Kritik Sutrisno: MPR Tak Lagi Menentukan Arah Negara

6 Rekomendasi Tempat Buka Puasa Area Thehok Jambi
6 Rekomendasi Tempat Buka Puasa Area Thehok Jambi

Momen dan Pandangan Try Sutrisno yang Masih Relevan

Wakil Presiden ke-6, Try Sutrisno, wafat pada Senin (2/3/2026) di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Meski demikian, pandangan dan kritik Try masih dipandang relevan hingga saat ini. Salah satu yang pernah berinteraksi langsung dengannya adalah Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini. Ia mengaku, setiap bertemu dengan Try selalu disambut dengan senyuman.

“Kalau kami bertemu, meskipun tidak saling bersahabat dekat, beliau menepuk-nepuk punggung saya seakan sudah kenal lama,” ujar Didik dalam keterangan tertulis, Senin.

Gestur menepuk-nepuk punggung itu, kata dia, sering terjadi di berbagai forum. Karena itu, Didik kerap memperhatikan gagasan-gagasan Try yang disampaikan di publik baik pada masa orde baru maupun reformasi. Salah satu pandangan Try yang diingatnya disampaikan dalam acara Pembinaan Ideologi Pancasila Dalam Rangka Peringatan 80 Tahun Membumikan Pancasila dan Peluncuran Pancasila Virtual Expo 2025 di Universitas Indonesia (UI) pada Juli 2025 lalu.

“Di momen itu, Try menyampaikan bahwa kehidupan bangsa Indonesia saat ini cenderung berkarakter liberal sehingga mengikis moral serta etika kehidupan sesuai Pancasila,” katanya.

Generasi Muda Dinilai Tak Lagi Mengenal Falsafah Dasar Bangsa

Didik menilai, generasi muda masa kini tak lagi mengenal falsafah dasar bangsanya. Pancasila telah memudar dan tak dijadikan dasar dalam UUD NRI 1945. Fakta itu, kata Didik, terlihat jelas dari inkonsistensi dan inkoherensi dengan pembukaan UUD 1945.

“Pak Try memandang pelaksanaan demokrasi sangat liberal bahkan lebih liberal dari sistem yang berlaku di Amerika Serikat,” katanya.

Amandemen UUD 1945 yang dilakukan secara mendadak tanpa kajian dan perenungan mendalam memiliki banyak kelemahan setelah lebih dari dua dekade terakhir. Try berharap ada evaluasi dan kaji ulang terhadap sistem ketatanegaraan yang mengacu pada UUD NRI 1945 hasil amandemen.

MPR Tak Lagi Berfungsi sebagai Lembaga Tertinggi Negara Pembuat GBHN

Poin lain yang dikritisi oleh Try Sutrisno, kata Didik, adalah hilangnya pilar musyawarah bangsa di dalam ketatanegaraan Indonesia. MPR kini tak lagi berfungsi sebagai lembaga tertinggi negara pembuat GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara). Dengan begitu, rakyat Indonesia tak lagi menjadi penentu arah kebijakan dan kehidupan negara Indonesia.

“Kini arah-arah politik dibuat oleh partai politik yang ritme kehidupannya hanya berjangka pendek untuk menang setiap lima tahun sekali. Saya berpandangan kritik negarawan senior ini perlu untuk direnungkan sebagai diskursus penting dalam kehidupan bernegara,” katanya.

Menurut dia, kini tidak ada lagi pemimpin negarawan dan pemikir seperti Bung Karno, Bung Hatta hingga Sjahrir.

“Yang ada adalah pemburu rente, pedagang yang bertransaksi jangka pendek atau anak ingusan yang dipaksa menjadi pemimpin dengan merusak pilar konstitusi,” katanya.

Dia mengatakan, Try mencermati perjalanan dan pelaksanaan reformasi. Dalam pandangannya, reformasi tak bisa lagi berdasarkan prinsip liberal yang tak sesuai dengan nilai-nilai dasar keIndonesiaan.

“Beliau menekankan reformasi seharusnya berakar pada diri bangsa Indonesia dan bukan sekadar perubahan yang terpengaruh oleh gelombang luar liberalisasi,” katanya.

Try Sutrisno Dimakamkan di TMP Kalibata

Sementara, usai disemayamkan di rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat, jenazah Try Sutrisno dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.

“Insyaallah setelah tadi dimandikan (dan) dikafankan, beliau akan dibawa ke kediaman di Jalan Purwakarta Nomor 6 untuk segera dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,” ujar anak Try Sutrisno, Taufik Dwi Cahyono, di RSPAD Gatot Subroto pada hari ini.

Pemakaman dilakukan usai waktu zuhur. Pemakaman di TMP merupakan bentuk penghormatan terhadap mendiang atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara.

Pos terkait