Kisah KH Idris dan Berdirinya Ponpes Lumpur Losari sebagai Awal Al Muhajirin

Screenshot 2022 12 30 08 30 00 08 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7 63ae3f374addee7e8d0b96a2
Screenshot 2022 12 30 08 30 00 08 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7 63ae3f374addee7e8d0b96a2

Sejarah Berdirinya Ponpes Al Muhajirin di Brebes

Pondok Pesantren (Ponpes) Al Muhajirin yang berada di Jl Kyai Idris, Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, memiliki sejarah panjang yang tak terlepas dari keberadaan Ponpes Yanbau’ul Ulum atau lebih dikenal dengan Ponpes Lumpur Losari. Keberadaan pesantren ini pada masa lalu dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi kolonialisme Hindia-Belanda.

Ponpes Lumpur Losari sendiri didirikan oleh KH Idris bin KH Ahmad Sholeh pada tahun 1874. Lokasinya berada di Dusun Lumpur, Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Brebes, Jawa Tengah. Pada awalnya, ponpes ini menjadi perhatian khusus bagi pihak kolonial Belanda. Seiring berkembangnya waktu, nama Ponpes Lumpur berganti menjadi Ponpes Yanbaul Ulum pada tahun 1974.

Pada tahun 1993, keturunan dari KH Idris mengembangkan Ponpes Lumpur dan memberinya nama baru, yaitu Ponpes Al Muhajirin. Saat itu, pembelajaran keagamaan hanya berfokus pada sebuah musala. Bahkan, jumlah santri yang ada hanya satu orang dari Kecamatan Losari.

Setelah 33 tahun berlalu, saat ini Ponpes Al Muhajirin telah berkembang pesat. Jumlah santri mencapai sekitar 150 orang, baik yang bermukim maupun santri kalong (belajar di pondok kemudian pulang).

Gus Raden Muhammad Syifaul Huda, pengasuh Ponpes Al Muhajirin, menjelaskan bahwa kawasan Losari, termasuk Brebes dan Cirebon, banyak didatangi oleh para keturunan Wali Songo, seperti Sunan Gunung Jati. Menurutnya, Pondok Lumpur merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati.

“Ponpes Lumpur Losari bahkan telah dikukuhkan oleh Santana dari Keraton Kasepuhan Cirebon, bahwa pendiri dari Ponpes Lumpur adalah keturunan dari Sunan Gunung Jati Cirebon,” ujarnya.

Keabsahan ini dibuktikan melalui manuskrip dari Keraton Kasepuhan Cirebon. “Saya diberitahu oleh kyai dari Ponpes Benda Kerep Cirebon, menurut buku manuskrip (silsilah) itu ada,” katanya.

“Termasuk Pokdok Lumpur, kempek, benda kerep, dan buntet itu satu kesatuan masih satu keluarga.”

“Keturunan dari Sunan Gunung Jati, Ponpes Lumpur Nyai Raden Ayu Soimah Binti KHR. Murtasim merupakan keturunan ke-13 dari Sunan Gunung Jati. Itu sudah valid, Santana dari Keraton Kecirebonan sudah turun mengukuhkan, dibuktikan dengan manuskripnya,” tambahnya.

KH Muslih Idris Hambali, pengasuh Ponpes Al Muhajirin, menyebut bahwa perpindahan nama Ponpes Yanbu’ul terjadi sekitar tahun 1973. Semakin banyaknya keturunan KH Idris yang sadar akan perjuangan leluhurnya, sehingga anak-anak, cucu, dan cicitnya mendirikan pondok pesantren di seluruh pelosok Indonesia. Ponpes Al Muhajirin salah satunya.

Periode awal Ponpes Al Muhajirin berawal dari pendirian Pondok Pesantren Al Qadnawi yang diasuh oleh KH Qadnawi, suami dari Nyai Sukainah binti KH Idris pada tahun 1900 M. Setelah KH Qadnawi meninggal, pondok pesantren dilanjutkan oleh anaknya, KH Abdullah Faqih, yang merupakan kakek dari KH Muslih, pengasuh Ponpes Al Muhajirin.

“Saat awal, santri di Ponpes Al Muhajirin hanya ada satu dari Desa Kedungneng Losari. Dulu, Ponpes Al Muhajirin kategorinya masih santri kampung karena santri hanya dari sekitar Kecamatan Losari,” paparnya.

KH Muslih menjelaskan bahwa pada masa itu, bangunan ponpes masih sederhana. Saat ini, musala telah mengalami pemugaran hingga tiga kali.

“Untuk ponpes disini seperti pada umumnya, setiap pagi setelah shalat Subuh santri melakukan tadarus Al-Quran. Bagi santri yang tidak mengikuti pembelajaran formal, diberikan pembelajaran Kitab Jurmiah, terutama tentang Nahwu Sorof,” jelasnya.

Sementara itu, silsilah di Ponpes Al Muhajirin merupakan keturunan atau generasi ke-5 dari KH Idris, yang merupakan pendiri Ponpes Lumpur.

Pos terkait