KPK Turun Tangan Atas Permintaan Mobil Mewah Gubernur Kaltim 8,5 Miliar

Atas Permintaan Kpk Ppatk Bekukan Rekening Gubernur Papua Lucas Enembe Lug 2
Atas Permintaan Kpk Ppatk Bekukan Rekening Gubernur Papua Lucas Enembe Lug 2

Penyelidikan KPK terhadap Pengadaan Mobil Dinas Gubernur Kaltim

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya turut menyoroti pengadaan mobil dinas seharga Rp8,5 miliar untuk Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud. Pengadaan kendaraan ini menjadi sorotan publik karena dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan pokok dan rawan korupsi.

Budi Prasetyo, Juru Bicara KPK, menyatakan bahwa lembaga antirasuah tersebut memantau perbincangan publik mengenai pengadaan kendaraan mewah untuk orang nomor satu di Pemprov Kaltim. Ia menekankan pentingnya perencanaan anggaran yang matang dan proses pengadaan yang transparan.

“Pengondisian, penyimpangan, mark-up harga, downgrade spek, itu semuanya harus secara betul-betul kita lihat, semua mekanisme itu apakah sudah dijalankan sebagaimana mestinya?” ujar Budi.

Lebih lanjut, Budi mengingatkan seluruh instansi agar berbelanja murni berdasarkan asas kebutuhan fungsional. “Termasuk juga soal kebutuhan, apakah barang dan jasa yang dibelanjakan atau pengadaannya harus betul-betul sesuai dengan kebutuhan,” tambahnya.

Penjelasan Gubernur Kaltim tentang Pengadaan Mobil Dinas

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud merespons kritik publik terkait pengadaan mobil dinas senilai Rp8,5 miliar tersebut. Menurutnya, mobil tersebut diperlukan untuk menjaga marwah Kalimantan Timur, mengingat posisi wilayahnya yang kini menjadi penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Rudy menyebut mobilitasnya tinggi dalam menyambut berbagai tamu penting, dan hingga saat ini ia mengaku masih menggunakan kendaraan pribadi untuk bertugas. “Berkaitan dengan mobil, sampai hari ini Pemprov Kaltim belum menyediakan kami mobil untuk di Kalimantan Timur, jadi tidak ada mobilnya. Mobil yang ada hari ini adalah mobil pribadi kami pergunakan,” ungkap Rudy.

Spesifikasi dan Harga Kendaraan

Terkait harga dan spesifikasi, Rudy menjelaskan bahwa pengadaan kendaraan dinas tersebut telah mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2006. Aturan tersebut mengatur batasan kapasitas mesin untuk kendaraan kepala daerah, yakni jenis sedan maksimal 3.000 cc dan jenis jeep maksimal 4.200 cc.

Selain itu, kendaraan yang direncanakan merupakan jenis hybrid. Opsi ini dipilih dengan mempertimbangkan kondisi infrastruktur pengisian daya listrik di Kalimantan Timur yang belum merata di semua wilayah.

“Kendaraan ini bisa listrik, bisa BBM. Fasilitas charging belum sepenuhnya siap, jadi dipilih yang bisa menyesuaikan kondisi daerah,” ujar Sudarno, anggota Tim Ahli Gubernur.

Tanggapan atas Kritik Publik

Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Bidang Komunikasi Politik dan Komunikasi Publik, Sudarno, memberikan jawaban atas kritik publik terhadap gaya busana istri Gubernur, Sarifah Suraidah. Menurut Sudarno, gaya busana Sarifah memang sudah seperti itu sejak sebelum suaminya menjadi gubernur.

“Itu sudah puluhan tahun seperti itu. Bukan pada saat jadi gubernur ini,” ujarnya. Sudarno juga menegaskan bahwa latar belakang keluarga tersebut memang sudah mapan sejak lama.

Penanganan Kritik dan Keputusan Pemerintah Daerah

Sudarno menyatakan bahwa pemerintah daerah terbuka terhadap kritik dari masyarakat. “Kami berterima kasih atas kritik. Itu vitamin bagi pemerintah,” ujarnya.

Hingga kini, kendaraan tersebut masih berada di Jakarta dan belum digunakan. Sudarno menyebut gubernur siap mengikuti arahan pemerintah pusat apabila pengadaan tersebut perlu ditinjau ulang atau dibatalkan.

“Pak Gubernur tunduk dan patuh pada kebijakan pemerintah pusat. Kalau mau dikembalikan, ditukar, atau dinolkan, silakan. Kita ikut mekanisme,” katanya.

Gaya Berpakaian Istri Gubernur Disorot

Sarifah Suraidah, istri Gubernur Kaltim, menjadi sorotan kerap terlihat memakai pakaian yang dianggap berlebihan untuk kegiatan sehari-hari. Ia selalu memakai baju warna-warni dengan model yang cukup heboh. Selain pakaian, aksesorisnya juga disorot.

Tak lupa Sarifah memberikan uang tunai untuk membantu si penjual sayur. Namun yang menjadi sorotan justru pakaian yang dikenakannya. Pakaian yang dikenakan Sarifah ini dibilang berlebihan. Ia mengenakan longdress mirip noni Belanda lengkap dengan topi putihnya.

Tuai kritik gara-gara gaya berpakaiannya yang cukup mencolok, Sarifah kini memberikan tanggapannya. Ia menanggapi keviralan ini melalui sebuah unggahan di Instagram story-nya. “Baju dan gayanya kok berlebihan??” tulis Sarifah mewakili komentar netizen.

Tanggapan Sarifah terhadap Kritik

Sarifah tidak ambil pusing dengan kritik yang datang. Ia memilih melakukan apa yang dia inginkan. “Hidup cuma sekali, hidup gak bisa diputar lagi. Lakukan apa yang mau dilakukan,” tulis Sarifah.

Terlebih ia hidup bukan untuk menyenangkan banyak orang. Ia pun memilih untuk menjadi diri sendiri. “Kita gak hidup buat untuk menyenangkan, jadilah diri sendiri,” lanjutnya.

Sarifah juga mengunggah cuplikan ceramah soal membalas perlakuan orang. Ia pun memilih memaafkan orang-orang yang sudah mengejeknya. “Maafkan semua orang, insya Allah,” tulisnya.




Pos terkait