Konflik AS-Israel vs Iran, Sikap Indonesia?

Aa1xklpy 6
Aa1xklpy 6



Indo Pacific Strategic Intelligence (ISI) memberikan analisis mengenai konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Israel dan Iran yang kini sedang memanas. Menurut ISI, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi mediator atau peace broker dalam konflik tersebut.

ISI menilai bahwa posisi geopolitik Iran saat ini relatif lebih rentan. Hal ini didasarkan pada kondisi Rusia, yang merupakan mitra utama Iran, yang kini tengah menghadapi perang dengan Ukraina. Akibatnya, Rusia terbatas dalam memberikan dukungan kepada Iran. Di sisi lain, Tiongkok mengambil sikap hati-hati dalam menghadapi situasi ini. Fokus utamanya adalah isu Taiwan dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik, serta mempertimbangkan secara cermat biaya dan manfaat dari keterlibatan langsung di Timur Tengah.

Namun, jika Tiongkok memutuskan untuk terlibat langsung dalam konflik di Timur Tengah, maka eskalasi bisa semakin meningkat. Keterlibatan Tiongkok bisa berupa dukungan ekonomi, militer, atau kehadiran angkatan laut di Teluk Persia. Jika hal ini terjadi, konflik berpotensi meluas dan menciptakan dampak yang tidak hanya terbatas di kawasan Timur Tengah, tetapi juga hingga ke Indo-Pasifik.

Lembaga think tank independen yang fokus pada isu pertahanan dan keamanan kawasan ini juga memberikan pandangan mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan oleh Indonesia dalam menghadapi situasi ini.

“ISI menilai Indonesia perlu memperkuat kesiapan strategis tanpa terjebak dalam rivalitas kekuatan besar. Politik luar negeri bebas dan aktif tetap menjadi landasan utama, dengan keterlibatan Indonesia di Timur Tengah dibatasi pada upaya perdamaian dan kemanusiaan,” demikian penjelasan ISI.

“Di sisi lain, peningkatan kesiapsiagaan pertahanan nasional mulai dari pengembangan strategi pertahanan anti-decapitation, doktrin perang berlarut mandiri yang terfragmentasi dalam satuan kecil, anti-perang informasi, hingga taktik evakuasi massa,” tambahnya.



Menurut ISI, langkah-langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi berbagai dampak tidak langsung, seperti ancaman keamanan maritim, ancaman siber, hingga stabilitas ekonomi.

ISI juga menekankan bahwa Indonesia memiliki modal diplomatik yang signifikan untuk berperan sebagai peace broker. Hal ini didukung oleh reputasi Indonesia sebagai negara Islam moderat, pengalaman kepemimpinan di ASEAN dan G20, serta hubungan baik dengan berbagai pihak.

“Upaya diplomasi, baik melalui forum multilateral maupun jalur dialog informal, dinilai krusial untuk mendorong de-eskalasi dan mencegah konflik meluas,” ujar ISI.

Dari sisi ekonomi, ISI mengingatkan potensi dampak terhadap ketahanan energi, pasar keuangan, dan rantai pasok global, terutama jika jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz terganggu.

ISI menilai mitigasi proaktif melalui diversifikasi pasokan energi, stabilisasi pasar keuangan, serta penguatan produksi domestik menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas nasional.

“Keselamatan Warga Negara Indonesia di kawasan konflik juga menjadi perhatian utama. ISI merekomendasikan penguatan koordinasi lintas lembaga untuk pendataan, perlindungan, dan kesiapan evakuasi WNI, seiring meningkatnya risiko keamanan akibat eskalasi militer,” demikian penjelasan ISI.

ISI menegaskan bahwa operasi militer AS terhadap Iran bukan sekadar konflik regional di Timur Tengah, melainkan titik kritis dalam dinamika keamanan global yang berdampak langsung terhadap Indo-Pasifik.

“Dengan kebijakan yang tepat dan antisipatif, Indonesia tidak hanya dapat meminimalkan dampak krisis ini, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai middle power yang berpengaruh dan konstruktif dalam tatanan regional,” ujarnya.

Pos terkait