Kota Tua, Buku, dan Cinta

Aa1xhyg6
Aa1xhyg6

Ide yang Tercetus dari Seorang Kawan

Dari suatu tempat yang tak diketahui asalnya, muncul sebuah ide yang menarik perhatian seorang kawan sejawat. Ide itu adalah membuka lapak baca buku di Kota Lama, Semarang. Ide ini dengan cepat mendapat respon antusias dari teman-teman lain. Singkat cerita, malam sehari sebelum keberangkatan, kami mengunggah pamflet di Instagram sebagai tanda keseriusan rencana membuka lapak baca ini.

Kami sepakat untuk menyelenggarakan lapak baca pada sore hari tanggal 14 Februari 2026, bertepatan dengan Hari Valentine. Mungkin, lapak baca ini bisa menjadi hiburan bagi kami yang belum memiliki kekasih. Beberapa dari kami bahkan baru saja gagal mendapatkan pujaan hati.

Di malam yang dipenuhi gemerlap lampu yang menerangi seisi Kota Lama, kami mulai menggelar karpet pertama dan menata rapi pusaka ilmu pengetahuan (baca: buku) yang telah kami bawa. Meski saat itu hujan baru berhenti dan jalanan masih basah, lapak baca resmi dibuka. Kami merebut ruang kota.

Lapak baca ini digelar dengan buku dan alas seadanya. Kami hanya mahasiswa biasa meskipun ada satu pejabat kampus di antara kami.

Teguran dari Security

Kami memilih lokasi pertama yang tidak jauh dari taman Srigunting. Lokasi yang cocok karena tepat di pinggir kerumunan orang-orang. Meskipun, lapak kami kurang dapat pencahayaan yang cukup untuk membaca.

Waktu belum genap 20 menit, pengunjung pertama datang. Namun, bukan seorang pembaca, melainkan seorang security. Beberapa security perlahan berjalan ke arah kami. Kami semua sadar tapi memilih berpura-pura sibuk membaca buku. Benar saja, pak security menegur dan meminta kami pindah lokasi.

Setelah security itu selesai menegur, kami bergegas pindah ke lokasi kedua di gang di seberang gereja G.P.I.B. Immanuel. Sesaat semua kembali seperti semula, kami menghela napas lega.

Seorang perempuan muda berhijab berjalan melambat dan matanya terlihat fokus membaca satu per satu judul buku yang berjejer. Awalnya, kami mengira perempuan itu akan menjadi pengunjung pertama. Namun, ia tidak mampir. Mungkin karena kami laki-laki semua, pikir kami. Atau kondisi yang memang tidak cocok untuk introvert dan bau asap rokok.

Nomaden

Teguran security tadi membuat kami pindah. Tapi di spot kedua ini, kami harus bersiap pindah untuk kedua kalinya karena gerimis mulai turun rintik-rintik.

Napas yang baru saja terleha harus berpacu kembali karena gerimis semakin deras. Kami memilih lokasi ketiga, di sela kios-kios yang tutup. Kami bertahan di lokasi ketiga ini lumayan lama. Bagi kami tempat ini sepi sehingga kurang cocok. Tapi mau bagaimana lagi. Buku-buku sudah telanjur ditata.

Selang beberapa menit, kami didatangi lagi tapi bukan oleh security, melainkan ibu-ibu juru parkir. Ia bertanya apakah kami sedang berjualan atau tidak. Kebetulan kami menjejerkan buku persis di seberang tanda “dilarang berjualan di sini”. Tentu kami menjelaskan bahwa buku-buku ini tidak dijual dan gratis untuk dibaca. Setelah mengetahui maksud kami, juru parkir kembali ke pekerjaannya.

Pengunjung Pertama

Baru ada pembaca yang mengunjungi lapak baca saat kami berada di lokasi ketiga ini. Anak dari ibu juru parkir tadi datang dan bertanya pada kami dengan nada manis setengah malu, “ada buku apa aja?” tanyanya. Kami semua antusias melihat kedatangan anak kecil itu. Tapi, kami bingung menawarkan buku apa. Sebab, hampir semua buku yang kami bawa adalah buku sejarah dan novel yang tergolong serius dan berat. “Kasih buku Madilog aja”—celetukan ngawur. Untungnya, aku membawa tiga komik cerita spesial Doraemon.

Dipa menarik diriku ketika aku mau menemani anak kecil itu. Dia menyarankan sebaiknya aku dan dia duduk saja, dan biar Basith yang menemani anak juru parkir itu. Karena kami berdua gondrong dan takut kami berdua dikira penculik. Sialan!

Harapan untuk Tetap Lanjut

Tak terasa hujan telah reda. Kami memutuskan kembali lagi ke lokasi di seberang gereja. Setelah lama melapak, kami kedatangan pengunjung kedua dan terakhir. Seorang laki-laki berambut gondrong yang dikuncir, mungkin umur 30-an dan seorang perempuan berhijab yang ikut bersamanya. Awalnya, kami waspada pengunjung yang datang ini adalah seorang intel yang menyamar.

Namun, kewaspadaan kami segera lenyap. Rupanya, mereka penasaran dengan buku NII Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia karya Solahudin. Sesekali saja kami membuka obrolan agar tidak mengganggu membacanya sekaligus mencairkan suasana yang sepi.

Menjelang jam 10 malam, gerimis mulai turun lagi. Pengunjung terakhir pun berpamit pergi kepada kami. Juga tak lupa kami mengucapkan terima kasih. Bereslah kami dan bersiap pulang ke kos masing-masing.

Kami berharap ke depannya lapak baca ini terus berlanjut. Membangun komunitas literasi di tengah zaman distraksi.

Pos terkait