Konflik Iran vs Israel-AS dan Dampaknya bagi Jambi, Analisis dari Unja

132101519 Capture 2
132101519 Capture 2

Konflik Iran dan Amerika Serikat: Perubahan Dinamika Politik Global

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang terjadi saat ini tidak lagi bisa dipahami sebagai sekadar eskalasi diplomatik atau ancaman perang. Realitas menunjukkan bahwa dunia kini telah memasuki tahap konfrontasi militer langsung antarnegara. Serangan yang berlangsung sejak Sabtu (28/2/2026) waktu setempat memicu eskalasi konflik yang kian meluas.

Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap infrastruktur strategis serta kepemimpinan Iran. Tehran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke kepentingan Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah, yang menandai perubahan signifikan dalam dinamika politik global.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dilaporkan meninggal dunia akibat serangan di kompleks kediamannya. Televisi nasional Iran mengonfirmasi kematiannya pada Minggu (1/3/2026) pagi, beberapa jam setelah klaim serupa disampaikan oleh Amerika Serikat dan Israel. Kematian Khamenei memicu aksi demonstrasi di kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad, Irak.

Akademisi Universitas Jambi, Moh Arief Rakhman, S.I.P., M.I.Pol, menilai konflik di Timur Tengah kembali meningkat dari tahapan proxy conflict menuju direct interstate confrontation atau benturan langsung antarnegara. “Ini membuktikan, sebenarnya Israel pun bisa menjadikan negara sebesar USA berada dalam proxy-nya,” kata Dosen Ilmu Politik Unja ini pada Minggu (1/3).

Arief menjelaskan bahwa dampak politik global tidak hanya berupa ketegangan keamanan, tetapi juga munculnya ancaman terhadap stabilitas sistem internasional. “Karena konflik ini terjadi di pusat geopolitik energi dunia dan melibatkan aktor dengan kapasitas eskalasi tinggi,” tuturnya.

Ia menguraikan bahwa dalam perspektif Hubungan Internasional, yang menarik bukan semata fakta adanya serangan balasan tersebut. “Tetapi, bagaimana konflik ini tampak tetap berada dalam batas tertentu, seolah ada mekanisme tidak tertulis untuk menjaga eskalasi agar tidak berubah menjadi perang besar,” jelasnya.

“Di sinilah secara geopolitik juga menarik. Kadang politik global sering berjalan sebagai strategic buffering, distribusi tidak formal, peran stabilisasi kepada negara tertentu agar konflik tidak meluas ke aktor yang paling berbahaya,” lanjutnya.

Arief memberi contoh: konflik Afghanistan dan Pakistan. Konflik tersebut menunjukkan bahwa Pakistan selama bertahun-tahun berperan sebagai penyangga konflik regional. Dengan demikian, negara yang memiliki senjata nuklir tidak langsung terlibat dalam perang terbuka.

Sementara dalam isu Gaza dan dinamika dunia Muslim, Indonesia kerap berada pada posisi khas. Bukan sebagai kekuatan militer, tetapi sebagai penyalur tekanan politik dan moral internasional melalui berbagai gerakan masyarakat sipil, mulai dari penggalangan donasi hingga aksi demonstrasi.

“Ini penting, karena membantu menjaga juga agar solidaritas global tetap tersalurkan tanpa meningkatkan risiko eskalasi keamanan,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Arief berpandangan bahwa dampak politik global dari saling serang saat ini jauh melampaui sekadar konflik regional. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa tatanan internasional sedang bergerak menuju fase baru. “Dunia tidak lagi bebas konflik, tetapi konflik dikelola sedemikian rupa agar tetap panas di tingkat regional. Namun tidak sampai memicu tabrakan langsung antar kekuatan besar yang dapat mengguncang seluruh struktur sistem internasional,” ucapnya.

Dampak untuk Indonesia

Arief menyampaikan bahwa babak baru konflik Iran dan Amerika Serikat justru menghadirkan dinamika tersendiri bagi posisi Indonesia dalam hubungan internasional. Jika sebelumnya Indonesia cenderung berperan sebagai pengamat yang menyerukan penurunan eskalasi, pernyataan Presiden Prabowo yang menyatakan kesiapan menjadi mediator.

“Menunjukkan adanya upaya reposisi peran Indonesia di tengah krisis global, walau tentu saja dengan perkembangan diplomasi Indonesia belakangan, ini akan lebih terlihat naif,” katanya.

Sejumlah media internasional menyoroti kesiapan Presiden RI tersebut. Melalui akun resmi X @kemlu_RI, Indonesia menyampaikan penyesalan atas gagalnya perundingan Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada meningkatnya eskalasi militer di Timur Tengah.

Dalam sudut pandang hubungan internasional, menurut Arief, langkah tersebut tidak dapat dimaknai hanya sebagai sikap moral atau solidaritas politik, melainkan sebagai sinyal bahwa Indonesia ingin memainkan peran yang lebih strategis sebagai middle power. Negara yang tidak memiliki kekuatan militer dominan, tetapi berupaya meraih pengaruh melalui jalur diplomasi dan legitimasi politik global.

“Momentum konflik sering kali membuka ruang bagi negara, seperti Indonesia untuk tampil sebagai penengah, karena ia relatif diterima oleh berbagai pihak dan tidak dipersepsikan sebagai ancaman keamanan,” tuturnya.

“Inilah yang membuat Indonesia sering muncul dalam isu Palestina, krisis kemanusiaan, maupun konflik dunia Islam sebagai kanal diplomasi yang menyerap tekanan politik global tanpa meningkatkan risiko perang antarnegara,” jelasnya.

Dampak di Jambi

Dalam kacamata yang lebih mikro, konflik Iran vs Israel-AS ini juga berdampak pada Jambi, meski tidak secara langsung. Kendati konflik Iran dan Amerika Serikat secara geografis tampak sangat jauh dari Jambi, Arief berpendapat bahwa hal tersebut tetap berdampak pada sektor ekonomi.

“Kalau kita pakai perspektif ekonomi politik internasional justru sebaliknya, dampaknya dapat turun secara perlahan hingga level daerah melalui mekanisme pasar global,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa dalam sistem ekonomi dunia yang saling terhubung, konflik di Timur Tengah hampir selalu pertama kali memengaruhi harga energi dan ongkos logistik internasional. Kondisi tersebut kemudian menjalar ke daerah berbasis komoditas seperti Jambi. Ketika ketegangan militer meningkat dan risiko terhadap jalur energi global naik, harga minyak dunia cenderung terdorong naik.

Pada akhirnya hal itu meningkatkan biaya transportasi, distribusi, dan produksi, termasuk bagi aktivitas ekspor dan impor di daerah. “Bagi Jambi, yang sangat ‘ekstraktif,’ dampak paling realistis bukan gangguan perdagangan langsung dari konflik, tapi perubahan pada struktur keuntungan komoditas ekspor,” katanya.

Arief menerangkan bahwa perekonomian Jambi sangat bergantung pada komoditas global. Seperti CPO, karet, batubara, serta produk turunan perkebunan yang harga jualnya ditentukan oleh dinamika pasar internasional.

Dalam situasi konflik global, biasanya terjadi dua kemungkinan sekaligus: di satu sisi pelemahan nilai rupiah dapat membuat ekspor terlihat lebih kompetitif, tetapi di sisi lain kenaikan biaya energi dan freight internasional justru menekan margin pelaku usaha di daerah.

“Artinya, konflik geopolitik global sering menghasilkan situasi paradoks bagi daerah, nilai ekspor bisa naik secara nominal, tetapi keuntungan riil belum tentu meningkat,” jelasnya.

“Jadi masalah lagi, karena seragamisasi komoditas yg gencar didukung pemerintah akhir-akhir ini,” lanjutnya.

Ia menilai bahwa hal menarik namun sering terabaikan adalah konflik global juga memengaruhi keputusan investasi dan arus perdagangan jangka pendek. Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, perusahaan internasional dan pembeli global cenderung menunda kontrak baru atau menyesuaikan volume impor.

Dampaknya mungkin tidak langsung tampak dalam hitungan hari, tetapi dapat muncul beberapa bulan kemudian dalam bentuk perlambatan permintaan komoditas atau perubahan jalur perdagangan.

Dengan demikian, dalam konteks ini, Jambi sebenarnya berada pada posisi yang sangat bergantung pada stabilitas eksternal. “Contoh nyata bagaimana ekonomi daerah hari ini tidak lagi sepenuhnya lokal, melainkan menjadi bagian dari rantai ekonomi politik global,” ucapnya.

Arief menjelaskan bahwa pada akhirnya konflik Iran-Amerika menunjukkan satu pelajaran penting: geopolitik dunia saat ini tidak berhenti di level negara, tetapi merambat hingga ekonomi daerah. “Apa yang terjadi di Teluk Persia dapat mempengaruhi biaya angkut di pelabuhan-pelabuhan sumatera, harga komoditas petani, hingga keputusan ekspor perusahaan di Jambi. Dengan kata lain, meskipun Jambi tidak terlibat dalam konflik internasional, daerah tetap menjadi penerima dampak dari turbulensi sistem global,” terangnya.

“Inilah realitas globalisasi kontemporer, perang mungkin terjadi jauh dari kita, tetapi konsekuensi ekonominya bisa terasa sangat dekat,” pungkasnya.

Pos terkait