Kenaikan Harga BBM di Indonesia Akibat Konflik Timur Tengah
Praktisi migas Hadi Ismoyo menyatakan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri berpotensi mengalami kenaikan seiring dengan lonjakan harga minyak mentah akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Ia menilai keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan energi global dan memberikan tekanan pada struktur biaya energi nasional.
Hadi menjelaskan bahwa ketergantungan impor minyak Indonesia masih sangat besar, mencapai lebih dari 1 juta barel per hari. Gangguan pada jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia itu akan mendorong kenaikan harga minyak mentah dan berdampak pada harga BBM domestik.
“Walaupun kita beribu-ribu kilometer jauhnya dari Selat Hormuz, tentu ini sangat berdampak karena kita masih impor lebih dari 1 juta barel per hari,” ujar Dewan Penasihat IATMI periode 2025–2028 kepada
,
Senin (2/3/2026).
Menurut Hadi, kenaikan harga minyak mentah menempatkan pemerintah dan badan usaha pada posisi dilematis. Di satu sisi, biaya pengadaan energi meningkat. Di sisi lain, penyesuaian harga BBM harus mempertimbangkan daya beli masyarakat serta persetujuan pemerintah dan DPR.
Dalam jangka pendek, Indonesia akan menghadapi tekanan biaya impor yang lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat ruang fiskal menjadi terbatas, terutama ketika skema subsidi masih harus dijaga di tengah pemulihan ekonomi yang belum sepenuhnya kuat.
“Yang dihadapi Indonesia dalam waktu dekat adalah membeli crude dengan harga mahal, sementara menjualnya dengan skema subsidi,” ujarnya.
Hadi memperkirakan harga minyak dunia berpotensi naik ke kisaran 80–90 dolar AS per barel jika konflik berlangsung berkepanjangan dan gangguan pasokan berlanjut. Kenaikan tersebut secara proporsional dapat mendorong harga BBM dalam negeri naik sekitar 10–15 persen.
Ia menilai pemerintah memiliki dua opsi kebijakan, yakni menambah alokasi subsidi melalui penyesuaian anggaran atau memberi ruang penyesuaian harga agar beban tidak sepenuhnya ditanggung badan usaha. Keputusan tersebut perlu dibahas secara terbuka antara pemerintah dan DPR dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional serta kemampuan APBN.
“Hanya ada dua pilihan, memberikan ruang fiskal untuk menambah subsidi atau menaikkan harga BBM,” kata Hadi.
Ia juga mengingatkan, kenaikan harga BBM akan memicu efek berantai pada sektor transportasi, distribusi barang, tarif listrik, hingga harga kebutuhan pokok. Dampaknya berpotensi dirasakan langsung oleh masyarakat melalui peningkatan biaya hidup.
Langkah Jangka Panjang untuk Ketahanan Energi Nasional
Dalam jangka panjang, Hadi menekankan pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak terus terpapar gejolak global. Salah satu langkah strategis adalah mempercepat program konversi penggunaan energi dari minyak ke gas melalui pembangunan infrastruktur gas yang lebih masif.
Pengaruh Penutupan Selat Hormuz
Gangguan pelayaran di Selat Hormuz setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran mulai berdampak pada pasar energi dan distribusi barang global. Sejumlah kapal tanker dan kapal kontainer dilaporkan menghentikan perjalanan atau berbalik arah dari jalur strategis tersebut.
Media Iran menyebut perairan itu “praktis tertutup”, meski belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Teheran. Awak kapal mengaku menerima siaran radio yang memperingatkan pelayaran di wilayah tersebut tidak aman.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintas setiap hari. Gangguan pada jalur ini langsung memicu kekhawatiran pasar energi.
Produk perdagangan ritel menunjukkan harga minyak mentah West Texas Intermediate sempat melonjak lebih dari 8 persen pada Sabtu (28/2/2026) malam waktu London. Pasar kini menunggu pembukaan perdagangan awal pekan untuk melihat respons lebih luas.
Tak hanya minyak, kapal kontainer yang membawa barang konsumsi juga terdampak. Perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd AG dalam keterangan resminya menyatakan menghentikan sementara pelayaran melalui Hormuz. Sementara Nippon Yusen KK meminta armadanya menghindari jalur tersebut. Penumpukan kapal terlihat di kedua sisi selat. Beberapa pemilik kapal mempertimbangkan membatalkan kontrak dengan memanfaatkan klausul perang dalam perjanjian pelayaran.
Jika kondisi ini berlangsung lama, pasokan kapal di kawasan bisa menyusut dan tarif angkut melonjak. Kenaikan freight rate berpotensi merembet pada harga barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga produk rumah tangga. Sementara itu, tertahannya pengiriman LNG dari Qatar juga menambah tekanan di pasar energi global.





