Korban Banjir Bandang Aceh Tamiang Masih Bertahan di Tenda Darurat
Tiga bulan setelah banjir bandang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang pada November 2025, sejumlah korban masih tinggal di tenda darurat. Mereka menunggu kepastian pembangunan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap). Kondisi yang mereka alami sangat memprihatinkan, dengan berbagai keterbatasan dan tantangan yang terus menghimpit.
Di Kampung Landuh, Kecamatan Rantau, Minggu (1/3/2026), Ponirah (69) masih tinggal di tenda lusuh yang ia dirikan di lahan kosong di desanya. Rumahnya hancur total saat banjir datang, dan sejak itu ia bersama anak serta cucunya tidak memiliki tempat tinggal yang layak. Ia mengaku harus bertahan setiap hari dalam kondisi serba terbatas, menghadapi panas matahari dan debu tebal di sekitar lokasi pengungsian. Situasi tersebut terasa semakin berat karena mereka juga menjalani ibadah puasa.
“Ya saya minta rumah saja. Pokoknya rumah kami bisa dibikin. Kasihan cucu saya seperti ini, kedinginan. Rumah saya hancur, tidak bisa lagi,” kata Ponirah.
Ia merasa kecil hati karena sebagian pengungsi lain sudah didata sebagai penerima huntap yang tengah disiapkan di Kampung Landuh. Ia berharap pemerintah memberikan informasi yang jelas dan merata kepada warga yang belum mendapatkan kepastian bantuan.
“Kami hanya ingin ada kejelasan, supaya bisa sedikit tenang,” ujarnya.
Kondisi serupa juga terlihat di Kampung Kota Lintang Bawah, salah satu wilayah terdampak paling parah. Lokasinya tidak jauh dari pusat pemerintahan kabupaten. Hingga kini, banyak warga masih hidup dalam keterbatasan. Kerusakan di kawasan itu masih tampak jelas. Sejumlah rumah masih tertimbun lumpur yang telah mengeras, sebagian bangunan bahkan dipenuhi semak. Anak-anak terlihat masih beraktivitas dan mandi di sekitar puing rumah yang hancur.
Upaya Pemerintah untuk Mempercepat Pembangunan Huntara
Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum RI, Dody Hanggodo menyatakan pemerintah akan mempercepat penyelesaian huntara bagi warga terdampak di Aceh Tamiang.
“Ada empat titik lagi yang diminta untuk kita kerjakan di Tamiang. Insyaallah kita kejar supaya para pengungsi bisa segera menempati huntara,” kata Dody saat sahur bersama warga di Huntara 2 Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Rabu (25/2/2026).
Secara nasional, Kementerian PU mencatat telah membangun sedikitnya 102 blok hunian sementara di berbagai daerah terdampak bencana, dan jumlah tersebut terus bertambah mengikuti usulan pemerintah daerah melalui BNPB.
Namun bagi sebagian korban di Aceh Tamiang, termasuk Ponirah, janji pembangunan itu masih menjadi harapan yang belum terwujud, sementara hari-hari mereka tetap berlalu di bawah tenda darurat.
Harapan Warga Terdampak
Warga terdampak berharap agar pemerintah dapat segera menyelesaikan pembangunan huntara dan huntap. Mereka juga meminta transparansi dan kejelasan dalam proses pendataan serta distribusi bantuan. Selain itu, kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan, dan perlindungan kesehatan juga masih menjadi prioritas utama.
Beberapa warga mengeluhkan kurangnya koordinasi antara pemerintah daerah dan lembaga bantuan, sehingga proses bantuan terkadang terlambat atau tidak tepat sasaran. Mereka berharap pemerintah dapat lebih proaktif dalam menangani situasi darurat dan memastikan kebutuhan warga terpenuhi secara merata.
Ponirah dan keluarganya tetap berharap bahwa suatu hari nanti, mereka dapat kembali tinggal di rumah yang layak. Namun hingga saat ini, mereka masih harus bertahan di bawah tenda darurat, menghadapi berbagai tantangan dan ketidakpastian.





