Konflik yang sedang berlangsung di kawasan Teluk memicu ketidakstabilan dalam perdagangan energi global. Perusahaan asuransi maritim mulai menghentikan perlindungan risiko perang bagi kapal yang beroperasi di wilayah tersebut, sementara tarif pengiriman minyak diperkirakan akan melonjak secara signifikan.
Menurut laporan Reuters pada Senin (2/3/2026), keputusan ini diambil setelah sejumlah kapal tanker mengalami kerusakan, satu pelaut tewas, dan sekitar 150 kapal terpaksa berhenti berlayar di sekitar Selat Hormuz. Iran melakukan serangan balasan terhadap AS dan Israel setelah kedua negara tersebut menyerang Iran pada Sabtu lalu. Eskalasi konflik dalam waktu 24 jam terakhir meningkatkan risiko bagi pelayaran komersial.
Data pelayaran menunjukkan bahwa sedikitnya 150 kapal, termasuk tanker minyak dan gas alam cair (LNG), menjatuhkan jangkar di perairan sekitar Selat Hormuz pada Minggu. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan energi global, dengan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melalui jalur ini dari negara-negara produsen seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Iran, dan Kuwait.
Selain minyak mentah, kapal tanker juga mengangkut diesel, avtur, bensin, dan produk energi lainnya. Gangguan ini langsung memicu lonjakan harga minyak global hingga sekitar 9% pada Senin.
Asuransi Risiko Perang Dicabut
Beberapa perusahaan asuransi maritim besar seperti Gard, Skuld, NorthStandard, London P&I Club, dan American Club mengumumkan pembatalan perlindungan risiko perang bagi kapal yang beroperasi di kawasan tersebut. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 5 Maret, sesuai pemberitahuan resmi yang dipublikasikan pada 1 Maret.
Perlindungan risiko perang akan dikecualikan untuk perairan Iran, kawasan Teluk, serta wilayah perairan di sekitarnya. Perusahaan asuransi Skuld menyatakan tengah mempertimbangkan opsi “buy-back” bagi pemilik kapal yang ingin kembali memperoleh perlindungan asuransi. Sementara itu, perusahaan Jepang MS&AD Insurance Group juga menyatakan menghentikan sementara penjaminan polis asuransi yang mencakup risiko perang di perairan sekitar Iran, Israel, dan negara-negara tetangganya.
Tarif Pengiriman Minyak Berpotensi Melonjak
Di sisi lain, biaya pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia diperkirakan akan meningkat lebih lanjut. Konflik yang meluas membuat banyak pemilik kapal enggan mengirim armadanya ke kawasan tersebut. Tarif pengiriman spot dari Timur Tengah ke Asia, yang dikenal sebagai rute TD3C, diprediksi terus naik. Sejak awal 2026, tarif ini telah melonjak hampir tiga kali lipat.
Menurut para broker kapal, tarif sewa kapal tanker raksasa (very large crude carrier/VLCC) untuk rute Timur Tengah ke China pada Senin pagi di Asia naik sekitar 4% dibandingkan Jumat, mendekati level W225 dalam ukuran industri Worldscale, atau setara dengan setidaknya US$12 juta.
Analis senior LSEG Emril Jamil mengatakan, tarif pengiriman sudah meningkat tajam bahkan sebelum serangan terbaru terjadi. “Tarif TD3C sudah meningkat secara eksponensial sebelum serangan, dan kemungkinan tetap tinggi karena negara-negara berlomba memenuhi kebutuhan energi mereka,” ujarnya.
Selain itu, pasar juga diperkirakan membutuhkan lebih banyak kapal untuk mengangkut minyak dari Amerika Serikat dan Afrika Barat melalui rute pelayaran yang lebih panjang. Kondisi ini berpotensi mendorong tarif pengiriman di jalur tersebut semakin tinggi.





