Tradisi Tatung di Kota Singkawang yang Menarik Perhatian Dunia
Tradisi tatung dalam perayaan Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang tidak hanya menjadi bagian dari budaya lokal, tetapi juga menarik perhatian internasional. Selama festival berlangsung, banyak pengunjung dari luar kota maupun mancanegara datang ke Singkawang untuk menyaksikan atraksi unik dari para tatung.
Salah satu tokoh yang cukup dikenal adalah Suhu Pen Mutaji. Dengan nama asli Bongpen, pria yang kini berusia 30-an tahun ini telah mengabdikan dirinya sebagai tatung sejak lama. Ia menjelaskan bahwa panggilan sebagai tatung bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi merupakan bentuk dedikasi terhadap budaya dan spiritualitas.
“Salam budaya. Nama saya sebagai tatung dipanggil Suhu Pen Mutaji, nama asli saya Bongpen. Di Singkawang, orang-orang sudah cukup mengenal saya sebagai salah satu tatung yang aktif dalam setiap perayaan,” katanya saat diwawancarai pada Minggu, 1 Maret 2026.
Ia juga menjelaskan bahwa dirinya berada di bawah naungan Pekong Yayasan Jaya Manggala Datok Mutaji yang berada di Jalan Kridasana, Gg Makassar, Kota Singkawang. “Yayasan ini sudah lama menjadi bagian dari kegiatan budaya dan keagamaan di Kota Singkawang,” ujarnya.
Persiapan Festival Cap Go Meh
Menjelang Festival Cap Go Meh yang akan digelar pada tanggal 3 Maret mendatang, Suhu Pen Mutaji mengatakan bahwa persiapan yang dilakukan tidak terlalu rumit. Sebab, tradisi ini selalu berlangsung setiap tahunnya.
“Kalau untuk persiapan, sebenarnya perlengkapan kami sudah lengkap sejak lama karena setiap tahun kami ikut serta. Jadi tinggal mempersiapkan diri saja,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa setiap tahun, budaya ini semakin dihargai dan semakin ramai. Tidak hanya itu, Kota Singkawang juga menunjukkan toleransi yang luar biasa terhadap para tatung. “Persiapan tentu ada dukungan dari para donatur juga. Kami bersyukur karena setiap tahun selalu ada yang membantu, sehingga kegiatan ini bisa berjalan lancar,” tambahnya.
Ritual dan Persiapan Lainnya
Selain persiapan fisik, Suhu Pen Mutaji juga menjalani ritual khusus sebelum tampil. Ia mengatakan bahwa sebagai tatung, ia menjalani ritual seperti puasa, yang dilakukan sekitar tiga hari sebelumnya. Selain itu, ada pantangan-pantangan tertentu, seperti menjaga kebersihan diri lahir dan batin.
Lanjutnya, tidak semua tatung menjalankan dengan cara yang sama, tapi pada prinsipnya yang sama yakni membersihkan diri dan mempersiapkan batin. “Kami menjalaninya dengan keyakinan dan percaya diri, serta memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para Dewa agar diberikan kelancaran dan keselamatan,” ucapnya.
Bahkan kata dia, persiapan ini bukan hanya tiga hari, tapi sudah berbulan-bulan sebelumnya. Termasuk latihan, kesiapan mental, dan perlengkapan atraksi. Kemudian untuk perlengkapan saat tampil nanti, ia bersama rekannya akan membawa enam tandu. Namun juga perlengkapan lain seperti gendang dan atribut pendukung. “Semua sudah dipersiapkan sebelum Imlek. Jadi saat Cap Go Meh tinggal pelaksanaan saja,” katanya.
Pengalaman Sebagai Tatung
Suhu Pen Mutaji juga bercerita tentang dirinya yang sudah menjadi tatung sejak usia 12 tahun, dan hingga sekarang. “Jadi sampai sekarang sudah puluhan tahun menjalani ini sebagai bagian dari panggilan budaya dan spiritual,” ungkapnya.
Ia pun berharap dengan pelaksanaan Festival Cap Go Meh pada 3 Maret mendatang dapat berjalan dengan lancar. Serta menyampaikan harapan agar Festival Cap Go Meh tahun ini sukses dan membawa kebaikan bagi Kota Singkawang. “Harapan kami sebagai tatung tentu semoga cuaca mendukung, diberi kelancaran, keamanan, dan semua berjalan sesuai harapan. Kami yakin dan percaya, dengan doa dan persiapan yang matang, semuanya bisa berjalan lancar,” tutupnya.





