Krisis Selat Hormuz: Saham Logistik-Energi Siap Melonjak

Aa1xlahr 1
Aa1xlahr 1



JAKARTA — Beberapa perusahaan yang bergerak di sektor logistik energi dalam negeri dinilai memiliki posisi yang sangat menguntungkan akibat pengetatan pasokan minyak yang terjadi akibat meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Muhammad Wafi, Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia, menyampaikan bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran serius terhadap kelancaran distribusi minyak secara global. Ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang digunakan oleh sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, dapat mengubah peta logistik energi secara signifikan.

Jika Selat Hormuz dibatasi atau ditutup, jalur pengiriman minyak akan harus diubah. Kapal-kapal tanker akan menempuh rute yang lebih jauh dari biasanya, sehingga jarak dan waktu pelayaran meningkat secara drastis. Dengan kondisi tersebut, Muhammad Wafi memperkirakan tarif sewa kapal tanker raksasa jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) akan melonjak tajam dan berpotensi naik sangat cepat.

“Dalam situasi seperti ini, perusahaan logistik energi dalam negeri berpeluang menjadi pihak yang paling diuntungkan secara langsung,” ujarnya.

Hal ini disebabkan oleh karakter saham perusahaan-perusahaan tersebut yang sensitif terhadap sentimen atau memiliki beta tinggi. Tak hanya itu, kenaikannya juga berpotensi lebih besar dibandingkan rata-rata pasar ketika sektor ini menguat.

Menurut Muhammad Wafi, beberapa perusahaan pelayaran energi domestik yang dinilai berada di posisi strategis untuk menangkap peluang tersebut antara lain:

PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL)

PT Soechi Lines Tbk. (SOCI)

PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HUMI)

PT GTS Internasional Tbk. (GTSI)

Secara keseluruhan, Muhammad Wafi menilai investor perlu menerapkan strategi defensif dan selektif dalam menghadapi situasi ini.

Lebih lanjut, jika Selat Hormuz ditutup, harga minyak Brent tidak hanya naik perlahan, tetapi bisa melonjak tajam. Menurutnya, saham PT Elnusa Tbk. (ELSA) yang bergerak di jasa penunjang migas berpotensi menjadi penerima manfaat utama dari peningkatan aktivitas tersebut.

Pasalnya, dengan potensi harga minyak bertahan di atas US$90, PT Pertamina (persero) kemungkinan akan meningkatkan belanja modal (capex) untuk memaksimalkan produksi dalam negeri guna menekan impor.

Ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada akhir pekan lalu. Iran disebut tengah menyiapkan serangan balasan, sementara konflik perbatasan juga pecah antara Pakistan dan Afghanistan.

Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di dua kawasan sekaligus. Kondisi tersebut diperkirakan akan meningkatkan volatilitas pasar keuangan pada awal pekan ini, seiring pelaku pasar mulai memperhitungkan dampak konflik terhadap rantai pasok global dan stabilitas ekonomi.

Pos terkait