Konflik AS-Israel-Iran Ancam Ekonomi dan Rantai Pasok Global Indonesia

Aa1xicsw 1
Aa1xicsw 1



JAKARTA — Serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, serta kemungkinan retaliasi lanjutan, berpotensi mengganggu jalur distribusi rantai pasok global. Hal ini dapat memicu kenaikan harga komoditas energi, terutama minyak dan gas. Jika konflik ini berkembang lebih luas dan melibatkan negara-negara besar lainnya, dampaknya bisa sangat besar bagi stabilitas ekonomi global.

Yukki Nugrahawan Hanafi, anggota Dewan Penasihat CILT Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina ALFI, menyatakan bahwa operasi militer besar antara AS, Israel, dan Iran membahayakan stabilitas politik dan ekonomi dunia. Dari sisi logistik, gangguan pasti akan terjadi jika perdamaian tidak segera tercapai di kawasan Timur Tengah.

“Eskalasi konflik ini langsung memicu kekhawatiran akan gangguan rantai pasok logistik global. Ini bisa menekan ekonomi banyak negara. Terlebih, Iran saat ini melakukan blokade di Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi utama minyak dan gas dari Timur Tengah ke berbagai negara,” ujar Yukki dalam keterangan tertulis, Ahad (1/3/2026).

Sebagai informasi, dampak langsung serangan militer di kawasan tersebut telah terlihat pada kenaikan harga minyak WTI dan Brent. Harga minyak WTI mencapai 67 dolar AS, sedangkan Brent mencapai 72,8 dolar AS pada Sabtu (28/2).

Ada setidaknya enam negara utama eksportir minyak yang akan terdampak langsung apabila Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai bagian dari operasi militer. Keenam negara tersebut adalah Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Qatar, serta Iran sendiri. Di sisi lain, negara-negara pengimpor seperti India, China, Jepang, dan kawasan Asia Tenggara juga berpotensi terkena dampak disrupsi pasokan dari negara-negara tersebut.

Yukki menilai eskalasi konflik di Timur Tengah akan mendorong inflasi harga energi lebih tinggi, menekan daya beli masyarakat, menahan penurunan suku bunga global, melemahkan kepercayaan pasar, bahkan menggerus ketahanan fiskal berbagai negara.

“Pada 2025 lalu, ekonomi global sudah penuh tekanan, terutama akibat guncangan tarif dagang AS. Jika konflik ini berkepanjangan, pelemahan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara berpotensi terjadi akibat kenaikan harga energi dan ongkos logistik,” ujarnya.

Dampak terhadap Ekonomi Indonesia

Yukki menilai ada dua dampak langsung jangka pendek terhadap perekonomian Indonesia akibat ketegangan di Timur Tengah:

  • Kenaikan harga impor minyak

    Sebagai negara net importir, Indonesia akan menghadapi peningkatan biaya subsidi energi dan tekanan terhadap defisit fiskal. Jika harga acuan minyak dunia melampaui asumsi dalam APBN, diperlukan penyesuaian yang berpotensi memperbesar beban fiskal, sekaligus berdampak pada inflasi dan kenaikan biaya logistik.

  • Volatilitas nilai tukar rupiah akibat arus modal keluar

    Dalam situasi ketidakpastian global, investor cenderung beralih ke aset aman seperti dolar AS dan emas. Tekanan jual di pasar saham dan obligasi domestik dapat melemahkan rupiah, yang pada gilirannya memperbesar beban impor dan tekanan inflasi. Kondisi ini berpotensi mendorong Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tetap tinggi demi menjaga stabilitas nilai tukar.

“Kedua hal ini perlu menjadi fokus perhatian pemerintah agar segera mengkalkulasi kesiapan menghadapi berbagai skenario lanjutan jika konflik berkepanjangan. Tentunya, kami berharap konflik ini tidak berlangsung lama dan stabilitas kawasan Timur Tengah segera pulih,” kata Yukki.

Pos terkait