Konflik Geopolitik di Timur Tengah Memengaruhi Penerbangan
Konflik geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah baru-baru ini menimbulkan dampak signifikan terhadap sektor penerbangan. Ketegangan antara Israel dan Iran telah memicu kekhawatiran masyarakat, khususnya terhadap jemaah yang sedang menjalankan ibadah di Tanah Suci. Namun, kabar baik datang dari jemaah umrah asal Sulawesi Tenggara (Sultra) yang dinyatakan aman dalam perjalanan mereka.
Menurut informasi yang diperoleh dari Owner Travel Vacana, Ashari Salam, jemaah umrah dari perusahaan tersebut menggunakan rute penerbangan langsung (direct flight) antara Jakarta/Makassar dan Jeddah. Hal ini memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi para jemaah.
“Kami menggunakan rute langsung, alhamdulillah masih aman, tidak ada penundaan dan tetap on schedule,” ujar Ashari melalui pesan WhatsApp.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar penerbangan yang mengalami penundaan adalah penerbangan transit. Rute-rute tersebut melalui Uni Emirat Arab (UEA), khususnya Dubai dan Abu Dhabi, serta Qatar, tepatnya di Doha. Penundaan ini disebabkan oleh situasi ketegangan yang terjadi di kawasan tersebut.
Saat ini, jemaah umrah yang sedang menjalankan ibadah berasal dari berbagai wilayah di Sulawesi Tenggara. Salah satu kelompok jemaah berasal dari Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sultra, dengan total 40 orang. Selain itu, terdapat juga jemaah dari wilayah lainnya.
Sebagai informasi tambahan, sebanyak lebih dari 58.000 jemaah umrah asal Indonesia dilaporkan masih tertahan di Arab Saudi. Situasi ini merupakan dampak dari pecahnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel sejak Sabtu (28/2/2026).
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Ichsan Marsha, menyampaikan bahwa puluhan ribu jemaah tersebut kini berada di berbagai hotel di Arab Saudi. Keadaan ini terjadi setelah beberapa koridor udara internasional ditutup, sehingga banyak maskapai membatalkan penerbangan demi keselamatan penumpang.
Pemerintah saat ini tengah melakukan upaya intensif untuk memulangkan jemaah umrah. Koordinasi dilakukan bersama PPU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah) serta otoritas penerbangan sipil internasional. Beberapa opsi telah disiapkan, seperti pengalihan rute, penjadwalan ulang penerbangan, hingga kemungkinan evakuasi khusus jika diperlukan.
Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan Pemerintah Arab Saudi terkait perpanjangan akomodasi jika masa tunggu jemaah berlangsung lama. Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan seluruh jemaah umrah yang sedang menjalankan ibadah di Tanah Suci.





