Pengalaman Pribadi dalam Mengamati Konflik Israel-Palestina
Sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan pascasarjana di luar negeri, saya memiliki pengalaman unik dalam memahami dinamika konflik Israel dan Palestina. Perjalanan intelektual ini membuka wawasan baru tentang kompleksitas isu ini, terutama dari sudut pandang politik, agama, dan budaya.
Pengalaman Awal dengan Konflik
Pada awalnya, saya hanya berempati pada rakyat Palestina karena mereka adalah saudara-saudari Muslim yang ditindas. Namun, semakin banyak informasi yang saya baca, semakin saya menyadari bahwa konflik ini tidak sekadar soal agama. Di Palestina, bukan hanya Muslim yang menderita, tetapi juga orang-orang Kristen dan bahkan beberapa individu Yahudi yang tidak sepakat dengan tindakan pemerintah Zionis.
Saya pernah belajar metodologi penelitian dengan seorang dosen keturunan Yahudi di Kanada. Dia seorang Yahudi Ortodoks yang sangat taat pada ajaran agamanya. Dalam kehidupan sehari-harinya, dia menjalankan ritual-ritual keagamaan seperti tidak menggunakan kendaraan bermotor pada hari Sabtu dan melaksanakan doa-doa berbahasa Ibrani. Meskipun demikian, dia tidak pernah menunjukkan sikap benci terhadap Islam. Bahkan, dia sangat baik dan dekat dengan para mahasiswa, termasuk yang Muslim.
Wawasan dari Kajian Ilmiah
Ketika melanjutkan studi S-3 di Belanda, saya menghadiri kuliah umum oleh pemikir Mesir, Hassan Hanafi, yang membahas topik “Oksidentalisme”. Menurutnya, orang Timur harus mempelajari Barat sebagaimana Barat mempelajari Timur. Hal ini mengingatkan saya pada karya Edward Said yang telah membongkar watak kolonial dalam orientalisme.
Saya juga tertarik dengan karya-karya Hassan Hanafi, terutama tentang “Kiri Islam”, yang diterbitkan oleh anak muda NU di Yogyakarta. Sebagai mahasiswa, saya mencoba menantang Hanafi dalam sesi tanya jawab. Pertanyaan saya tentang fungsi kajian Oksidentalisme mendapat jawaban yang menarik: pengetahuan tidak hanya sekadar gagasan, tetapi juga berfungsi membebaskan manusia.
Interaksi dengan Mahasiswa Asal Israel
Suatu hari, saya bertemu dengan seorang mahasiswa asal Israel di asrama tempat saya tinggal. Saat itu, Israel sedang menyerang dan mengurung pemimpin Palestina, Yasser Arafat. Kami sering berkumpul di dapur sambil menonton berita TV. Suatu hari, saya berkomentar bahwa kita harus melawan dengan tindakan, bukan hanya mengutuk. Teman Eropa saya menjawab bahwa PBB memang lemah, tetapi masih dibutuhkan dalam banyak hal.
Beberapa hari kemudian, saya kembali bertemu dengan mahasiswa Israel tersebut. Tiba-tiba, dia berkata, “Setiap Muslim berpotensi menjadi teroris, termasuk kamu. Kami mengikuti kamu (We are following you).” Saya kaget, tetapi mencoba menahan emosi. Saya hanya menjawab singkat, “Oh ya.”
Kejadian ini membuat saya sadar bahwa identitas ras atau bangsa tidak selalu menentukan pandangan politik seseorang. Namun, ada titik temu yang bisa mengikat semua pihak, seperti Piagam Hak Asasi Manusia yang dirumuskan PBB pada 1948.
Kesimpulan dan Refleksi
Dalam kasus Palestina, tampak jelas bahwa hukum rimba berlaku. Yang kuat selalu benar, dan kejahatan diberi pembenaran oleh para pendukungnya. Politik seringkali lebih mengutamakan menang daripada benar-salah.
Namun, sebagai manusia, kita tidak bisa terlepas dari soal benar-salah dan adil-zalim. Tanpa moral, kita bukan lagi manusia, tetapi binatang. Sejarah mencatat banyak tokoh yang berjuang melawan kezaliman meskipun akhirnya kalah. Itulah pilihan moral.
Saat terjadi pertarungan, kita harus memilih pihak mana yang akan kita dukung: yang menindas atau yang ditindas? Ketika kezaliman tampak di depan mata, apakah kita akan menggunakan jabatan, mulut, atau pena untuk menegurnya? Atau hanya sekadar menolak di dalam hati? Yang terakhir ini adalah iman yang lemah, tetapi sungguh ironis jika kita justru mendukung para penindas!





