JAKARTA – Eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah memicu peningkatan volatilitas di pasar keuangan global. Hal ini turut memengaruhi sentimen investor, yang cenderung mengambil sikap risk-off. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek, terutama melalui sentimen global dan arus dana asing.
Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyebut bahwa konflik geopolitik tersebut menjadi external shock yang meningkatkan risk premium global. Investor global cenderung mengalihkan dana mereka ke aset defensif seperti dolar AS, obligasi negara maju, dan emas.
“Dana global biasanya bergerak ke aset defensif saat volatilitas meningkat, sehingga emerging markets termasuk Indonesia menghadapi tekanan arus dana dalam jangka pendek,” ujarnya.
Menurut Liza, tekanan terhadap IHSG datang melalui dua jalur utama, yaitu korelasi dengan aset berisiko global serta kecenderungan investor asing untuk mengambil posisi aman ketika ketidakpastian meningkat. Sepanjang tahun 2026, investor asing tercatat masih melakukan net sell sekitar Rp9,51 triliun, menunjukkan sensitivitas pasar domestik terhadap sentimen risk-off.
Namun, Liza menilai Indonesia tidak otomatis dirugikan oleh konflik geopolitik. Sebagai pasar berbasis komoditas, dampak terhadap IHSG sangat bergantung pada pergerakan harga energi dan komoditas global.
Contoh dari konflik Rusia-Ukraina tahun 2022 menunjukkan bahwa IHSG sempat menguat sekitar 5% dari akhir Februari hingga April karena lonjakan harga komoditas. Artinya, apabila eskalasi konflik lebih banyak mendorong kenaikan harga energi dan logam, pasar domestik berpeluang relatif lebih resilient.
Dalam jangka pendek, pelemahan IHSG menuju area 8.000 dinilai mencerminkan pasar yang mulai menghitung kenaikan risk premium. Namun selama tidak terjadi gangguan besar terhadap pasokan energi global, koreksi diperkirakan bersifat episodik dan bukan perubahan tren struktural.
Dari sisi sektoral, saham beta tinggi dan valuasi mahal berpotensi mengalami tekanan, terutama saham perbankan berkapitalisasi besar yang kerap menjadi sumber likuiditas saat terjadi arus keluar dana asing.
Sebaliknya, peluang justru terbuka pada sektor energi, emas, dan komoditas yang berpotensi memperoleh sentimen positif dari kenaikan harga global, meski bersifat spekulatif dan membutuhkan manajemen risiko ketat.
Secara teknikal, Liza memproyeksikan IHSG memiliki support utama di kisaran 8.000 hingga 7.950, dengan support lanjutan di area 7.840. Selama level tersebut bertahan, pergerakan indeks masih berada dalam fase konsolidasi sehat.
Adapun resistance jangka pendek berada di area 8.250 hingga 8.400 apabila sentimen mulai stabil atau harga komoditas kembali menguat.
Dalam kondisi pasar yang volatil, ia menyarankan investor mengurangi porsi agresif dan menerapkan strategi wait and see tanpa melakukan panic selling. “Fokus utama saat ini adalah risk adjustment dan pengaturan ukuran posisi. Trading opportunity di sektor energi dan emas tetap ada, tetapi sifatnya highly speculative sehingga disiplin manajemen risiko menjadi kunci,” jelasnya.
Liza menambahkan, investor sebaiknya tetap mempertahankan portofolio inti pada saham berfundamental kuat dengan strategi akumulasi bertahap ketika volatilitas mulai mereda, sembari meningkatkan porsi instrumen defensif untuk menjaga fleksibilitas investasi.
Pada penutupan perdagangan Senin (2/3/2026), IHSG ditutup melemah 2,66% ke level 8.016,83. Pelemahan ini mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya ketidakpastian global serta tekanan arus dana asing di tengah sentimen risk-off yang menguat.





