Konflik Iran-AS-Israel Memicu Kenaikan Harga Emas

Aa1xp2gb 1
Aa1xp2gb 1



JAKARTA — Harga emas kembali mengalami kenaikan selama lima hari berturut-turut. Kenaikan ini terjadi seiring dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang memengaruhi pasar energi global dan mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman.

Berdasarkan data dari Bloomberg pada Selasa (3/3/2026), harga emas di pasar spot naik sebesar 0,6% menjadi US$5.354,32 per troy ounce. Sementara itu, harga emas di bursa Comex juga menguat sebesar 1,19% menjadi US$5.374,90 per troy ounce. Logam mulia tersebut sempat mencapai puncak kenaikan sebesar 0,8%, melewati level US$5.360 per troy ounce.

Kenaikan ini terjadi setelah emas mengalami peningkatan lebih dari 3% dalam empat sesi sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Washington akan terus melanjutkan operasi militer jika diperlukan. Di sisi lain, Israel mengumumkan serangan terhadap pusat komando Iran. Teheran dilaporkan menyerang infrastruktur minyak dan gas serta mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Lonjakan harga energi akibat konflik tersebut memicu kekhawatiran inflasi di AS. Kondisi ini berdampak pada pasar obligasi pemerintah AS (Treasuries) dan meningkatkan kemungkinan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Pelaku pasar kini memperkirakan bahwa pemangkasan suku bunga baru akan terjadi pada September, lebih lambat dari proyeksi sebelumnya. Meskipun suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil, kondisi ini juga dapat memperkuat daya tarik emas sebagai lindung nilai dan penyimpan nilai di tengah ketidakpastian.

Sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu, tekanan inflasi di AS sudah menunjukkan tanda-tanda kenaikan. Harga input manufaktur melonjak pada Februari dengan laju tercepat sejak 2022, berdasarkan indikator dari Institute for Supply Management. CEO JPMorgan Chase & Co., Jamie Dimon, juga memperingatkan bahwa inflasi berpotensi menjadi “gangguan besar” bagi perekonomian AS.

Secara keseluruhan, harga emas telah melonjak hampir 25% sepanjang tahun ini. Permintaan ditopang oleh ketegangan geopolitik dan perdagangan yang persisten, serta kekhawatiran terhadap independensi The Fed. Kembalinya tren pelemahan obligasi dan mata uang global—yang dikenal sebagai debasement trade—turut memberikan dorongan baru bagi reli jangka panjang emas.

Pada akhir Januari lalu, harga emas sempat mencetak rekor tertinggi di atas US$5.595 per troy ounce. Meski telah turun dari rekor tertinggi US$5.594 per troy ounce pada 29 Januari, para analis menilai harga emas masih berpeluang melanjutkan kenaikan hingga akhir tahun ini.

Analis J.P. Morgan dalam riset terbarunya menyebut lonjakan harga emas akibat konflik biasanya bersifat sementara. Namun, risiko geopolitik secara umum diperkirakan tetap tinggi dalam jangka menengah, yang turut mendasari proyeksi harga emas mencapai US$6.300 per troy ounce pada akhir 2026.

“Lonjakan emas yang dipicu konflik memang datang dan pergi, tetapi risiko geopolitik secara luas kemungkinan masih akan terus memanas,” tulis analis J.P. Morgan dalam catatan tersebut.

Pemilik sekaligus penasihat utama di Victory Independent Planning, Patrick Huey, mengatakan pasar biasanya memberikan sinyal mengenai kelas aset yang layak dikoleksi saat periode perlambatan dan ketidakpastian global. “Pasar cenderung memberi petunjuk mengenai aset apa yang sebaiknya dimiliki ketika terjadi tekanan dan ketidakpastian global. Selama gejolak global masih berlangsung, saya melihat emas akan tetap berkinerja baik,” ujarnya.

Prospek tersebut memperkuat pandangan bahwa emas masih menjadi pilihan lindung nilai di tengah dinamika geopolitik dan volatilitas pasar keuangan global.

Pos terkait