Konflik Timur Tengah Memanas, Harga BBM dan Rupiah Terancam Turun

6dae2c60 854a 11ef Ad45 893aa022fcbc.jpg 6
6dae2c60 854a 11ef Ad45 893aa022fcbc.jpg 6

Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Ekonomi Indonesia

Lembaga riset Center of Economic Studies (Celios) telah mengungkapkan berbagai dampak yang muncul akibat rentetan konflik di kawasan Timur Tengah. Salah satu peristiwa yang menjadi fokus adalah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, yang kemudian direspons dengan serangan balik oleh Teheran. Peristiwa ini menimbulkan ketegangan yang memengaruhi stabilitas regional dan global.

Salah satu pihak yang terkena dampak langsung adalah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dikabarkan tewas dalam serangan tersebut. Ia telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade, sehingga hilangnya figur ini dapat memberikan dampak psikologis dan politik yang signifikan bagi negara tersebut.

Kenaikan Harga BBM dan Melemahnya Rupiah

Dari sudut pandang ekonomi, Celios menyatakan bahwa konflik ini berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah jenis Brent sejak awal 2026 yang mencapai 20,7 persen, menjadikannya sebesar USD 72,8 per barel.

Menurut Celios, skenario terburuk yang bisa terjadi adalah harga minyak dunia naik hingga USD 100 hingga USD 120 per barel. Hal ini akan berdampak pada subsidi energi yang semakin meningkat. Pemerintah Indonesia, sebagai negara importir bersih minyak, akan mengalami tekanan keuangan yang signifikan jika harga minyak melonjak.

Dalam simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel di atas asumsi APBN yang dipatok USD 70 per barel diperkirakan dapat menambah beban belanja negara sekitar Rp10,3 triliun. Hal ini menunjukkan betapa sensitifnya kondisi ekonomi Indonesia terhadap fluktuasi harga minyak global.

Jalur Laut Strategis Terancam

Selain itu, sebanyak 20 persen kapal pengangkut minyak dunia melintasi Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Volume pengiriman bulanan minyak mentah yang melalui Selat ini berkisar antara 2-4 juta metrik ton per Februari 2026. Jika konflik berlanjut, potensi gangguan di jalur ini bisa memperparah kenaikan harga minyak.

Emas Menguat, Rupiah Melemah

Celios juga menyoroti bahwa rupiah akan melemah sementara emas akan menguat. Fenomena gold rush masih akan terjadi dengan harga emas global yang naik 48,4 persen dalam enam bulan terakhir.

“Ketegangan di Timur Tengah menjadi pemicu utama. Ketika geopolitik kacau, investor cenderung beralih dari aset berisiko ke aset yang lebih aman,” ujar Celios. Hal ini mengindikasikan adanya fenomena ‘flight to quality’, di mana portofolio investor bergeser ke aset seperti emas.

Dampak pada Inflasi Pangan

Konflik ini juga berpotensi memicu inflasi pangan yang terus menggerus tabungan masyarakat. Kenaikan harga komoditas seperti ayam, telur, beras, dan sayuran bisa terjadi. Ditambah dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan komoditas tersebut, tekanan terhadap harga pangan akan semakin besar.

Kondisi ini dinilai berisiko menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah. Pendapatan yang bisa dibelanjakan (disposable income) berpotensi semakin turun, sehingga mengurangi kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, konflik di kawasan Timur Tengah memiliki dampak luas terhadap perekonomian Indonesia. Dari kenaikan harga BBM, melemahnya rupiah, hingga kenaikan inflasi pangan, semua faktor ini saling terkait dan berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Celios menyarankan pemerintah untuk mempersiapkan langkah-langkah mitigasi guna mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi.


Pos terkait