Kondisi psikologis Raihan, mahasiswi UIN Suska Riau, yang tak merasakan kehangatan keluarga

Aa1x9pmj 1
Aa1x9pmj 1

Peristiwa Membacok yang Menggemparkan Kampus

Sebuah kejadian tragis terjadi di kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, di mana seorang mahasiswa tega membacok rekan satu jurusannya. Kejadian ini menimbulkan rasa kaget dan prihatin di kalangan masyarakat akademik.

Raihan Mufazzar, seorang mahasiswa semester VIII jurusan Ilmu Hukum, melakukan aksi nekat tersebut pada Kamis, 26 Februari 2026. Ia menyerang Farradhila Ayu Pramesti, yang dikenalnya selama menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Aksi ini terjadi ketika Farra sedang bersiap mengikuti seminar proposal atau sempro di lantai II Fakultas Syariah dan Hukum.

Peristiwa ini bukanlah tindakan spontan. Penyelidikan mengungkap bahwa tindakan tersebut telah direncanakan dengan dingin. Dari kediamannya di Bangkinang, Kabupaten Kampar, Raihan disebut telah merancang aksinya. Ia mengasah kapak, menyembunyikannya di dalam tas, lalu berangkat menuju kampus dengan niat yang telah dipupuk dalam pikirannya.

Latar Belakang Motif Tindakan

Motif di balik tindakan keji tersebut ternyata berakar pada rasa sakit hati dan kekecewaan. Raihan merasa dikhianati setelah Farra memutuskan untuk mengakhiri kedekatan mereka. Ia merasa hubungannya dengan Farra sudah seperti sepasang kekasih, namun Farra tidak merasakan demikian. Bahkan, ia sudah memiliki pacar.

Ketidakmampuan dalam menerima penolakan dan mengelola emosi membuat Raihan gelap mata dan membacok Farra. Hal ini menunjukkan bahwa masalah psikologis bisa menjadi faktor pemicu tindakan ekstrem.

Kondisi Psikologis Terduga Pelaku

Tim Psikologi Biro SDM Polda Riau mulai mendalami kondisi kejiwaan Raihan Mufazzar (21), tersangka yang nekat membacok mahasiswi UIN Suska Riau bernama Faradilla Ayu Pramesti (23). Pendampingan yang dilakukan pada Senin (2/3/2026) ini bertujuan untuk menelusuri latar belakang perilaku tersangka yang tega menyerang korban menggunakan kapak.

Peristiwa ini terjadi pada Kamis (26/2/2026) pagi di area kampus, saat Fara sedang bersiap mengikuti seminar proposal (sempro) tugas akhir KKN.

Tanpa peringatan, Raihan yang merupakan rekan satu jurusannya di Ilmu Hukum datang membawa kapak serta parang. Ia menyerang Fara secara membabi buta hingga korban mengalami luka serius di kepala, lengan, dan punggung.

AKBP Dr. Winarko yang memimpin tim psikologi mengungkapkan bahwa Raihan merupakan sosok yang introvert. Dari penelusuran sementara, tersangka diketahui tumbuh tanpa merasakan kehangatan yang cukup di lingkungan keluarganya. Meski memiliki latar belakang tersebut, Raihan menunjukkan penyesalan saat menjalani proses pemeriksaan di tahanan.

Dinamika Hubungan Sepihak

Penyelidikan polisi mengungkap bahwa Raihan dan Fara sebenarnya sempat memiliki kedekatan, namun hubungan tersebut mulai merenggang sejak November 2025. Perubahan sikap Fara membuat Raihan menarik diri dari lingkungan hingga memutuskan berhenti aktif kuliah pada periode tersebut.

Raihan diduga memiliki persepsi bahwa kedekatan mereka di masa lalu berarti ia sudah memiliki Fara sepenuhnya. Sementara itu, Fara yang dikenal ceria dan mudah bergaul tetap menganggap hubungan mereka hanya sebatas teman biasa.

“Kami tanyakan hubungan seperti apa, tersangka menyatakan dia merasa lebih dari sekadar teman, namun korban sendiri tidak merasakan hal yang sama,” kata Kasatreskrim Polresta Pekanbaru, AKP Anggi Rian Diansyah.

Saat menjalani interogasi awal, Raihan sempat berkilah dan mengaku tidak berniat menghabisi nyawa Fara. Setelah ditekan, Raihan akhirnya memberikan pengakuan yang berbeda. Saat penyidik bertanya tanpa menyorotkan kamera secara langsung, Raihan spontan menganggukkan kepala ketika ditanya apakah targetnya memang ingin membunuh korban.

Pos terkait