Konflik Timur Tengah, IESR Usul Indonesia Cari Alternatif Pasokan Minyak

Aa1xlu3w 4
Aa1xlu3w 4

Tantangan Ketergantungan Minyak dan LPG Indonesia

Di tengah ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran, lembaga Institute for Essential Services Reform (IESR) menyarankan agar Indonesia segera mencari alternatif pasokan minyak dari negara-negara lain selain wilayah Timur Tengah. Hal ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan energi dalam negeri tetap terpenuhi, terlepas dari situasi geopolitik yang mungkin memengaruhi rute pengiriman minyak dan gas.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi ekspor minyak dan gas alam cair global, menjadi salah satu perhatian utama. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, dan menjadi rute krusial bagi pasokan energi ke pasar Asia. Dengan adanya konflik di kawasan tersebut, keamanan dan kelancaran pasokan bisa terganggu, sehingga Indonesia perlu mencari sumber pasokan yang lebih stabil.

Alternatif Pasokan Minyak untuk Jangka Pendek

Menurut CEO IESR, Fabby Tumiwa, dalam jangka pendek, Indonesia disarankan untuk mencari alternatif pasokan minyak dari Nigeria, Australia, atau Amerika Latin. Ini akan membantu mengurangi risiko ketergantungan pada wilayah yang sedang mengalami ketegangan politik dan militer.

Selain itu, Fabby juga menyoroti pentingnya segera merealisasikan rencana pengurangan ketergantungan LPG dari kawasan Timur Tengah. Meskipun kesepakatan dengan Amerika Serikat sudah ada, namun masih menunggu persetujuan parlemen. Saat ini, kebijakan energi Indonesia dinilai rentan dan berpotensi membahayakan ketahanan energi jangka panjang.

Ketergantungan Pada Energi Fosil

Perekonomian Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada energi fosil. Produksi minyak dalam negeri hanya sekitar 860.000 barel per hari, sementara konsumsi mencapai sekitar 1,7 juta barel. Artinya, hampir 50% kebutuhan minyak harus dipenuhi melalui impor, dan sebagian besar berasal dari kawasan yang kini terdampak konflik.

Negara-negara seperti Arab Saudi menyumbang sekitar 38% impor minyak mentah Indonesia, dengan nilai lebih dari US$ 1,2 miliar per tahun. Sisanya berasal dari Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Pada tahun 2024, Indonesia mencatat rekor impor baru sebesar 53,74 juta ton minyak mentah dan produk turunannya, meningkat 19% dibanding tahun sebelumnya.

Masalah Ketergantungan LPG

Ketergantungan pada LPG bahkan lebih serius. Sekitar separuh kebutuhan LPG Indonesia diimpor dari Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait, sementara sisanya berasal dari Amerika Serikat. Nilai impornya mencapai lebih dari US$ 714 juta per tahun.

LPG tidak hanya digunakan sebagai bahan bakar industri, tetapi juga digunakan oleh lebih dari 70 juta rumah tangga Indonesia untuk memasak, terutama tabung gas 3 kg yang disubsidi pemerintah.

Dampak Subsidi dan Impor Energi

Subsidi untuk LPG dan BBM pada tahun ini mencapai sekitar Rp106 triliun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor minyak dan gas pada tahun 2024 mencapai US$36,28 miliar.

Dari data tersebut, LPG menjadi salah satu komponen impor terbesar Indonesia. Ketika harga global naik akibat konflik atau gangguan pasokan, dampaknya langsung terasa. Neraca perdagangan terbebani karena biaya impor melonjak, APBN semakin terbebani untuk menjaga harga subsidi, dan ketahanan energi nasional tetap bergantung pada pasar global yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan.

Pos terkait