Kisah Pemburu Berkah Ramadan di Bandung: Omzet Jutaan dari Gorengan

Aa1xidpv
Aa1xidpv

Ramadan, Momen Berkah bagi Pedagang Takjil di Bandung

Di tengah kehangatan bulan suci Ramadan, warga Bandung khususnya yang tinggal di sekitar pasar tumpah Kiaracondong mengalami peningkatan aktivitas. Aroma minyak panas dan adonan tepung yang digoreng menyebar di udara, menciptakan kesan khas yang selalu dirindukan saat berbuka puasa. Di antara deretan pedagang takjil, Agus terlihat sibuk membolak-balik gorengan di wajan besar sambil melayani para pembeli.

Agus, seorang bapak lima orang anak, menjelaskan bahwa momentum Ramadan menjadi bulan yang dinantikan oleh semua umat muslim. Baginya, bulan suci ini tidak hanya membawa keberkahan dalam bentuk spiritual, tetapi juga meningkatkan permintaan dan pendapatan.

“Alhamdulillah, bulan Ramadan permintaan selalu meningkat. Pendapatan juga bertambah,” kata dia, saat berbincang dengan sumber lokal.

Menurut Agus, pendapatan bersihnya bisa mencapai Rp500-Rp600 ribu setiap hari. Penghasilan tersebut, menurutnya, setara dengan tiga hari berjualan di hari biasa.

“Jadi saya setiap yang beli, ditambahin satu. Itung-itung berbagi juga,” katanya dengan senyum ramah.

Selain menyediakan berbagai jenis gorengan, Agus juga menyediakan aneka macam kolak yang telah dibungkus. Hanya dengan merogoh kocek Rp5 ribu, pembeli bisa menikmati kolak ubi hingga pisang.

“Ini yang buat istri. Takjil itu selain gorengan, kan cari yang manis-manis,” imbuhnya.

Perjalanan Faizin, Pedagang Gorengan dari Cirebon

Di tempat lainnya, Faizin, seorang warga Cirebon, sudah dua tahun berjualan gorengan. Sebelumnya, ia sempat mengadu nasib di Cikarang dengan usaha berbeda. Namun, Ramadan tahun ini menjadi kali pertama ia mencoba peruntungan di depan Pusat Dakwah Islam (Pusdai).

“Dulu saya mangkalnya di Ampera sama di Cargo depan Geologi. Tapi tiap sore lihat depan rumah di Pusdai ramai sekali. Kok orang dari jauh-jauh ke sini, saya malah enggak ke sini?” katanya.

Rasa penasaran itu akhirnya membawanya pindah lapak. Sore itu, dagangannya belum sepenuhnya matang. Padahal, aneka macam gorengan yang sedang ditiriskan nampak menggunung.

“Ini belum seberapa, sebentar lagi penuh. Ada adonan yang belum dibuat,” ucapnya.

Ia menyebut, pemburu takjil di kawasan ini memang sudah terbiasa menjadikan jajanan kaki lima sebagai menu berbuka. Gorengan, kolak, hingga aneka minuman manis jadi favorit.

Dalam sehari selama Ramadan, Faizin bisa menggoreng sekitar 2.000 pieces gorengan. Ia membawa lebih dari pieces potong sekali angkut dalam wajan besar, dan totalnya bisa menembus lebih dari seribu potong hingga menjelang magrib.

“Kalau hari biasa kan dari pagi. Sekarang minimal keluar jam satu siang. Kalau kesiangan, enggak keburu gorengnya,” ujarnya.

Meski jumlah produksi meningkat, Faizin mengaku tak banyak mengubah pola jualan. Harga tetap ia tarif Rp5.000 untuk empat pieces gorengan.

“Ya, banyak yang bilang mumpung bulan puasa, ramai harga dinaikin. Enggak mau, saya yang penting mah barokah saja,” katanya.

Soal pendapatan, ia menuturkan omzet kotor bisa mendekati jutaan rupiah saat ramai, tetapi untuk bersihnya berkisar ratusan ribu rupiah per hari.

“Alhamdulillah, yang penting dapat berapa pun kita bersyukur,” katanya.

Di lapaknya tersedia cireng, tahu, risol, tempe, ubi, bala-bala, pisang, hingga bola-bola atau yang ia sebut “lubi-lubi”. Semua ditata sederhana di atas gerobak, sebagian baru akan digoreng saat pembeli berdatangan.

Pos terkait