnya.

Sebagai nakhoda MUI Sikka yang menaungi berbagai organisasi seperti NU dan Muhammadiyah, Ikhsan berkomitmen untuk terus bersinergi. Di tengah keberagaman Sikka yang dinamis, Ikhsan Wahab memastikan bahwa api toleransi yang dinyalakan pendahulunya tetap hangat tidak menghanguskan, melainkan menerangi.

Baginya, tugas pemimpin agama adalah memastikan bahwa setiap ritual peribadatan berbanding lurus dengan peningkatan kualitas hubungan kemanusiaan.


Pos terkait