JAKARTA — Prediksi para ekonom menunjukkan bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia akan terus berlanjut pada Januari 2026, yang merupakan bulan ke-69 berturut-turut. Angka ini diperkirakan lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya, yaitu Desember 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data kinerja neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Januari 2026 pada hari Senin (2/3/2026) siang ini. Dari konsensus proyeksi yang dihimpun Bloomberg, nilai tengah (median) surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 diperkirakan mencapai US$2,8 miliar. Angka ini lebih tinggi dari realisasi bulan lalu yang sebesar US$2,51 miliar.
Beberapa ekonom memberikan proyeksi yang berbeda-beda. Misalnya, Ekonom JP Morgan Chase Bank NA, Jin Tik Ngai, memperkirakan surplus bisa mencapai US$4 miliar. Sementara itu, proyeksi terendah berasal dari Ekonom Barclays Bank PLC, Brian Tan, dengan angka US$1,96 miliar.
Di sisi lain, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), David Sumual, memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 sebesar US$2,70 miliar. Proyeksi ini didasarkan pada prediksi kenaikan ekspor sebesar 6,34% secara tahunan (year on year/YoY). Di sisi lain, impor juga diperkirakan meningkat lebih tinggi, yaitu sebesar 11,96% YoY.
David menjelaskan bahwa surplus dagang diperkirakan meningkat karena peningkatan terms of trade Indonesia, yang dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas ekspor, khususnya logam. Selain itu, impor diperkirakan tetap kuat karena pertumbuhan kredit investasi yang tinggi.
“Surplus dagang diperkirakan meningkat karena terms of trade Indonesia naik karena harga komoditas ekspor naik, terutama metals. Di sisi lain, impor diperkirakan tetap kuat sejalan dengan kredit investasi yang tumbuh tinggi,” ujar David kepada Bisnis, dikutip Senin (2/3/2026).
Selain itu, berdasarkan data ekspor-impor negara-negara tanpa China, David mencatat adanya peningkatan pada surplus dagang Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja perdagangan Indonesia tetap stabil dan bahkan meningkat, meskipun ada tantangan global yang muncul.
Beberapa faktor yang memengaruhi kinerja neraca perdagangan antara lain:
- Kenaikan ekspor: Prediksi kenaikan ekspor sebesar 6,34% YoY menunjukkan bahwa produksi barang Indonesia masih diminati di pasar internasional.
- Peningkatan impor: Meski impor naik lebih tinggi dari ekspor, hal ini menunjukkan bahwa permintaan dalam negeri tetap kuat dan perekonomian sedang tumbuh.
- Harga komoditas: Kenaikan harga komoditas ekspor, khususnya logam, berdampak positif pada terms of trade Indonesia.
- Kredit investasi: Pertumbuhan kredit investasi yang tinggi mengindikasikan bahwa sektor swasta dan pemerintah aktif dalam melakukan investasi.
Dengan proyeksi yang optimis dari berbagai pihak, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 diharapkan menjadi indikator positif bagi perekonomian nasional. Namun, perlu diperhatikan juga risiko yang mungkin muncul, seperti fluktuasi harga komoditas atau ketidakstabilan ekonomi global.





