Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif di Tangerang Selatan
Pengembangan ekosistem ekonomi kreatif menjadi salah satu fokus utama pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan memperkuat infrastruktur fisik dan digital, daerah ini berupaya merespons dinamika industri global yang semakin kompleks. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penyediaan fasilitas bagi para pelaku industri kreatif di wilayah tersebut.
Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menunjukkan komitmennya dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk 17 subsektor ekonomi kreatif, mulai dari aplikasi dan gim hingga kriya dan kuliner. Gedung ekonomi kreatif atau Creative Hub setinggi 8 lantai menjadi salah satu bukti nyata dari upaya ini. Creative Hub merupakan ruang yang dirancang untuk mempertemukan para pelaku kreatif dari berbagai bidang. Tujuannya adalah menyediakan wadah kolaborasi, inovasi, dan pengembangan bisnis di sektor kreatif, budaya, maupun teknologi.
“Creative Hub menjadi wadah pengembangan sektor ekonomi kreatif sekaligus membuka lapangan pekerjaan yang luas pada 17 subsektor kreatif. Ini adalah komitmen kami untuk memposisikan Tangsel sebagai pusat inovasi nasional,” ujar Kadis Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Tangsel, TB Asep Nurdin.
Sektor ekonomi kreatif di Tangsel menunjukkan potensi besar. Kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) cukup signifikan. Tercatat, sektor ini menyumbang sekitar 20 persen dari total PAD di Tangsel, dengan kontribusi nominal mencapai sekitar Rp300 miliar dari total PAD yang berada di angka kurang lebih Rp1,5 triliun.
Selain kontribusi fiskal, jumlah pelaku ekonomi kreatif di Tangsel juga menunjukkan tren positif. Pada tahun ini, jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di sektor tersebut mencapai sekitar 104.000 unit. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 90.000 UMKM.
TB Asep Nurdin menjelaskan bahwa mengingat keterbatasan sumber daya alam, fokus pembangunan dialihkan pada penguatan modal intelektual. Infrastruktur digital pun diperkuat agar seluruh pelaku kreatif memiliki akses setara ke pasar global. “Pak Wali Kota menginstruksikan agar transformasi digital tidak hanya berhenti pada penyediaan aplikasi, tetapi berdampak langsung pada peningkatan nilai ekonomi produk kreatif warga. Kami berupaya menjembatani kebutuhan pelaku usaha, termasuk mendorong fasilitasi sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI),” jelas Asep.
Integrasi layanan melalui sistem cerdas (Smart City) juga menjadi kunci dalam memangkas hambatan birokrasi bagi para kreator lokal. Dengan kemudahan administratif, pelaku usaha diharapkan dapat lebih fokus pada inovasi produk dan ekspansi pasar. Melalui sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam model Pentahelix, Pemkot Tangsel berupaya menghidupkan pusat-pusat kreatif yang memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan antar-komunitas.
Keberadaan kawasan seperti BSD Digital Hub turut memperkuat posisi Tangsel dalam peta ekonomi nasional. Pihaknya juga akan terus memperkuat infrastruktur pendukung seperti Free Wi-Fi di ruang publik dan aplikasi Tangsel Belajar agar akses informasi semakin inklusif.
“Kami menyediakan panggung digitalnya. Tugas kami adalah memastikan infrastruktur IT tidak hanya canggih, tapi juga fungsional bagi pelaku UMKM kreatif agar mereka bisa melakukan digital branding secara mandiri,” ungkapnya.
Meskipun sektor kuliner dan fesyen tetap menjadi penyumbang terbesar, dengan menyerap ribuan tenaga kerja terampil setiap tahun, Tangsel terus berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung kreativitas dan inovasi. “Kami ingin setiap anak muda di Tangsel tidak lagi bertanya ‘di mana saya harus melamar kerja?’, tapi ‘apa yang bisa saya ciptakan hari ini?’. Itulah esensi sejati dari kota kreatif,” tandasnya.





