Situasi di Makkah dan Kepulangan Jemaah Umrah
Laporan terkini dari Bupati Jember, Muhammad Fawait (Gus Fawait), menyebutkan bahwa situasi di Kota Makkah tidak terpengaruh oleh gempuran militer yang terjadi di Iran. Meskipun ada kabar mengenai penutupan ruang udara di beberapa negara tetangga, Gus Fawait berencana untuk tetap melakukan kepulangan pada Rabu (4/3/2026) sesuai jadwal.
Selain menjalankan ibadah, Gus Fawait juga aktif berkoordinasi dengan KBRI di Iran untuk memantau keselamatan warga Jember yang berada di wilayah konflik tersebut. Dalam pesan suara yang dikirimkan pada Senin (2/3/2026), ia memastikan bahwa seluruh rombongan jemaah dalam kondisi baik dan hingga kini belum ada pemberitahuan resmi mengenai pembatalan penerbangan dari otoritas Arab Saudi.
Perang di Timur Tengah dan Dampaknya
Israel dan AS telah melancarkan serangan “Lion’s Roar” terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Operasi gabungan ini menargetkan fasilitas militer, pertahanan udara, dan kemungkinan lokasi dekat pusat pemerintahan Iran. Presiden AS, Donald Trump, menyebut operasi tersebut sebagai “major combat operations” yang dimaksudkan untuk menekan kemampuan militer Iran dan menghadapi apa yang disebutnya sebagai ancaman terhadap keamanan AS dan sekutunya.
Situasi tersebut turut memengaruhi kawasan lain di Timur Tengah, tidak terkecuali Kota Makkah di Arab Saudi yang saat ini tengah dipadati umat Muslim yang menjalankan ibadah umrah, terutama menjelang bulan suci Ramadhan. Gus Fawait yang kini tengah melakukan ibadah umrah mengungkapkan situasi di Kota Makkah dalam keadaan aman.
“Alhamdulillah kami di sini bersama rombongan semua jemaah umrah baik-baik saja. Situasi di Makkah berjalan dengan baik tidak terpengaruh apa pun,” ujarnya melalui pesan suara via WhatsApp dari Arab Saudi, Senin (2/3/2026).
Menurut Gus Fawait, beberapa negara kabarnya melakukan pembatalan penerbangan di bandara dan penutupan areal udara akibat perang di Timur Tengah ini. Namun, kata dia, hingga sekarang pemerintah Arab Saudi belum mengeluarkan pemberitahuan resmi.
“Kami belum menerima pembatalan penerbangan. Insyaallah kami lakukan pada hari Rabu (4/2/2026) mohon doanya mudah-mudahan berjalan dengan baik,” ucap pria yang akrab disapa Gus Fawait ini.
Koordinasi Perlindungan WNI dan Dampak Ekonomi Global
Selain itu, Fawait mengaku juga berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Iran untuk memantau kondisi warga Jember yang berada di negara konflik itu. “Kami terus pantau WNI terutama warga Jember yang berada di Iran. Namun tentu kami berharap kondisi ini berangsur-angsur membaik dan berjalan dengan baik,” tambahnya.
Mengingat, lanjutnya, pertempuran militer AS-Israel melawan Iran akan membawa dampak buruk terhadap ekonomi banyak negara di dunia. “Hampir semua negara menganut open economic dengan membuka ekspor-impor. Secara geografis Iran merupakan negara penghubung antara (negara) Barat dan Timur,” ucap Fawait.
Oleh karenanya, Fawait menilai perang di negara ini akan mengganggu jalur distribusi perdagangan internasional, sehingga banyak negara yang akan dirugikan secara ekonomi. “Tentu ini tidak menguntungkan. Kami minta kepada seluruh jemaah umrah untuk terus berdoa mudah-mudahan kondisi bisa kembali damai dan stabil,” imbuhnya.
Kesaksian Jemaah Asal Ponorogo dan Potensi Perubahan Rute
Senada dengan hal tersebut, Moh Habib Abidulloh, salah satu warga Kabupaten Ponorogo yang saat ini berada di Makkah, mengatakan bahwa kondisi di Tanah Suci masih aman. “Aman mbak kalau di Makkah alhamdulillah aman,” ungkapnya, Minggu (1/3/2026).
Habib Abidulloh berencana balik ke tanah air sekitar dua hari sebelum lebaran atau tanggal 17 Maret 2026 dengan tiket yang sudah di tangan. “Tapi sampai sekarang belum ada penundaan. Kata mutawif (pembimbing umrah) aman kalau penerbangan dari Jeddah langsung Indonesia,” kata Habib.
Menurut kabar yang didapat, kemungkinan rute penerbangan akan memutar dan tidak melalui Iran seperti sebelumnya. “Kemarin tanya sama mutawif bilang lewatnya agak muter dan biasanya lewat jalur Iran juga sudah di atas. Situasi seperti ini muter. Hingga sampai hari ini belum ada pemberitahuan pembatalan untuk saya dan rombongan,” urainya.
Kendala Jemaah di Madinah
Habib mengatakan cerita dari mutawif ada beberapa jemaah umrah yang curhat mereka tertahan di Madinah dan tidak bisa pulang ke Indonesia. “Yang hari ini pulang lewat Madinah katanya ada yang masih tertahan karena ketegangan konflik Timur Tengah. Semoga segera teratasi,” harapnya.
Kemenhaj Minta Jemaah Umrah Tunda Berangkat
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) meminta semua calon jemaah umrah untuk membatalkan keberangkatan dalam waktu dekat ini. Para jemaah diminta harus menunda keberangkatan demi alasan keamanan. Keputusan tersebut juga diperkuat dengan surat resmi dari Kementerian Luar Negeri yang resmi meminta penundaan keberangkatan ke daerah Timur Tengah menyusul makin meluasnya eskalasi konflik.
Akibatnya, keselamatan perjalanan dipertaruhkan, sehingga Kemenlu meminta penundaan bagi jemaah yang hendak berangkat ke Arab Saudi maupun WNI yang hendak bepergian ke kawasan tersebut.
Plt Kepala Kanwil Kemenhaj Jatim, Asadul Anam, menuturkan pihaknya juga meminta seluruh penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) untuk mempertimbangkan betul risiko keselamatan jemaah. “Kemenhaj pusat sudah resmi meminta semua jemaah umrah yang hendak berangkat ditunda dulu. Kemenhaj Jatim siap melanjutkan keputusan itu hingga sampai ke jemaah umrah melalui PPIU di Jatim,” kata Anam, Senin (2/3/2026).
Nasib 9.400 Jemaah Umrah Jatim di Arab Saudi
Momen Ramadhan menjadi saat yang paling dinantikan jemaah, sehingga banyak yang memilih berangkat pada bulan suci ini. Namun, kondisi keamanan Timur Tengah saat ini berpotensi mengancam keselamatan wilayah dan jemaah. Khusus Jawa Timur, saat ini tercatat ada sekitar 9.400 jemaah umrah yang sudah lebih dulu berada di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah Ramadhan.
Nasib kepulangan mereka kini menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Eskalasi perang yang meluas berdampak pada pelaksanaan ibadah, namun keselamatan dan keamanan tetap menjadi prioritas utama.
Imbauan resmi Kemenhaj meminta jemaah yang saat ini berada di wilayah Timur Tengah untuk tetap tenang dan mengikuti arahan terkini dari maskapai, PPIU, Konjen RI di Jeddah, KBRI Riyadh, serta otoritas terkait.
Anam menjelaskan bahwa 9.400 jemaah tersebut terancam tertahan di sana akibat situasi ini. “Semoga seluruh jemaah umrah kita aman dan selamat kembali ke Tanah Air,” pungkas Anam.





