Konflik Timur Tengah Picu Risk Off, Namun Reli Valas Safe Haven Terbatas

Aa1dkl9x 1
Aa1dkl9x 1

Dampak Konflik Regional terhadap Pergerakan Mata Uang Valuta Asing

Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya berdampak pada stabilitas politik di kawasan Timur Tengah, tetapi juga dapat memengaruhi pergerakan sejumlah mata uang valuta asing (valas). Kondisi ini muncul akibat penutupan Selat Hormuz dan pembatasan kapal komersial di kawasan tersebut. Hal ini dinilai berpotensi mengganggu jalur perdagangan global, sehingga memicu lonjakan permintaan terhadap valas safe haven seperti dolar AS, yen Jepang (JPY), maupun franc Swiss (CHF).

Pergerakan Indeks Dolar dan Pasangan Valas

Menurut data dari Trading Economics yang dirilis pada Senin (2/3) pukul 17.45 WIB, indeks dolar Amerika Serikat (DXY) mengalami penguatan sebesar 0,58% ke level 98,2. Sejalan dengan itu, pasangan valas USD/JPY juga menguat sebesar 0,50% ke posisi 156,8, menunjukkan bahwa dolar AS sedang menguat terhadap yen Jepang.

Di sisi lain, USD/CHF turut menguat sebesar 0,23% ke level 0,77185, mencerminkan penguatan dolar AS terhadap franc Swiss. Namun, meskipun ada kenaikan harga valas safe haven, analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, menyatakan bahwa penguatan ini bukan hanya disebabkan oleh ketakutan, melainkan karena pasar sedang menghitung ulang keseimbangan risiko global.

Analisis Mengenai Volatilitas dan Risiko Global

Brahmantya menilai bahwa selama risiko energi dan kebijakan moneter belum stabil, volatilitas akan tetap menjadi tema utama dalam pasar valas. Saat ini, pasar sedang mencerna dua hal besar sekaligus, yaitu eskalasi konflik Timur Tengah dan potensi gangguan harga energi. Meskipun kombinasi ini mendorong investor untuk beralih ke aset defensif, ia tidak melihatnya sebagai tren bullish yang otomatis dan tanpa batas.

“Kemungkinan arah valas safe haven sangat bergantung pada dampaknya terhadap inflasi dan suku bunga,” ujar Brahmantya.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Valas

Selain konflik regional, terdapat tiga faktor kunci yang memengaruhi pergerakan valas, yaitu:

  • Kebijakan moneter: Terutama arah normalisasi Bank of Japan dan sikap The Fed.
  • Harga minyak: Berpengaruh langsung pada ekspektasi inflasi global.
  • Peran USD sebagai mata uang likuiditas: Yang sering tetap kuat dalam periode tekanan.

Secara struktural, CHF cenderung lebih stabil dalam fase risk-off, sementara JPY juga defensif tetapi sensitif terhadap lonjakan energi karena Jepang adalah importir minyak besar.

Prediksi Pergerakan Valas di Semester Pertama 2026

Dengan DXY berada di kisaran 97–98, Brahmantya melihat semester pertama 2026 lebih berpotensi menjadi periode dengan rentang pergerakan aktif dan volatilitas tinggi, bukan tren ekstrem satu arah. Semua kembali pada dua hal, yaitu durasi konflik dan stabilitas harga energi.

Dampak pada Mata Uang Negara Importir Energi

Jika harga minyak naik dan bertahan tinggi, mata uang negara-negara importir energi seperti KRW dan INR berpotensi lebih rentan tertekan. Sementara itu, SGD relatif lebih stabil meski tetap terpengaruh sentimen regional.

“Konflik adalah pemicu awal. Namun yang benar-benar menggerakkan pasar adalah bagaimana risiko tersebut memengaruhi energi, inflasi, dan kebijakan moneter global,” pungkasnya.

Pos terkait