Tradisi Ngabuburit di Pasar Jepara 1
Di tengah suasana Ramadan, kawasan belakang Pasar Jepara 1 Kecamatan Kota, Kabupaten Jepara menjadi tempat yang ramai setiap sore. Deru sepeda motor saling bertaut menghiasi pertigaan yang berada di dekat Jalan Patimura, Jalan Pelabuhan, dan Jalan Kyai Ronggo Mulyo. Lokasi ini menjadi pusat aktivitas masyarakat yang sedang mencari takjil untuk buka puasa.
Setiap pukul 16.00 WIB hingga waktu Maghrib tiba, ribuan warga datang silih berganti ke kawasan tersebut. Mereka datang dengan tujuan yang sama, yaitu mencari berbagai jenis menu takjil. Mulai dari jajanan ringan, makanan berat, hingga aneka minuman segar yang bisa dinikmati saat berbuka puasa.
Momen mendekati waktu berbuka puasa menjadi puncak dari kegiatan ngabuburit. Banyak pedagang yang terlihat kesulitan karena dikerumuni oleh warga yang antusias memilih takjil. Berbagai jenis makanan tersaji di sini, seperti sate ayam, olahan ikan laut, gorengan, lauk-pauk, dan minuman segar. Tidak hanya itu, ada juga pedagang yang spesialis dalam menjual rebusan seperti ketela rebus, singkong rebus, getuk, serta beragam kacang-kacangan rebus.
Ngabuburit tidak hanya sekadar mencari makanan, tetapi juga menjadi cara bagi masyarakat muslim untuk menunggu waktu buka puasa. Dengan begitu, waktu menunggu terasa lebih cepat. Seperti yang diungkapkan Eni Lestari (24), warga Jepara yang ikut serta dalam kegiatan berburu takjil di kawasan tersebut.
Eni mengatakan bahwa ia lebih senang memilih takjil yang bernuansa merakyat dengan harga murah. Ia menghindari jajanan jungfood yang dinilai kurang sehat. Menurutnya, makanan yang aman dan tidak terlalu pedas atau asin adalah pilihan terbaik untuk buka puasa.
Pengalaman Pedagang Selama Ramadan
Umu Kulsum, salah satu pedagang yang menjajakan menu buka puasa di belakang Pasar Jepara 1, memiliki pengalaman unik selama bulan Ramadan. Dia sudah 20 tahun berjualan aneka jajanan pasar hingga lauk pauk. Setiap harinya, dia dibantu oleh anak perempuannya yang aktif berjualan di tempat yang sama ketika siang-sore hari.
Pada momentum Ramadan, waktu berdagang Umu Kulsum dimulai sore hari hingga pukul 21.00 WIB di tempat yang sama. Baginya, hal yang paling menyenangkan adalah ketika semua dagangannya laku terjual. Pada dua hari pertama Ramadan, semua barang yang dijual habis. Namun, jumlah penjualan mulai berkurang, meski akan meningkat lagi menjelang Lebaran.
Setiap Ramadan, Umu Kulsum tidak pernah absen berjualan. Bahkan, ia tetap berjualan ketika malam Lebaran tiba dengan menjajakan aneka makanan khas Hari Raya Idulfitri, seperti lontong opor dan kupat opor.
Bagi Umu Kulsum, berdagang merupakan suatu kesibukan yang menyenangkan, meskipun usianya tidak muda lagi. Ia ditemani oleh anak perempuannya yang dengan ikhlas membantu orangtua mengais rezeki.
Sore menjelang buka puasa selalu ramai, sedangkan ketika waktu berbuka puasa sepi. Nanti setelah Isya, biasanya setelah Tarawih ramai lagi beli untuk sahur. Umu Kulsum berharap apa yang dikerjakan setiap harinya mendatangkan berkah bagi keluarga. Ia juga berharap bisa tetap istiqomah menjadi pedagang yang ramah bagi masyarakat.





