Krisis Iran-AS-Israel Ancam Pasokan Minyak Global, Pemerintah Siap Antisipasi

5c76f210 872a 11ef 9d67 Ad008e023ea5.jpg 1
5c76f210 872a 11ef 9d67 Ad008e023ea5.jpg 1

Langkah Pemerintah dalam Menghadapi Ketidakstabilan Pasokan Minyak Global

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan minyak global akibat konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Menurutnya, konflik yang sedang berlangsung ini dapat memengaruhi stabilitas pasokan energi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Airlangga menyoroti bahwa Selat Hormuz dan Laut Merah menjadi jalur kritis bagi distribusi minyak global. Jika konflik terus berlanjut, maka kedua jalur tersebut bisa mengalami gangguan yang akan berdampak pada harga energi secara keseluruhan.

Diversifikasi Sumber Pasokan Energi

Untuk mengurangi ketergantungan pada wilayah yang terkena dampak konflik, pemerintah telah menjalin kerja sama dengan pemasok energi dari luar kawasan Timur Tengah. Salah satu contohnya adalah MoU yang telah dibuat oleh Pertamina dengan perusahaan-perusahaan besar seperti Chevron dan ExxonMobil di AS.

Selain itu, pemerintah juga sedang memantau peluang pasokan minyak dari Rusia atau negara lain yang mungkin bisa menjadi alternatif. Airlangga menyatakan bahwa pihaknya akan terus memantau ketersediaan pasokan dan kemungkinan impor dari sumber-sumber tersebut.

Dampak Kenaikan Harga Minyak terhadap Ekonomi Nasional

Airlangga mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak mentah global dapat berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Ia menegaskan bahwa hal ini mirip dengan situasi yang terjadi saat konflik Rusia-Ukraina berlangsung.

Namun, ia juga menyebutkan bahwa peningkatan pasokan minyak dari AS dan kapasitas produksi OPEC yang meningkat dapat membantu mengurangi tekanan terhadap harga BBM. Meskipun demikian, pemerintah tetap memantau dinamika pasar global untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Prediksi Kenaikan Harga Minyak dan Dampak Ekonomi

Bhima Yudhistira, pendiri sekaligus direktur eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), meyakini bahwa Indonesia akan terdampak secara ekonomi akibat konflik antara AS-Israel terhadap Iran. Ia memprediksi bahwa perang ini akan meningkatkan risiko resesi global dalam waktu dekat.

Menurut Bhima, kenaikan harga minyak mentah bisa mencapai 100-120 dolar AS per barrel. Hal ini akan berdampak pada kelangkaan pasokan minyak dan gas, serta memicu inflasi yang berpotensi mengganggu daya beli masyarakat.

Opsi Pemerintah dalam Menghadapi Kenaikan Harga BBM

Pemerintah memiliki dua opsi dalam menghadapi kenaikan harga minyak global: menaikkan harga BBM atau mempertahankannya tetap stabil. Namun, setiap opsi memiliki konsekuensi yang berbeda.

Jika harga BBM tidak naik, pemerintah harus menambah anggaran APBN hingga Rp515 triliun untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat. Sebaliknya, jika harga BBM naik, maka inflasi pangan akan meningkat, yang berdampak langsung pada kondisi ekonomi rakyat.

Bhima menyarankan agar pemerintah lebih fokus pada pengamanan ketahanan energi daripada program-program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Ia menilai bahwa anggaran yang dialokasikan untuk program tersebut sebaiknya dialihkan untuk menjaga harga energi, yang lebih mendesak dan urgen.

Kesimpulan

Dengan berbagai langkah antisipasi dan diversifikasi sumber pasokan energi, pemerintah berharap dapat menjaga stabilitas pasokan minyak dan mengurangi dampak gejolak geopolitik terhadap perekonomian domestik. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menghadapi kenaikan harga minyak dan inflasi yang bisa memengaruhi daya beli masyarakat.


Pos terkait