Kisah Jemaah Umrah Terjebak Akibat Perang AS-Israel vs Iran

Aa1xkwrd
Aa1xkwrd

Kondisi Perang di Timur Tengah Membuat Penerbangan Di-Tutup

Serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Teheran, Iran, telah memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Hal ini menyebabkan ketegangan yang semakin memburuk dan berdampak pada sejumlah penerbangan, termasuk penerbangan yang melintasi wilayah tersebut. Akibatnya, banyak rute penerbangan harus dibatalkan atau ditunda.

Beberapa negara jazirah Arab juga terkena dampak dari situasi ini, sehingga membuat jalur penerbangan ke berbagai destinasi menjadi tidak stabil. Jemaah umrah yang sedang melakukan ibadah di Arab Saudi pun terdampak, salah satunya adalah Jelita, warga asal Bandung yang baru saja menyelesaikan ibadah umrah mandiri.

Jelita bersama orang tua dan kerabatnya melakukan perjalanan umrah sejak 19 Februari 2028. Rencananya, mereka akan kembali ke Indonesia menggunakan pesawat Etihad Airways dengan nomor penerbangan EY 616. Penerbangan tersebut akan berangkat dari Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, transit di Bandara Abu Dhabi, dan akhirnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Namun, ketika tiba di bandara, petugas Etihad menjelaskan bahwa seluruh penerbangan dari Bandara Abu Dhabi harus ditunda atau dibatalkan secara mendadak. Jelita awalnya mengira ada kesalahan teknis, tetapi setelah menunggu selama 5 jam, ia mengetahui bahwa semua penerbangan dari Jeddah ke Bandara Abu Dhabi dibatalkan.

Petugas bandara menyarankan Jelita dan keluarganya untuk menyewa hotel dekat bandara sambil menunggu update lebih lanjut. Sayangnya, biaya penginapan harus ditanggung sendiri karena otoritas maskapai menyatakan bahwa situasi ini dianggap sebagai force majeure, sehingga tidak ada kompensasi yang diberikan.

Banyak Jemaah Terjebak di Arab Saudi

Di Bandara Jeddah, Jelita bertemu dengan beberapa WNI yang juga baru selesai menjalani ibadah umrah. Meski begitu, sebagian besar dari mereka masih bisa pulang ke Indonesia karena ikut rombongan yang menggunakan biro travel dan memesan penerbangan langsung dari Jeddah ke Soekarno-Hatta atau transit di Kuala Lumpur, Malaysia.

Menurut Jelita, sebagian besar jemaah yang tertahan di Arab Saudi melakukan umrah mandiri dan mengambil penerbangan transit di Bandara Abu Dhabi. Ia mengatakan sekitar 10 orang jemaah asal Indonesia tertahan di Bandara Jeddah, sebagian besar menggunakan Etihad Airways dan transit di Abu Dhabi.

Karena tidak ada kepastian dari Etihad hingga Senin (2/3/2026), Jelita dan keluarganya memilih untuk mengajukan refund tiket dan membeli tiket pesawat dari maskapai lain yang tidak melewati wilayah Timur Tengah. Ia akhirnya membeli tiket AirAsia yang tujuannya Jakarta dengan transit di Kuala Lumpur.

Situasi di Bandara Jeddah Mengacau

Meski kondisi di kota Jeddah saat dimulainya serangan AS-Israel terhadap Iran tergolong aman, Jelita mengakui bahwa Bandara Jeddah sempat kacau karena banyak penumpang yang panik akibat pembatalan penerbangan.

Ia juga mencoba menghubungi hotline KJRI Jeddah untuk mempertanyakan nasib dirinya dan keluarga. Namun, nomor hotline tersebut tidak responsif dan memberikan jawaban yang tidak jelas. Jelita harus menunggu hampir 4 jam sampai nomor tersebut membalas chat WhatsApp-nya, tetapi tetap tidak ada kejelasan.

Saat ini, Jelita dan keluarganya masih menunggu kepastian penerbangan baru dengan maskapai AirAsia agar dapat terbang dari Jeddah ke Soetta dengan transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur.

Penutupan Bandara Abu Dhabi

Dilansir dari Antara pada Senin (2/3/2026), penutupan Bandara Abu Dhabi, UEA, terjadi setelah meningkatnya eskalasi keamanan di kawasan Timur Tengah. Otoritas penerbangan sipil mengambil langkah antisipatif dengan menghentikan operasional bandara dan membatalkan penerbangan guna mengutamakan keselamatan penumpang dan awak pesawat.

Sejumlah maskapai, termasuk Etihad Airways yang berbasis di Abu Dhabi, telah mengumumkan penangguhan penerbangan hingga waktu yang belum ditentukan. Maskapai tersebut meminta calon penumpang untuk tidak datang ke bandara dan memantau informasi resmi melalui situs web dan kanal komunikasi resmi perusahaan.

Penumpang juga diminta memanfaatkan layanan perubahan jadwal atau pengembalian dana yang disediakan secara daring. Hingga berita ini disiarkan, belum ada kepastian kapan operasional penerbangan akan kembali normal. Otoritas setempat menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi dan memastikan setiap langkah yang diambil mengutamakan keselamatan serta keamanan publik.

Bagi calon penumpang yang terdampak, disarankan untuk tetap berada di lokasi masing-masing dan tidak memaksakan diri menuju bandara sampai ada pengumuman resmi terkait pembukaan kembali operasional penerbangan.

Pos terkait