bali.
, DENPASAR – Gubernur Wayan Koster secara resmi menutup pelaksanaan Bulan Bahasa Bali (BBB) VIII yang berlangsung sejak 1 Februari lalu, pada hari Sabtu kemarin (28/2/2026).
Koster menyentil beberapa desa/kelurahan dan desa adat yang tahun ini tidak melaksanakan BBB. Berdasarkan laporan Kepala Dinas Kebudayaan Ida Bagus Alit Suryana, dari total 1.500 desa adat, sebanyak 12 di antaranya tidak menggelar kegiatan BBB tahun ini.
Selain itu, tercatat pula 45 desa/kelurahan dan 3 SMA/SMK yang tidak menyelenggarakan BBB, sementara 16 SLB seluruhnya telah menjalankan kegiatan BBB.
“Nanti akan saya undang, ajak ngobrol, maunya apa. Saya salut dengan SLB, semestinya begitu. Tahun depan, harus guyub, jalankan pola seperti yang lain,” ujar Koster di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Bali.
Koster kembali menegaskan komitmennya dalam pelestarian Bahasa Bali yang terimplementasi dalam Pergub Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali. Menurutnya, regulasi ini merupakan penjabaran dari Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang tertuang dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun.
Salah satu unsur budaya yang menjadi perhatiannya adalah bahasa dan aksara Bali.
“Ini diwariskan leluhur sejak ribuan tahun, sebagai generasi penerus kita harus punya komitmen untuk melestarikan. Selama dunia ini ada, bahasa Bali harus tetap ada,” ujarnya.
Menurut dia, Bali bisa berbangga karena menjadi satu-satunya provinsi yang memiliki kegiatan khusus dalam memuliakan bahasa daerah.
Selain mengucapkan terima kasih, Koster juga berharap pelaksanaan BBB IX Tahun 2027 lebih kaya materi, kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, ia menugaskan Kepala Dinas Provinsi Bali untuk mengundang para pakar agar merumuskan kegiatan BBB agar tahun depan bisa lebih baik lagi.
“Ikuti perkembangan zaman dan selera anak muda, karena mereka yang akan menjadi pewaris,” ujarnya.
Koster mengusulkan agar panitia mempertimbangkan untuk memasukkan materi memadik (lamaran versi Bali) pada pelaksanaan BBB IX Tahun 2027. Ia juga memuji BBB VIII yang menurutnya sudah terselenggara dengan sangat baik.
“Dilaksanakan sebulan penuh dari tanggal 1 sampai dengan 28 Februari, beberapa kali saya menyaksikan kegiatan dan lomba,” kata Koster.
Salah satu yang sempat ia saksikan adalah kegiatan anak-anak SMA mengoperasikan keyboard aksara Bali. Ia patut berbangga karena hanya Bali yang punya keyboard aksara daerah. Oleh sebab itu, ia ingin keyboard Aksara Bali dibagikan kepada seluruh lembaga pendidikan mulai dari jenjang SD hingga SMA/SMK.
“Supaya paten. Ini keren dan top sekali,” ucapnya.
Selain pemanfaatan keyboard Aksara Bali, Gubernur Koster menyebut BBB sebagai wahana regenerasi dalam kemampuan nyurat Aksara Bali.
“Kegiatan nyurat Aksara Bali diikuti anak-anak mulai SD hingga Perguruan Tinggi. Saya lihat, mereka mahir menulis aksara menggunakan berbagai media mulai dari lontar, tembaga dan lainnya,” tuturnya.





