KMP Bantu Masyarakat Kecil, 62 Koperasi Merah Putih Beroperasi Tanpa Gedung Sendiri

3536702818
3536702818

Koperasi Merah Putih: Inisiatif untuk Membantu Masyarakat

Di sebuah sudut Kelurahan Jagabaya, Kecamatan Way Halim, Bandar Lampung, berdiri Koperasi Merah Putih yang masih terbilang muda. Usianya baru hitungan lima bulan. Sejak beroperasi pada September 2025, koperasi ini perlahan menjadi tempat warga mencari kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.

Di balik aktivitasnya yang sederhana, tersimpan harapan besar: membantu masyarakat kecil mendapatkan bahan pokok murah sekaligus menjadi pusat distribusi kebutuhan warga. Sudah lebih dari 2.000 desa/kelurahan di Lampung telah mendirikan Koperasi Merah Putih. Namun, baru 27 koperasi yang sudah memiliki gedung sendiri.

Salah satu tujuan pendirian Koperasi Merah Putih adalah untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), yakni dengan menyalurkan bahan bakunya. Dengan begitu, diharapkan perekonomian di desa/kelurahan mendapatkan imbas yang positif.

Sution, pengelola Koperasi Merah Putih Jagabaya, menceritakan bahwa Koperasi Merah Putih awalnya berangkat dari penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). “Kalau aktivitas Koperasi Merah Putih ini mulai berjalan dari bulan September 2025. Awalnya kami fokus dari beras SPHP yang memang ditujukan untuk masyarakat menengah ke bawah,” ujarnya saat ditemui, Jumat (27/2/2026).

Selain beras SPHP, koperasi tersebut juga mulai menyediakan kebutuhan lain seperti minyak goreng hingga air mineral. Air mineral tersebut bahkan bisa dipesan warga dengan sistem pembayaran yang lebih fleksibel. Sebagian bisa dibayar di awal, dan sisanya setelah kegiatan selesai.

Bagi warga sekitar, koperasi ini dikenal sebagai tempat belanja yang lebih murah dibandingkan toko biasa. Sution menyebut, harga beras SPHP di pasaran bisa mencapai Rp 62 ribu per sak, namun koperasi berupaya menekan harga agar tetap terjangkau. “Kita berusaha supaya masyarakat bisa belanja lebih murah. Kalau di pasaran bisa sampai Rp 62 ribu, kami usahakan di bawah Rp 60 ribu untuk pengecer,” katanya.

Meski membawa semangat membantu warga, perjalanan koperasi ini tidak selalu mudah. Tantangan datang dari berbagai sisi, mulai dari keterbatasan modal hingga berbagai isu yang berkembang di masyarakat soal pendanaan koperasi. Menurut Sution, hingga kini koperasi masih mencari sumber pendanaan tambahan, termasuk membuka peluang kerja sama melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Di tengah keterbatasan tersebut, koperasi juga menyimpan harapan bisa berkolaborasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam penyediaan bahan kebutuhan dapur. Namun kerja sama itu belum berjalan maksimal karena sebagian dapur masih belum aktif. “Harapan kami ke depan bisa bekerja sama dengan SPPG. Kalau dapur-dapur itu aktif dan ambil bahan dari koperasi, tentu sangat membantu,” ujarnya.

Selain soal pasokan, persoalan lain yang dirasakan adalah keterbatasan armada distribusi. Karena itu, wacana bantuan kendaraan operasional disambut positif oleh pengelola koperasi. “Kalau memang ada bantuan armada tentu sangat membantu, karena koperasi butuh kendaraan untuk distribusi barang,” katanya.

Bagi Sution, koperasi ini bukan sekadar tempat jual beli. Lebih dari itu, koperasi menjadi simbol gotong royong ekonomi warga. Dengan rak-rak sederhana berisi beras dan kebutuhan pokok, Koperasi Merah Putih Jagabaya terus bertahan. Di tengah keterbatasan, mereka menyimpan harapan agar koperasi bisa tumbuh dan benar-benar menjadi sandaran ekonomi masyarakat sekitar.

Koperasi Merah Putih di Lokasi Lain

Kondisi berbeda ditemui di Koperasi Merah Putih yang berlokasi di Kelurahan Kedamaian, Kecamatan Kedamaian. Bangunan yang berada di kantor Kelurahan Kedamaian bentuknya mirip seperti pos jaga. Hanya terlihat ruangan berukuran sekitar 4 x 3 meter persegi yang dicat warna merah dan putih serta ada sedikit warna abu-abu.

Pada bagian luar ada tempat tunggu beratap baja ringan, tersedia bangku. Namun, tempat tunggu tersebut malah dipakai untuk parkir kendaraan. Ada banner bertuliskan Gerai Koperasi Merah Putih Kedamaian AHU-0010983.AH.01.29 Tahun 2025 Kecamatan Kedamaian, Kota Bandar Lampung. Banner tersebut menegaskan bahwa lokasi itu menjadi tempat Koperasi Merah Putih kelurahan tersebut.

Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandar Lampung memastikan sebanyak 62 Koperasi Merah Putih yang ada sudah beroperasi dan berbadan hukum. Sejauh ini, dari target 162 Koperasi Kelurahan Merah Putih di Bandar Lampung, telah berdiri sebanyak 62 gerai. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandar Lampung Riana Apriana mengungkapkan, jumlah Koperasi Merah Putih yang ada sesuai dengan jumlah kelurahan di Bandar Lampung.

“Sebanyak 162 Koperasi Merah Putih sesuai dengan jumlah kelurahan yang ada di Bandar Lampung. Semuanya sudah berbadan hukum,” ujar Riana, Kamis (26/2/2026). Dari jumlah itu, baru sekitar 62 koperasi yang sudah mempunyai gerai usaha dan beroperasi. Meski begitu, semua koperasi tersebut belum memiliki gedung sendiri.

Progres Pembangunan Koperasi Merah Putih

Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Lampung menyebut progres pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih terus berjalan. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Lampung Evi Fatmawati mengatakan, saat ini sudah ada sekitar 27 titik yang selesai. “Per tanggal 19 lalu baru 27 Koperasi Merah Putih yang selesai 100 persen. Tapi tiap hari ada penambahan, kemungkinan sejauh ini mencapai 40 unit yang rampung 100 persen dalam waktu dekat,” kata Evi saat dikonfirmasi, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, pembangunan Koperasi Merah Putih merupakan program yang dilaksanakan secara top-down oleh pemerintah pusat, termasuk standar bangunan, fasilitas, hingga perlengkapan di dalamnya. Seluruh pembangunan fisik, kata dia, dikoordinasikan oleh TNI melalui Kodam dan Kodim di masing-masing wilayah, sehingga data teknis pembangunan berada di satuan tersebut.

“Data lengkap itu ada di Kodim dan Kodam yang membangun. Kita koordinasi terus untuk mendapatkan update terakhir progresnya,” jelasnya. Ia menambahkan, sejumlah daerah yang progresnya sudah mendekati 90 persen di antaranya berada di Lampung Selatan, Tanggamus, dan Lampung Utara. Meski pembangunan fisik belum seluruhnya rampung, Evi memastikan Koperasi Merah Putih di tingkat desa dan kelurahan sebenarnya sudah berjalan secara kelembagaan.

“Kalau koperasinya sudah jalan semua. Yang bangunan fisiknya saja yang belum seluruhnya 100 persen,” ujarnya. Untuk fasilitas gerai atau unit layanan di dalam Koperasi Merah Putih, saat ini masih dalam tahap pembangunan dan belum seluruhnya selesai.

Terkait fasilitas kendaraan operasional yang sempat menjadi pembahasan di tingkat pusat, Evi menegaskan daerah hanya mengikuti kebijakan dari pemerintah pusat. “Itu kebijakan pusat. Daerah sifatnya menerima dan mengikuti saja, karena semua sudah diseragamkan mulai dari bangunan, fasilitas, sampai perlengkapan di dalamnya,” kata dia.

Ia menjelaskan, standar tersebut dibuat seragam di seluruh Indonesia, mulai dari desain bangunan, ukuran, hingga jenis fasilitas seperti pendingin ruangan dan kendaraan operasional. “Semua diseragamkan, supaya tidak ada perbedaan antardaerah. Jadi kalau ada yang berbeda, itu bisa menjadi temuan saat pemeriksaan,” ujarnya.

Evi juga memastikan program Koperasi Merah Putih akan menjangkau seluruh desa, termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Lampung seperti Way Haru, Pulau Sebesi, dan Pulau Pisang. “Semua desa akan dapat, termasuk wilayah 3T. Selama bangunan Koperasi Merah Putih terbangun, fasilitasnya akan dilengkapi oleh pusat,” kata dia. Namun demikian, desa yang tidak memiliki lahan atau belum dapat membangun gedung Koperasi Merah Putih, belum bisa memperoleh fasilitas tersebut.

“Kalau tidak terbangun fisiknya, ya belum bisa mendapatkan fasilitas. Karena sistemnya satu paket dari pusat,” jelasnya. Pihaknya saat ini masih terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan target pembangunan Koperasi Merah Putih di Lampung dapat tercapai sesuai jadwal. Disinggung terkait Koperasi Merah Putih yang sudah selesai, ia menyebut ada beberapa wilayah di antaranya di Desa Bumi Sari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan dan Desa Bandar Negara, Kecamatan Negeri Agung, Kabupaten Way Kanan.


Pos terkait