Konsistensi Seorang Penjual Gulali Tradisional
Ibrahim Pakaya, yang akrab dipanggil Opa Bura, berusia 71 tahun dan masih setia menjual gulali tradisional sejak tahun 2012. Ia memilih tetap bekerja daripada hanya duduk di rumah dan bergantung pada anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Meski penghasilannya tidak menentu dan sering kali hanya cukup untuk kebutuhan harian, ia tetap konsisten menjaga kemandirian di usia senjanya.
Di tengah maraknya jajanan modern, Opa Bura tetap setia menjajakan gulali tradisional. Gulali adalah jajanan khas Indonesia yang terbuat dari gula (biasanya gula pasir atau gula merah) yang dilelehkan hingga mengental dan elastis. Jajanan ini sangat populer di kalangan anak-anak karena bentuknya yang unik dan warnanya yang mencolok.
Sejak tahun 2012, Opa Bura menekuni profesi sebagai penjual gulali. Meskipun kedua anaknya telah berkeluarga dan mapan, ia menolak untuk sekadar berdiam diri di rumah. Ia memegang prinsip bahwa selama fisik masih mampu bergerak, ia tidak ingin merepotkan orang lain.
“Saya memilih tetap berjualan jika masih bisa duduk dan bekerja seperti ini. Saya tidak mau hanya diam di rumah dan berharap (bantuan) dari anak-anak,” ujar Ibrahim saat ditemui pada Sabtu (28/2/2026).
Dari Beras ke Gulali
Sebelum menjadi perajin gulali, Ibrahim adalah seorang pedagang beras di Pasar Sentral Gorontalo. Ia menjadi saksi hidup saat pasar tersebut masih sangat tradisional dengan harga beras hanya Rp1 per liter. Namun, kenaikan harga komoditas yang tinggi dan faktor usia membuatnya harus beralih profesi.
Ia memilih gulali karena pekerjaan ini tidak terlalu menguras tenaga. Ibrahim mempelajari teknik pembuatan gulali secara otodidak melalui berbagai percobaan yang sempat gagal. Opa Bura mengaku sempat berkali-kali gagal karena gula yang gosong. Ia sering bertukar pikiran dengan sesama penjual lama.
Kini, tangannya sudah lihai membentuk gula cair menjadi camilan manis. Dulu, semangat Opa Bura membawanya berkeliling hingga ke luar daerah menggunakan sepeda motor. Ia sering menjajakan dagangannya di pameran-pameran besar di Palu, Sulawesi Tengah, hingga Manado, Sulawesi Utara. Namun, seiring bertambahnya usia dan berubahnya kendaraan operasional menjadi becak motor (bentor), ia kini hanya menetap di dalam kota.
Lokasi mangkal utamanya berada di kawasan Kalimantan–Madura (Kalimadu). Dari arah Perempatan Kompi Liluwo, lapaknya berada di sebelah kanan jalan, tepat di keramaian warga yang melintas.
Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Penghasilan dari gulali memang tidak menentu. Di bulan Ramadan ini, pembeli cenderung sepi. Opa Bura menjual gulalinya dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp5.000 hingga Rp10.000 tergantung ukuran.
“Kadang saya pulang membawa Rp50 ribu. Uang itu biasanya langsung habis untuk membeli beras dan kebutuhan dapur,” jelasnya.
Bagi Opa Bura, gulali bukan sekadar urusan mencari laba. Setiap helai gula yang ia tarik adalah cara ia menjaga harga diri. Ia melayani anak-anak dengan sabar dan senyuman, merasa bahagia ketika melihat mereka senang menikmati buatannya.
Meski raga tak lagi sekuat dulu, Ibrahim Pakaya membuktikan bahwa usia hanyalah angka.





