Konsumsi Rumah Tangga 2026 Naik, Tapi Kelas Menengah Melemah

Indeks Konsumsi Rumah Tangga Meningkat 1bno9 Dom
Indeks Konsumsi Rumah Tangga Meningkat 1bno9 Dom

Proyeksi Konsumsi Rumah Tangga Tahun 2026

Harapan terhadap penguatan konsumsi rumah tangga pada tahun 2026 memang mulai terlihat. Namun, perbaikan tersebut dinilai belum cukup solid untuk menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah berbagai stimulus pemerintah menjelang Ramadan, tantangan daya beli masyarakat terutama kelas menengah masih membayangi prospek ekonomi tahun ini.

Ekonom Senior sekaligus Pendiri Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Hendri Saparini, mengatakan proyeksi konsumsi rumah tangga tahun ini memang sedikit lebih tinggi dibanding 2025. Meski begitu, kenaikannya tidak signifikan dan masih tergolong rentan.

“Proyeksi kami di akhir tahun yang lalu bahwa 2026 konsumsi rumah tangga ini sedikit lebih tinggi dibanding tahun 2025, tetapi tidak terlalu signifikan. Jadi sebenarnya masih rentan dari sisi kalau kita melihat dari sisi konsumsi,” tutur Rini dalam talkshow “Menjaga Stabilitas Harga di Bulan Ramadan” di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, efektivitas berbagai inisiatif fiskal pemerintah menjadi faktor penting yang perlu dicermati. Tahun ini, pemerintah kembali menggulirkan stimulus seperti diskon transportasi untuk mendorong daya beli masyarakat selama Ramadan. Namun, Rini mempertanyakan apakah kebijakan tersebut benar-benar berdampak langsung terhadap peningkatan konsumsi, khususnya sektor pangan.

“Apakah dikasih diskon transportasi itu kemudian akan ada peningkatan konsumsi di sisi pangan? Apakah kemudian akan ada pengalihan konsumsi di pangan,” ujarnya.

Ia mencontohkan kebijakan diskon tarif listrik menjelang Ramadan tahun lalu. Berdasarkan data penjualan ritel, kebijakan tersebut tidak diikuti lonjakan konsumsi, termasuk untuk kebutuhan bahan makanan.

“Tahun lalu pemerintah juga memberikan diskon tarif pada saat menjelang Ramadan, tarif listrik. Ternyata data menunjukkan tidak ada pengalihan konsumsi di sisi pangan. Terbukti data-data dari penjualan ritel itu ternyata pertumbuhannya lebih rendah daripada tahun sebelumnya, tahun 2024,” jelasnya.

Rini menilai, meskipun inflasi relatif stabil, bukan berarti belanja masyarakat otomatis meningkat. Ramadan 2026 tetap perlu diwaspadai dari sisi konsumsi karena struktur daya beli belum sepenuhnya pulih.

Ia juga menyoroti penggelontoran bantuan sosial (bansos) di awal Ramadan. Di satu sisi, bansos membantu kelompok bawah memenuhi kebutuhan dasar. Namun di sisi lain, bantuan tersebut bisa mengurangi kebutuhan membeli tambahan bahan makanan di luar paket bantuan yang diterima.

Selain itu, kondisi kelas menengah menjadi tantangan tersendiri. Menurut Rini, pemulihan kelompok ini belum terjadi sepenuhnya. Bahkan, sebagian mengalami penurunan daya beli dan bergeser menjadi “calon kelas menengah”.

“Kelas menengah ini belum akan pulih, tapi ditambah lagi kelas menengah banyak yang turun level menjadi ‘calon kelas menengah’,” ungkapnya.

Ia memperkirakan pada 2026 komposisi belanja konsumsi akan lebih banyak ditopang oleh kelompok calon kelas menengah, dengan porsi sekitar 44 persen. Sementara kontribusi kelas menengah diperkirakan hanya sekitar 37 persen.

“Porsinya lebih banyak pada calon kelas menengah, mungkin sekitar 44 persen. Tapi kelas menengah itu hanya 37 persen,” imbuh Rini.

Dengan dinamika tersebut, konsumsi rumah tangga memang berpotensi membaik pada 2026. Namun tanpa pemulihan daya beli kelas menengah yang lebih kuat, perbaikan itu dinilai belum cukup untuk menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Rumah Tangga

Beberapa faktor penting yang memengaruhi konsumsi rumah tangga antara lain:

  • Efektivitas stimulus pemerintah: Kebijakan seperti diskon transportasi dan tarif listrik perlu dievaluasi apakah benar-benar meningkatkan daya beli masyarakat.
  • Stabilitas inflasi: Meski inflasi stabil, tidak otomatis berdampak positif pada peningkatan konsumsi.
  • Perubahan struktur daya beli: Kelas menengah yang belum pulih menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi.
  • Bantuan sosial (bansos): Meski membantu kelompok bawah, bisa mengurangi kebutuhan belanja tambahan.
  • Dampak Ramadan: Perayaan Ramadan memengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama di sektor pangan.

Prediksi Komposisi Konsumsi Tahun 2026

Berdasarkan analisis ekonom, prediksi komposisi belanja konsumsi pada tahun 2026 adalah sebagai berikut:

  • Calon kelas menengah: Sebesar 44 persen
  • Kelas menengah: Sebesar 37 persen
  • Kelas bawah: Diperkirakan memiliki kontribusi yang lebih kecil, tetapi tetap penting dalam mendukung permintaan pasar.

Tantangan yang Masih Ada

Meskipun ada harapan akan perbaikan, beberapa tantangan tetap ada, seperti:

  • Daya beli kelas menengah yang belum pulih
  • Keberlanjutan stimulus pemerintah
  • Perubahan perilaku konsumsi masyarakat

Kesimpulan

Konsumsi rumah tangga pada tahun 2026 berpotensi membaik, namun tanpa adanya pemulihan yang signifikan pada daya beli kelas menengah, perbaikan tersebut dinilai masih kurang untuk menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, pemerintah dan stakeholder lainnya perlu terus memantau dan mengoptimalkan kebijakan yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat secara berkelanjutan.

Pos terkait