Konflik Iran-AS Ancam Bisnis Telekomunikasi RI Jangka Panjang

Aa1xmlqv 1
Aa1xmlqv 1

Perkembangan Konflik di Teluk Persia dan Timur Tengah

Pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology Institute, Heru Sutadi, menyatakan bahwa perkembangan konflik di Teluk Persia dan wilayah Timur Tengah perlu terus dipantau. Situasi yang dinamis ini dapat berubah secara tiba-tiba, sehingga memerlukan perhatian khusus dari berbagai pihak.

Heru menjelaskan bahwa eskalasi konflik, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz, dapat meningkatkan biaya logistik global. Penutupan jalur tersebut memaksa kapal untuk mengambil rute alternatif, yang berdampak pada peningkatan ongkos pengiriman.

Indonesia yang masih bergantung pada impor perangkat teknologi seperti semikonduktor, perangkat jaringan, dan komponen elektronik, berpotensi terdampak melalui kenaikan harga landed cost. Meskipun dampak ke harga domestik tidak selalu langsung, jika gangguan berlangsung lama, maka harga akan mulai naik.

Dampak Penguatan Dolar AS dan Pelemahan Rupiah

Menurut Heru, penguatan dolar AS yang disertai pelemahan rupiah juga tidak menguntungkan. Kondisi ini akan langsung meningkatkan beban biaya perusahaan telekomunikasi karena banyak kontrak menggunakan mata uang dolar, termasuk sewa satelit, kapasitas kabel laut, lisensi perangkat, dan pembelian infrastruktur jaringan.

Operator dengan utang valuta asing atau kewajiban pembayaran ke luar negeri akan menjadi pihak yang paling terdampak. Dalam jangka pendek, perusahaan masih dapat menahan kenaikan biaya. Namun, jika nilai tukar bertahan tinggi, tekanan terhadap arus kas dan belanja modal akan meningkat, sehingga berpotensi menunda ekspansi atau mendorong kenaikan tarif layanan secara selektif.

Gangguan pada Pusat Data Amazon di Uni Emirat Arab

Terkait gangguan pada pusat data Amazon di Uni Emirat Arab, Heru menambahkan bahwa jika dimonitor, gangguan tersebut tidak otomatis berdampak ke Indonesia. Arsitektur cloud modern dirancang dengan sistem redundansi lintas region. Penyedia cloud global umumnya memiliki mekanisme failover, replikasi data, serta distribusi beban ke berbagai lokasi, termasuk kawasan Asia Pasifik.

Dampak baru terasa jika gangguan meluas ke beberapa region sekaligus. Selama aplikasi menggunakan konfigurasi multi-region atau backup yang baik, keandalan layanan di Indonesia umumnya tetap terjaga.

Potensi Kenaikan Harga Energi Global

Heru juga menyoroti potensi kenaikan harga energi global yang dapat meningkatkan biaya operasional pusat data. Listrik merupakan komponen biaya terbesar dalam layanan cloud. Jika harga energi naik signifikan dan berlangsung lama, penyedia layanan dapat mengalami tekanan margin, terutama pada kontrak berharga tetap. Dampaknya dapat berupa efisiensi operasional, penyesuaian harga layanan B2B, atau penjadwalan ulang ekspansi kapasitas.

Meski demikian, perusahaan hyperscale umumnya memiliki kontrak energi jangka panjang sehingga dampak langsungnya tidak bersifat seketika.

Ancaman Perang yang Lebih Luas

Namun demikian, Heru menegaskan bahwa apabila perang meluas secara ekstrem, bahkan hingga memicu Perang Dunia III atau perang nuklir, seluruh negara, termasuk Indonesia, akan terdampak. Jika hal tersebut terjadi, sektor telekomunikasi, internet global, dan pusat data juga tidak akan luput dari gangguan.

Dunia berpotensi memasuki masa gelap atau “kiamat internet” secara global yang memicu kekacauan luas. Oleh karena itu, masyarakat harus bersiap atau berancang-ancang jika dunia memasuki kegelapan. Salah satu persiapan adalah berlatih puasa internet, agar kalau kiamat internet terjadi, kita tidak panik dan stres.

Pos terkait