Jumlah Jemaah Umrah Asal Sumbar di Makkah Saat Konflik Timur Tengah
Padang – Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sumatra Barat mencatat sebanyak 2.500 jemaah umrah asal Ranah Minang sedang berada di Makkah saat terjadi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Plt. Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sumbar, M. Rifki menyampaikan bahwa hingga kini belum ada informasi yang mengkhawatirkan tentang kondisi para jemaah tersebut. Artinya, mereka masih dalam keadaan aman dan baik-baik saja.
“Dalam waktu dekat akan ada yang kembali ke Sumbar, diperkirakan 5 Maret 2026 mereka mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Saya berharap kepulangan para jemaah umrah ini berjalan lancar,” ujarnya pada Senin (2/3/2026).
Menurut Rifki, keberangkatan jemaah umrah asal Sumbar menggunakan penerbangan langsung dari BIM menuju Jeddah. Hal ini membuat mereka tidak terganggu oleh adanya konflik Iran-Israel. Ia menjelaskan bahwa jika penerbangan langsung menuju Jeddah masih aman, namun jika harus transit ke Qatar maka tidak ada penerbangan lagi. Informasi ini akan terus diupdate oleh pihaknya.
Rifki menambahkan bahwa keberangkatan jemaah umrah di Sumbar dilakukan rutin setiap pekannya dengan jumlah sekitar 1.000 orang per minggu melalui maskapai Lion Air. Jadwal penerbangannya hanya hari Senin dan Rabu. Hari ini ada jemaah umrah yang berangkat menggunakan maskapai Lion Air, dan hingga kini belum ada informasi lebih lanjut.
Minat masyarakat Sumbar untuk melakukan perjalanan umrah sangat tinggi. Rata-rata per tahun, sebanyak 50.000 masyarakat Sumbar berangkat umrah ke Makkah. Oleh karena itu, menyikapi kondisi konflik Iran-Israel dan Amerika Serikat, Rifki mengimbau masyarakat untuk memantau situasi konflik tersebut agar bisa mengambil keputusan yang baik.
“Kami menyarankan kepada masyarakat Sumbar untuk menunda perjalanan umrah ke Makkah karena konflik yang terjadi benar-benar terbilang cukup memanas,” ujarnya.
Rifki juga menyampaikan bahwa sesuai arahan dari Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, pemerintah mengimbau jemaah umrah yang dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya hingga kondisi kembali kondusif. Pemerintah berharap masyarakat Sumbar khususnya memprioritaskan keselamatan dan menunda keberangkatan ke Makkah untuk melaksanakan umrah.
Terkait kondisi 2.500 jemaah umrah asal Sumbar yang saat ini berada di Makkah, Rifki menjelaskan bahwa jika nanti ada kendala pemulangan para jemaah, pemerintah akan melakukan upaya-upaya agar jemaah tidak terjebak di Makkah akibat konflik di Timur Tengah.
Sebelumnya, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa himbauan untuk menunda keberangkatan ke Makkah merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah dalam memastikan keamanan warga negara. Ia menyampaikan bahwa kondisi Timur Tengah yang tidak menentu dan eskalasi konflik yang semakin tinggi menjadi alasan utama pengambilan kebijakan ini.
Dia juga meminta seluruh jemaah umrah yang saat ini berada di Arab Saudi beserta keluarga di Tanah Air tetap tenang dan tidak panik. Kementerian Haji dan Umrah RI bersama Kementerian Luar Negeri RI terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi, maskapai penerbangan, serta Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) guna memastikan jemaah yang mengalami penundaan kepulangan dapat tertangani dengan baik.
“Kami terus berkoordinasi dengan pihak Arab Saudi, maskapai, dan PPIU agar jemaah yang tertunda kepulangannya dapat ditampung di hotel maupun tempat-tempat lain yang aman dan layak,” tambahnya.
Selain itu, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Semua pihak diminta merujuk pada sumber resmi pemerintah guna menghindari kesimpangsiuran informasi yang dapat menimbulkan keresahan.





