Korsel Buka Dialog dengan Korut, Ajak Perdamaian?

Aa1uc8bu 2
Aa1uc8bu 2

Pemerintah Korsel Berupaya Memperbaiki Hubungan dengan Korut

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) telah menunjukkan keinginan kuat untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara (Korut). Hal ini dilakukan karena hubungan antara kedua negara terus memanas belakangan ini. Untuk mencapai tujuan tersebut, Korsel akan mengajak Korut melakukan dialog agar dapat memperbaiki hubungan yang semakin tegang.

Presiden Korsel, Lee Jae Myung, dalam pidatinya di upacara peringatan 107 tahun Hari Gerakan Kemerdekaan Korsel di ibu kota Seoul, Minggu (1/3/2026), menyampaikan bahwa pihaknya menghormati sistem Korea Utara dan tidak akan terlibat dalam tindakan permusuhan apa pun. Ia juga menegaskan bahwa Korsel tidak akan mencoba reunifikasi melalui kekerasan. Selain itu, pihaknya akan terus berupaya untuk berdialog dengan Korut.

Korut Menolak Perbaikan Hubungan dengan Korsel

Permintaan Korsel untuk berdialog muncul sebagai tanggapan atas pernyataan Presiden Korut, Kim Jong Un, pada pekan lalu. Dalam pidatinya, Kim menyatakan bahwa Korut tidak ingin memperbaiki hubungan dengan Korsel. Bahkan, ia menyebut Korsel sebagai musuh utama Korut. Oleh karena itu, hubungan antara kedua negara tidak bisa diperbaiki lagi untuk alasan apa pun.

“Korea Utara sama sekali tidak punya urusan dengan Korea Selatan. Mereka adalah entitas yang paling bermusuhan (dengan Korea Utara). Oleh karena itu, kami akan secara permanen mengecualikan Korea Selatan dari kategori warga negara,” ujar Kim.

Korut Lebih Memilih Hubungan dengan Rusia dan China

Dalam pidatonya, Kim menjelaskan bahwa Korut lebih memilih menjalin hubungan dengan Rusia dan China daripada dengan Korsel. Alasannya adalah karena kedua negara tersebut mendukung seluruh program senjata nuklir yang dimiliki Korut. Oleh karena itu, Kim menegaskan bahwa Korut akan terus menganggap Korsel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS), sebagai musuh besar.

Menurut Kim, AS dan Korsel akan terus melakukan konfrontasi untuk menghentikan program nuklir Korut. “Masa depan hubungan AS-Korea Utara sepenuhnya bergantung pada sikap AS, baik itu untuk hidup berdampingan secara damai atau konfrontasi abadi. Kami siap untuk segalanya,” tegas Kim.

Sejarah Hubungan yang Tegang antara Korsel dan Korut

Hubungan antara Korsel dan Korut sebetulnya sudah memanas sejak dahulu. Hal ini disebabkan oleh sejarah panjang yang melatarbelakangi pendirian kedua negara. Setelah akhir Perang Dunia Ke-2, Semenanjung Korea terbagi menjadi dua wilayah: bagian selatan dikuasai pasukan Amerika Serikat, sedangkan bagian utara dikuasai pasukan Uni Soviet (sekarang Rusia).

Inilah yang membuat Semenanjung Korea terpisah menjadi dua negara, yakni Korsel dan Korut. Pada 1950, wilayah Korut yang dipimpin Kim Il Sung melakukan invasi militer ke wilayah Korsel. Serangan ini menjadi awal mula Perang Korea, yang merupakan perang saudara antara Korsel dan Korut. Dalam perang ini, Korsel dibantu oleh AS, sedangkan Korut dibantu oleh Uni Soviet dan China.

Perang Korea berakhir pada 1953 tanpa adanya perjanjian damai antara Korsel dan Korut. Inilah yang membuat hubungan antara kedua negara masih memanas hingga saat ini. Saat ini, konflik antara Korsel dan Korut juga diperparah oleh program senjata nuklir Korut dan upaya Korsel untuk melakukan reunifikasi.

Isu Terkini Mengenai Hubungan Korsel dan Korut

Beberapa isu terkini juga turut memperburuk hubungan antara Korsel dan Korut. Misalnya, adik Kim Jong Un mendapatkan promosi di Kongres Partai Buruh Korut, yang dianggap sebagai tanda kekuatan dinasti Kim. Selain itu, polisi Korsel melakukan penggeledahan di kantor intelijen terkait drone Korut. Sementara itu, Korsel juga mulai mengerahkan rudal monster Hyunmoo-5, yang dianggap sebagai upaya untuk mengimbangi Korut.

Pos terkait